STT SAAT Institutional Repository

Selamat datang!

Perpustakaan Prothumia menyambut Anda di Repositori Institusi STT SAAT. Repositori ini menyediakan akses kepada hasil riset, karya kreatif dan publikasi dengan mengumpulkan, melestarikan dan membagikan koleksi digital yang dihasilkan oleh dosen, staf dan lulusan STT SAAT. Kami mengharapkan layanan repositori ini memperluas penyebaran hasil karya sivitas STT SAAT.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 4 of 4

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Pengalaman guru-guru SMA Kristen ‘X’ Semarang dalam melakukan integrasi iman dan pembelajaran
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2026-01) Sjamsuhadi, Samuel Bayu; Soeherman, Sylvia
    Fenomena sacred–secular Divide (SSD) telah memengaruhi praktik pendidikan Kristen, termasuk upaya sekolah dalam mengintegrasikan iman dengan pembelajaran akademis. Meskipun sekolah-sekolah Kristen berusaha memasukkan nilai rohani melalui kegiatan spiritual, implementasi integrasi iman dan pembelajaran masih sering bersifat sporadis, tidak sistematis, dan belum terhubung secara langsung dengan disiplin ilmu yang diajarkan. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman guru-guru SMA Kristen “X” Semarang dalam mengimplementasikan integrasi iman dan pembelajaran (IFL), termasuk pemahaman konsep, peran, tujuan, strategi, serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi praktik mereka. Partisipan adalah guru dari disiplin ilmu alam (natural science) dan sosial (social science) dengan pengalaman mengajar minimal lima tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif basic qualitative research dengan analisis data tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami IFL dalam dua bentuk: memasukkan elemen iman Kristen ke dalam pembelajaran dan menyatukan iman dengan disiplin akademis sebagai kesatuan yang integratif. Guru memandang diri mereka sebagai konseptor materi terintegrasi, pengarah proses integratif, serta teladan kehidupan Kristen bagi siswa. Tujuan IFL mencakup empat aspek: mengenal Allah melalui pembelajaran, membentuk karakter Kristen, membangun pola pikir Kristen, dan menumbuhkan pola hidup Kristen. Guru menerapkan berbagai strategi integrasi sebagaimana dikategorikan oleh Taylor, seperti analogous, narrative, exemplary, textual, thematic, dan valuative strategy. Faktor internal yang memengaruhi implementasi IFL mencakup latar belakang pendidikan, pemahaman teologi, kapabilitas, dan prioritas guru. Faktor eksternal meliputi sistem sekolah, tuntutan administrasi, pelatihan IFL, komunitas profesional, supervisi pimpinan, respons siswa, serta dukungan gereja dan keluarga. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan bagi guru melalui pelatihan dan pendampingan praktis untuk memperdalam pemahaman materi pelajaran, teologi, serta keterampilan menerapkan strategi IFL. Pendampingan dalam kelompok kecil dan supervisi pimpinan membantu guru mengatasi kesulitan teknis dan menumbuhkan refleksi berkelanjutan. Dukungan komunitas profesional dan lingkungan rohani turut memperkuat perkembangan praktik integrasi iman dan pembelajaran. The phenomenon of the sacred–secular divide (SSD) has impacted Christian educational practices, including schools' efforts to integrate faith with academic learning. Although Christian schools strive to incorporate spiritual values ​​through spiritual activities, the implementation of the integration of faith and learning is often sporadic, unsystematic, and not directly connected to the academic disciplines taught. This study aims to understand the experiences of teachers at Christian High School X Semarang in implementing the integration of faith and learning (IFL), including their understanding of the concept, roles, goals, strategies, and internal and external factors influencing their practice. Participants were teachers of the natural sciences and social sciences with at least five years of teaching experience. The study used a qualitative approach, basic qualitative research, with thematic data analysis. The results indicate that teachers understand IFL in two ways: incorporating elements of Christian faith into learning and uniting faith and academic disciplines as an integrative whole. Teachers view themselves as conceptualizers of the integrated material, directors of the integrative process, and role models of Christian living for students. The goals of IFL encompass four aspects: knowing God through learning, forming Christian character, developing a Christian mindset, and fostering a Christian lifestyle. Teachers employ various integration strategies as categorized by Taylor, such as analogous, narrative, exemplary, textual, thematic, and valuative strategies. Internal factors influencing IFL implementation include teacher educational background, theological understanding, capabilities, and priorities. External factors include the school system, administrative demands, IFL training, the professional community, leadership supervision, student responses, and church and family support. This research emphasizes the importance of supporting teachers through practical training and mentoring to deepen their understanding of subject matter, theology, and skills in implementing IFL strategies. Small-group mentoring and leadership supervision help teachers overcome technical difficulties and foster ongoing reflection. Support from the professional community and the spiritual environment also strengthen the development of faith-learning integration practices. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Hubungan kesepian, dukungan sosial, dan komunikasi suami istri pada istri rohaniwan
