STT SAAT Institutional Repository

Selamat datang!

Perpustakaan Prothumia menyambut Anda di Repositori Institusi STT SAAT. Repositori ini menyediakan akses kepada hasil riset, karya kreatif dan publikasi dengan mengumpulkan, melestarikan dan membagikan koleksi digital yang dihasilkan oleh dosen, staf dan lulusan STT SAAT. Kami mengharapkan layanan repositori ini memperluas penyebaran hasil karya sivitas STT SAAT.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 4 of 4

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Proyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025-01) Damayanti, Tarisa Putri; Santoso, Sylvia Iman
    Proyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember dirancang sebagai sarana pembentukan rohani, pewarisan iman, dan peningkatan relasi antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan melaksanakan ibadah yang melibatkan berbagai kelompok usia dalam satu kesatuan liturgi, menggunakan metode studi pustaka, survei konteks jemaat, dan analisis repertoar musik gereja. Pelaksanaan ibadah mencakup elemen kreatif seperti drama, paduan suara lintas generasi, dan lagu-lagu yang relevan dengan tema “Keluarga yang Dipulihkan Allah.” Evaluasi menunjukkan bahwa ibadah ini berhasil meningkatkan kesadaran jemaat akan pentingnya relasi keluarga yang dipulihkan oleh Allah, sekaligus menciptakan suasana inklusif yang mendukung keterlibatan aktif semua generasi. Kekuatan proyek ini terletak pada desain liturgi yang berbasis pada nilai-nilai Alkitab dan konteks lokal jemaat GKI Jember, sementara tantangannya melibatkan keterbatasan waktu persiapan dan koordinasi antar generasi. Saran bagi GKI Jember meliputi pembentukan tim intergenerasi yang tetap, pengembangan spiritualitas keluarga melalui pembinaan pasca-ibadah, serta evaluasi jangka panjang untuk memantau dampak ibadah terhadap kehidupan jemaat. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung visi dan misi gereja untuk menjadi komunitas yang berakar dalam firman Tuhan dan berbuah dalam karya nyata. Melalui ibadah intergenerasi, jemaat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di tengah dunia. The intergenerational worship project for Family Month at GKI Jember was designed as a means of spiritual formation, faith transmission, and intergenerational relationships. This study aimed to design and implement a worship service involving various age groups within a single liturgical unit, using literature studies, a survey of the congregation's context, and an analysis of the church's music repertoire. The service included creative elements such as drama, an intergenerational choir, and songs relevant to the theme "Family Restored by God." Evaluation showed that this service successfully raised the congregation's awareness of the importance of family relationships restored by God, while creating an inclusive atmosphere that supported the active involvement of all generations. The strength of this project lies in the liturgical design, which is based on biblical values ​​and the local context of the GKI Jember congregation. While challenges included limited preparation time and intergenerational coordination. Recommendations for GKI Jember include the formation of a permanent intergenerational team, the development of family spirituality through post-service guidance, and long-term evaluation to monitor the impact of the service on the congregation's lives. This research makes a significant contribution to supporting the church's vision and mission to be a community rooted in God's Word and bearing fruit in concrete works. Through intergenerational worship, the congregation is invited to not only be hearers of the word, but also doers of the word in their daily lives as witnesses of Christ in the world. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Musik sebagai sarana bagi umat Allah dalam mengekspresikan sukacita dan ucapan syukur
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Herdany, Liliana Saputri; Tedjawidjaja, Samuel Kristiawan; Alinurdin, David
    Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan musik tidak pernah terlepas dari manusia terkhususnya umat Allah. Di dalam berbagai tempat dan kondisi, umat Allah menggunakan musik untuk memuji Allah. Penggunaan musik seharusnya juga menjadi sebuah sarana bagi umat Allah untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata yakni, sukacita dan ucapan syukur. Namun, tidak dapat dipungkiri ada begitu banyak cara untuk menyampaikan musik. Untuk itu, penulis melihat kembali ke dalam Alkitab sebagai dasar bagaimana umat Allah menggunakan musik sebagai sarana ekspresi. Sebuah proyek resital juga dilakukan untuk menunjukkan bagaimana karya-karya musik dapat menunjukkan ekspresi sukacita dan ucapan syukur. Penelitian ini bertujuan menunjukkan penggunaan musik bagi umat Allah dalam Alkitab untuk mengekspresikan sukacita dengan ucapan syukur atas anugerah Allah. Untuk mencapai hal tersebut, penulis melakukan studi pustaka untuk menemukan penggunaan musik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Metode eksposisi teks Alkitab digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan musik dalam Mazmur 98. