Hubungan kesepian, dukungan sosial, dan komunikasi suami istri pada istri rohaniwan

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Abstract

Kesepian istri rohaniwan merupakan pengalaman emosional yang nyata, tetapi kerap tersembunyi. Meskipun hidup di tengah komunitas gereja, banyak dari mereka yang merasa terisolasi karena kebutuhan emosional yang sering terabaikan karena tuntutan pelayanan dan ekspektasi jemaat. Beberapa penelitian, di antaranya Linda Hileman, Janelle Warner, dan John Carter, menunjukkan bahwa tekanan peran dan kesibukan suami dalam pelayanan menyebabkan jarak emosional dalam pernikahan. Kesepian yang dialami tidak semata disebabkan karena kurangnya kebersamaan secara fisik, tetapi oleh rendahnya kualitas relasi dan komunikasi. Selain itu, banyak istri rohaniwan menghadapi minimnya dukungan sosial karena standar ideal yang dibebankan jemaat sehingga mereka merasa tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Ketika dukungan dari pasangan berkurang karena aktivitas, dukungan sosial dari lingkungan sosial menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Komunikasi yang terbuka dan jujur antara suami istri berfungsi sebagai sarana utama dalam menghadirkan dukungan emosional. Namun, ketika komunikasi melemah dan dukungan sosial tidak didapatkan, kesepian dapat menjadi pergumulan yang nyata. Secara teologis, kesepian mencerminkan kerusakan relasi antar manusia yang seharusnya mencerminkan Imago Dei. Manusia diciptakan serupa dengan Allah Tritunggal yang menjadi dasar keberadaan manusia sebagai makhluk relasional. Penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama, yaitu apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian, serta antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk memahami hubungan dari tiga variabel tersebut. Penelitian ini didasarkan pada dua hipotesis utama, yaitu (1) terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan, serta (2) terdapat hubungan antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan komunikasi suami istri dengan kesepian pada istri rohaniwan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada istri rohaniwan yang suaminya melayani penuh waktu di gereja. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu berikut ini: Responden merupakan istri rohaniwan penuh waktu di gereja, telah menikah lebih dari lima tahun, dan berusia maksimal 55 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial, Primary Communication Inventory (PCI) untuk mengukur kualitas komunikasi suami istri, dan UCLA Loneliness Scale versi 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan statistik korelasi untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan (r = -0,703; p , 0,01). Artinya makin tinggi dukungan sosial yang diterima, akan makin rendah tingkat kesepian yang dialami. Selain itu, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi suami istri dan kesepian (r = -0,419; p , 0,01), yang menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dalam pernikahan turut berperan dalam menurunkan kesepian. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan sosial dan kualitas komunikasi suami istri memiliki hubungan yang signifikan dengan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan gereja, yaitu pentingnya menunjukkan kepekaan terhadap kesejahteraan emosional keluarga rohaniwan, khususnya para istri. Upaya preventif dan kuratif perlu dilakukan sehingga para rohaniwan dapat berperan efektif dan keluarganya juga ada dalam kesejahteraan yang baik. Rohaniwan dan pasangannya juga perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang terbuka dan sehat dalam pernikahan. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas subjek penelitian, misalnya kepada rohaniwan itu sendiri, atau membedakan antara istri yang melayani bersama suami di gereja, dan yang tidak. Selain itu, pendekatan kualitatif atau mixed methods dapat digunakan untuk menggali pengalaman yang lebih mendalam dan mengurangi bias sosial. Loneliness among clergy wives is a real, yet often hidden, emotional experience. Despite living within a church community, many feel isolated because their emotional needs are often neglected due to the demands of ministry and congregational expectations. Several studies, including those by Linda Hileman, Janelle Warner, and John Carter, show that the pressures of husbands' roles and busy ministry activities lead to emotional distance in marriage. The loneliness experienced is not solely caused by a lack of physical togetherness, but also by poor relationships and communication. Furthermore, many clergy wives face a lack of social support due to ideals imposed by their congregations, leaving them feeling like they don't have a safe space to express their feelings. When support from their spouse diminishes due to their activities, social support from their social circle becomes a pressing need. Open and honest communication between husband and wife serves as a primary means of providing emotional support. However, when communication weakens and social support is lacking, loneliness can become a real struggle. Theologically, loneliness reflects a breakdown in human relationships, which should reflect the Imago Dei. Humans were created in the image of the Triune God, which is the foundation of our existence as relational beings. This study seeks to answer two main questions: whether there is a relationship between social support and loneliness, and between marital communication and loneliness in clergy wives. These questions are intended to understand the relationship between these three variables. This study is based on two main hypotheses: (1) there is a relationship between social support and loneliness in clergy wives, and (2) there is a relationship between marital communication and loneliness in clergy wives. This study used a quantitative approach with a correlational design to analyze the relationship between social support and marital communication and loneliness in clergy wives. Data were collected through questionnaires distributed to clergy wives whose husbands serve full-time in the church. Participants were selected using a purposive sampling technique, namely sampling based on the following specific criteria: Respondents were full-time clergy wives in the church, had been married for more than five years, and were a maximum of 55 years old. The instruments used in this study were the Social Provisions Scale (SPS) to measure social support, the Primary Communication Inventory (PCI) to measure the quality of marital communication, and the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure levels of loneliness. Data analysis was conducted using correlation statistics to test the relationship between variables. The analysis results showed a highly significant negative relationship between social support and loneliness in clergy wives (r = -0.703; p < 0.01). This means that the higher the social support received, the lower the level of loneliness experienced. In addition, there was a significant negative relationship between marital communication and loneliness (r = -0.419; p < 0.01), indicating that good communication in marriage plays a role in reducing loneliness. The findings of this study confirm that social support and the quality of marital communication have a significant relationship with loneliness in clergy wives. This study has practical implications for various parties involved in church ministry, namely the importance of showing sensitivity to the emotional well-being of clergy families, especially wives. Preventive and curative efforts need to be carried out so that clergy can play an effective role and their families are also in good welfare. Clergy and their partners also need to raise awareness of the importance of open and healthy communication in marriage. Future research is recommended to expand the research subjects, for example to clergy themselves, or distinguish between wives who serve alongside their husbands in the church, and those who do not. In addition, qualitative or mixed methods approaches can be used to explore deeper experiences and reduce social bias. (Translated by Google Translator)

Description

Citation

Utami, Salome Dyah. Hubungan Kesepian, Dukungan Sosial, dan Komunikasi Suami Istri pada Istri Rohaniwan. Tesis, Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By