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2025-11) Utami, Salome Dyah; Sulistio, Thio Christian; Elia, Heman
    Kesepian istri rohaniwan merupakan pengalaman emosional yang nyata, tetapi kerap tersembunyi. Meskipun hidup di tengah komunitas gereja, banyak dari mereka yang merasa terisolasi karena kebutuhan emosional yang sering terabaikan karena tuntutan pelayanan dan ekspektasi jemaat. Beberapa penelitian, di antaranya Linda Hileman, Janelle Warner, dan John Carter, menunjukkan bahwa tekanan peran dan kesibukan suami dalam pelayanan menyebabkan jarak emosional dalam pernikahan. Kesepian yang dialami tidak semata disebabkan karena kurangnya kebersamaan secara fisik, tetapi oleh rendahnya kualitas relasi dan komunikasi. Selain itu, banyak istri rohaniwan menghadapi minimnya dukungan sosial karena standar ideal yang dibebankan jemaat sehingga mereka merasa tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Ketika dukungan dari pasangan berkurang karena aktivitas, dukungan sosial dari lingkungan sosial menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Komunikasi yang terbuka dan jujur antara suami istri berfungsi sebagai sarana utama dalam menghadirkan dukungan emosional. Namun, ketika komunikasi melemah dan dukungan sosial tidak didapatkan, kesepian dapat menjadi pergumulan yang nyata. Secara teologis, kesepian mencerminkan kerusakan relasi antar manusia yang seharusnya mencerminkan Imago Dei. Manusia diciptakan serupa dengan Allah Tritunggal yang menjadi dasar keberadaan manusia sebagai makhluk relasional. Penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama, yaitu apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian, serta antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk memahami hubungan dari tiga variabel tersebut. Penelitian ini didasarkan pada dua hipotesis utama, yaitu (1) terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan, serta (2) terdapat hubungan antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan komunikasi suami istri dengan kesepian pada istri rohaniwan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada istri rohaniwan yang suaminya melayani penuh waktu di gereja. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu berikut ini: Responden merupakan istri rohaniwan penuh waktu di gereja, telah menikah lebih dari lima tahun, dan berusia maksimal 55 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial, Primary Communication Inventory (PCI) untuk mengukur kualitas komunikasi suami istri, dan UCLA Loneliness Scale versi 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan statistik korelasi untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan (r = -0,703; p , 0,01). Artinya makin tinggi dukungan sosial yang diterima, akan makin rendah tingkat kesepian yang dialami. Selain itu, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi suami istri dan kesepian (r = -0,419; p , 0,01), yang menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dalam pernikahan turut berperan dalam menurunkan kesepian. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan sosial dan kualitas komunikasi suami istri memiliki hubungan yang signifikan dengan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan gereja, yaitu pentingnya menunjukkan kepekaan terhadap kesejahteraan emosional keluarga rohaniwan, khususnya para istri. Upaya preventif dan kuratif perlu dilakukan sehingga para rohaniwan dapat berperan efektif dan keluarganya juga ada dalam kesejahteraan yang baik. Rohaniwan dan pasangannya juga perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang terbuka dan sehat dalam pernikahan. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas subjek penelitian, misalnya kepada rohaniwan itu sendiri, atau membedakan antara istri yang melayani bersama suami di gereja, dan yang tidak. Selain itu, pendekatan kualitatif atau mixed methods dapat digunakan untuk menggali pengalaman yang lebih mendalam dan mengurangi bias sosial. Loneliness among clergy wives is a real, yet often hidden, emotional experience. Despite living within a church community, many feel isolated because their emotional needs are often neglected due to the demands of ministry and congregational expectations. Several studies, including those by Linda Hileman, Janelle Warner, and John Carter, show that the pressures of husbands' roles and busy ministry activities lead to emotional distance in marriage. The loneliness experienced is not solely caused by a lack of physical togetherness, but also by poor relationships and communication. Furthermore, many clergy wives face a lack of