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa sukacita tidak hanya diekspresikan dengan musik yang dinyanyikan, tetapi juga musik yang dimainkan. Oleh karena itu, penulis juga menganalisis karya-karya yang ditampilkan dalam proyek resital untuk menunjukkan hubungannya dengan tema sukacita. Pada akhirnya, dari umpan balik yang diberikan oleh audiens, penulis akan memberikan kesimpulan apakah musik dapat menjadi sebuah sarana yang tepat bagi umat Allah untuk mengekspresikan sukacita dan ucapan syukur. In everyday life, the use of music is inseparable from humans, especially God's people. In various places and situations, God's people use music to praise God. The use of music should also be a means for God's people to express something that cannot be expressed in words: joy and gratitude. However, it cannot be denied that there are countless ways to convey music. Therefore, the author looks back to the Bible as a basis for how God's people use music as a means of expression. A recital project was also conducted to demonstrate how musical works can convey expressions of joy and gratitude. This study aims to demonstrate the use of music by God's people in the Bible to express joy through gratitude for God's gifts. To achieve this, the author conducted a literature review to identify the use of music in the Old and New Testaments. The biblical exposition method was used to describe the use of music in Psalm 98. Furthermore, this study aims to demonstrate that joy is expressed not only through sung music but also through music played. Therefore, the author also analyzed the works performed in the recital project to demonstrate their relationship to the theme of joy. Ultimately, from the feedback given by the audience, the author will draw a conclusion as to whether music can be an appropriate medium for God's people to express joy and gratitude. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Perjumpaan dengan Allah sebagai titik balik perjalanan iman orang percaya
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Amiman, Angelica; Alinurdin, David
    Dasar dari iman Kristen adalah kepercayaan terhadap Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Meski kelihatan sederhana, perjalanan menjadi orang percaya tidak serta-merta disebut mudah. Orang-orang Kristen yang percaya dengan sungguh kepada Kristus pun tidak luput dari tantangan iman yang terus berdatangan hari demi hari. Tantangan-tantangan yang dihadapi tidak jarang membuat orang percaya menjadi goyah dalam imannya sehingga timbul rasa ragu dan sulit untuk percaya kepada Allah. Meski hal ini terkesan negatif, penulis meyakini bahwa ini adalah salah satu fase yang wajar untuk dilalui setiap orang percaya dalam perjalanan imannya. Penulis juga melihat bahwa fase ini berperan sebagai sebuah titik balik yang signifikan dalam perjalanan iman orang percaya. Topik inilah yang kemudian diangkat penulis ke dalam resital bertajuk “Mellifluous Cadence.” Pertanyaan yang akan digali dalam tulisan ini adalah “Apa kunci dari terjadinya titik balik dalam dinamika perjalanan iman orang percaya?” Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menggunakan metode studi literatur untuk menjabarkan bagaimana Allah terlibat dalam titik balik yang dimaksud. Di samping melakukan penjabaran yang eksplisit melalui tulisan ini, penulis juga melakukan penjabaran secara implisit melalui resital yang dilaksanakan. Dengan demikian, penulis juga menggunakan metode deskriptif untuk menjabarkan penerapan dari topik yang digali ke dalam resital yang dilaksanakan. Bertolak dari Lukas 24:13–35 serta dukungan dari pemaparan Kenneth Stokes tentang teori milik John Westerhoff dan James Fowler, penulis mendapati bahwa kunci dari titik balik orang percaya dalam perjalanan imannya adalah perjumpaan dengan Allah. Dalam segala peristiwa yang terjadi, entah baik ataupun buruk, Allah hadir dan menyatakan kehendak-Nya bahkan diri-Nya sendiri kepada orang percaya. Allah dapat hadir melalui cara yang berbeda bagi masing-masing orang percaya dalam perjalanan imannya. Namun satu hal yang pasti adalah Allah senantiasa hadir dan menjumpai orang percaya untuk menyatakan diri dan kehendak-Nya melalui peristiwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan orang percaya. The foundation of Christian faith is belief in Jesus Christ as Lord and Savior. Although seemingly simple, the journey to becoming a believer is not necessarily easy. Even Christians who truly believe in Christ are not immune to challenges that arise daily. These challenges often cause believers to waver in their faith, leading to doubts and difficulties in trusting God. While this may seem negative, the author believes that this is a normal phase that every believer goes through in their faith journey. The author also sees this phase as a significant turning point in a believer's faith journey. This topic was then addressed in a recital entitled "Mellifluous Cadence." The question explored in this paper is, "What is the key to a turning point in the dynamics of a believer's faith journey?" In answering this question, the author will use a literature study method to describe how God is involved in this turning point. In addition to providing an explicit explanation in this paper, the author also provides an implicit explanation in the recital. Thus, the author also uses a descriptive method to explain the application of the topics explored in the recital. Based on Luke 24:13–35 and supported by Kenneth Stokes's explanation of the theories of John Westerhoff and James Fowler, the author finds that the key to a believer's turning point in their faith journey is an encounter with God. In every event, whether good or bad, God is present and reveals His will and even Himself to believers. God may be present in different ways for each believer on their faith journey. However, one thing is certain: God is always present and meets with believers to reveal Himself and His will through every event that occurs in their lives. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Tinjauan terhadap konsep keselamatan Ortodoks Timur dari perspektif John Calvin
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Swily, Yonathan; Lie, Ing Sian
    Meskipun keduanya merupakan agama Kristen, konsep keselamatan dalam tradisi Ortodoks Timur memiliki perbedaan yang signifikan dengan konsep keselamatan menurut ajaran Calvin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep keselamatan menurut tradisi Ortodoks Timur berdasarkan perspektif soteriologi John Calvin. Menurut Ortodoks Timur, dosa telah mengakibatkan manusia terpisah dari Allah, dan keselamatan dapat dicapai melalui partisipasi seseorang dalam konsep teosis, yaitu penyatuan manusia dengan Allah. Namun, Calvin menekankan bahwa dosa bukan hanya memisahkan manusia dengan Allah, melainkan juga membuat manusia sepenuhnya tidak mampu berbuat baik sehingga keselamatan hanya dapat diperoleh melalui anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Kristus, tanpa kontribusi apa pun dari manusia. Selain itu, Ortodoks Timur sangat menekankan peran gereja dan sakramen sebagai sarana untuk memperoleh dan mempertahankan keselamatan. Hal tersebut berbeda dengan pandangan Calvin yang menekankan iman sebagai dasar keselamatan, di mana gereja dan sakramen disediakan Allah untuk meneguhkan iman. Kedua pandangan tersebut menawarkan pemahaman yang berbeda tentang peran gereja, kehendak manusia, dan anugerah Allah dalam keselamatan. Dalam konteks ini, konsep keselamatan Calvin memberikan jaminan keselamatan yang lebih kokoh dan tidak bergantung pada usaha manusia.
  • Item type:Item,
    Tinjauan kritis terhadap doktrin Alkitab Karl Barth dari perspektif teologi reformed
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Roleh, Rossita Esther; Lie, Ing Sian
    Karl Barth adalah salah satu teolog paling berpengaruh di abad kedua puluh. Pemikirannya yang mendalam dan orisinal telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk diskusi teologis pada masanya. Meskipun satu abad telah berlalu sejak kehadirannya, gagasan-gagasannya tetap menjadi referensi utama dan terus mengundang interaksi dari para teolog. Melihat pengaruh yang ditimbulkan Barth dalam diskursus teologis hingga masa kini, penelitian ini hadir untuk mengeksplorasi dan menganalisis pemikirannya, dengan fokus utama pada doktrin Alkitab yang dirumuskannya. Apakah Barth menerima bahwa Alkitab adalah firman Allah dalam pengertian identik dengan firman Allah atau Alkitab tidak identik dengan firman Allah? Bagaimana pandangan Barth tentang inspirasi, ineransi, dan otoritas Alkitab? Apakah pandangan Barth bertentangan dengan doktrin Alkitab yang ortodoks? Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dan pendekatan studi literatur, penelitian ini akan mengkaji pandangan Barth secara mendalam dan meninjaunya secara kritis dari perspektif teologi Reformed. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa doktrin Alkitab Barth—khususnya doktrin Alkitab sebagai firman Allah, inspirasi, ineransi dan otoritasnya—bertentangan dengan prinsip-prinsip utama doktrin Alkitab menurut teologi Reformed. Bagi Barth, Alkitab adalah kesaksian dari firman Allah dan tidak identik dengan firman Allah. Meski ia tidak menolak konsep inspirasi Alkitab, pemahamannya mengenai inspirasi berbeda secara mendasar dari perspektif Reformed. Ineransi Alkitab yang menjadi keyakinan teologi Reformed ditolak oleh Barth, karena ia menganggap Alkitab bersifat fallible. Sementara dalam hal otoritas Alkitab, meskipun Barth dan teologi Reformed sama-sama mengakuinya, terdapat perbedaan yang signifikan dalam cara keduanya memahami aspek ini.