social support due to ideals imposed by their congregations, leaving them feeling like they don't have a safe space to express their feelings. When support from their spouse diminishes due to their activities, social support from their social circle becomes a pressing need. Open and honest communication between husband and wife serves as a primary means of providing emotional support. However, when communication weakens and social support is lacking, loneliness can become a real struggle. Theologically, loneliness reflects a breakdown in human relationships, which should reflect the Imago Dei. Humans were created in the image of the Triune God, which is the foundation of our existence as relational beings. This study seeks to answer two main questions: whether there is a relationship between social support and loneliness, and between marital communication and loneliness in clergy wives. These questions are intended to understand the relationship between these three variables. This study is based on two main hypotheses: (1) there is a relationship between social support and loneliness in clergy wives, and (2) there is a relationship between marital communication and loneliness in clergy wives. This study used a quantitative approach with a correlational design to analyze the relationship between social support and marital communication and loneliness in clergy wives. Data were collected through questionnaires distributed to clergy wives whose husbands serve full-time in the church. Participants were selected using a purposive sampling technique, namely sampling based on the following specific criteria: Respondents were full-time clergy wives in the church, had been married for more than five years, and were a maximum of 55 years old. The instruments used in this study were the Social Provisions Scale (SPS) to measure social support, the Primary Communication Inventory (PCI) to measure the quality of marital communication, and the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure levels of loneliness. Data analysis was conducted using correlation statistics to test the relationship between variables. The analysis results showed a highly significant negative relationship between social support and loneliness in clergy wives (r = -0.703; p < 0.01). This means that the higher the social support received, the lower the level of loneliness experienced. In addition, there was a significant negative relationship between marital communication and loneliness (r = -0.419; p < 0.01), indicating that good communication in marriage plays a role in reducing loneliness. The findings of this study confirm that social support and the quality of marital communication have a significant relationship with loneliness in clergy wives. This study has practical implications for various parties involved in church ministry, namely the importance of showing sensitivity to the emotional well-being of clergy families, especially wives. Preventive and curative efforts need to be carried out so that clergy can play an effective role and their families are also in good welfare. Clergy and their partners also need to raise awareness of the importance of open and healthy communication in marriage. Future research is recommended to expand the research subjects, for example to clergy themselves, or distinguish between wives who serve alongside their husbands in the church, and those who do not. In addition, qualitative or mixed methods approaches can be used to explore deeper experiences and reduce social bias. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan keluarga di gereja
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-10) Budianto, Yoel; Suhendra, Junianawaty
    Pemuridan keluarga merupakan mandat Tuhan (Ul. 6). Namun, beberapa gereja mengalami kesulitan untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Hal ini karena adanya beragam permasalahan yang dihadapi oleh gereja maupun keluarga-keluarga Kristen. Penulis mengamati bahwa ada sebuah fenomena, yakni para pemimpin mempunyai peran yang sangat penting dalam menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Data KOMPAK menunjukkan ada 37 gereja yang awalnya terlibat, tetapi hanya 10 gereja yang masih menggerakkan pemuridan keluarga sampai saat ini. Salah satu dari gereja-gereja tersebut yang masih menggerakkan pemuridan keluarga adalah GKI Layur. GKI Layur merupakan gereja yang paling lama bekerja sama dengan Yayasan Eunike. Selain itu, GKI Layur telah cukup lama menggerakkan pemuridan keluarga, mulai dari tahun 2013 sampai saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Penelitian ini didesain menggunakan metode kualitatif dasar. Sebelas pemimpin GKI Layur bersedia dan telah memenuhi syarat sebagai partisipan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah semi-structured interview dengan strategi open-ended questions. Setiap percakapan direkam dan dibuatkan transkrip verbatimnya, serta akan dianalisis dengan melakukan proses pengodean. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan tiga tema penting dari pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam menggerakkan pemuridan keluarga, yaitu ketaatan terhadap panggilan dan perintah Tuhan, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga, dan peran menghadapi tantangan. Pertama, ketaatan pada panggilan dan perintah Tuhan yang memengaruhi, menyadarkan dan menguatkan pemimpin gereja untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Ketaatan pemimpin gereja dalam melaksanakan panggilan dan perintah Tuhan merupakan kunci untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Kedua, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga merupakan faktor yang memengaruhi diri pemimpin gereja dalam proses melaksanakan pemuridan keluarga. Kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga harus dimiliki oleh para pemimpin gereja dalam menggerakkan pemuridan keluarga. Ketiga, menggerakkan pemuridan keluarga pasti menemui tantangan dan pemimpin gereja perlu mengambil peran menghadapi tantangan tersebut. Family discipleship is God's mandate (Deuteronomy 6). However, some churches struggle to foster family discipleship. This is due to various challenges faced by both churches and Christian families. The author observed a phenomenon: leaders play a crucial role in fostering family discipleship within the church. KOMPAK data shows that 37 churches were initially involved, but only 10 are still fostering family discipleship today. One of these churches that continues to foster family discipleship is GKI Layur. GKI Layur has been the church that has collaborated with the Eunike Foundation the longest. Furthermore, GKI Layur has been fostering family discipleship for a long time, starting in 2013. Therefore, this study aims to understand the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship within the church. This study was designed using basic qualitative methods. Eleven GKI Layur leaders agreed and met the requirements to participate. The data collection technique used was semi-structured interviews with open-ended questions. Each conversation was recorded and transcribed verbatim, and will be analyzed through coding. Based on the research results, three important themes emerged from the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship: obedience to God's calling and commands, awareness of the importance of family discipleship, and their role in facing challenges. First, obedience to God's calling and commands influences, awakens, and empowers church leaders to foster family discipleship. Church leaders' obedience in carrying out God's calling and commands is key to fostering family discipleship. Second, awareness of the importance of family discipleship is a factor that influences church leaders in the process of implementing family discipleship. Awareness of the importance of family discipleship is essential for church leaders in fostering family discipleship. Third, fostering family discipleship inevitably faces challenges, and church leaders need to take a role in addressing these challenges. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Analisis historis-teologis terhadap interaksi Yohanes dari Damaskus dengan Islam perdana: menuju konstruksi relasi Kristen-Muslim di Indonesia
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025-01) Silimbulang, Gregorius; Mamahit, Ferry Yefta
    Interaksi gereja dengan Islam Perdana (IP) sangat erat kaitannya dengan Yohanes dari Damaskus (YD), seorang tokoh yang memberikan kontribusi penting bagi diskursus teologis Kristen dalam merespons IP. Peranannya berdampak signifikan bagi Relasi Kristen-Muslim (RKM) baik pada masanya maupun era selanjutnya. Namun begitu, penggalian terhadap signifikansi Bapa Gereja terakhir ini kurang mengelaborasi khazanah teologinya yang bertaut konteks sosio-religius/politik zaman itu, maupun urgensi mengonstruksi RKM di dalam waktu dan tempat tertentu. Dengan mengasumsikan bahwa terdapat implikasi panjang dari interaksi YD-IP bagi masa kini, maka penulis menggali gambaran utuh terhadap interaksi kedua agama di era awal serta menelusuri bagaimana relasi itu memengaruhi dinamika RKM di Indonesia. Penulis menggunakan metodologi historis-teologis dan berargumen bahwa dinamika RKM di Indonesia memiliki pola sejarah sebagai bagian dari riwayat panjang interaksi kedua agama. Setiap periode yang diteliti memiliki kekhasannya yang secara umum dapat dimodelkan ke dalam empat karakter utama, yakni kecurigaan, kompetisi, konflik, dan kolaborasi. Gambaran situasi ini memerlukan rekonstruksi terhadap interaksi awal antara YD-IP. Argumen penulis adalah YD mengembangkan pendekatan dialogis di tengah situasi penuh tekanan sebagaimana termanifestasi melalui diskursus intelektual dan interaksi kontekstualnya di dalam lokus kehidupan monastisisme era Umayyah. Penelusuran hubungan RKM dari masa lalu dengan masa kini menegaskan urgensi membangun relasi yang lebih konstruktif. Karena itu, melalui pemaknaan terhadap interaksi YD-IP bagi konteks Indonesia, penulis mengusulkan tiga panduan bagi konstruksi RKM. Pertama, intensi polemis perlu dilampaui demi membangun pencarian pengertian yang menyuburkan relasi pada tataran pemikiran. Kedua, mengingat kuatnya warisan quid pro quo yang melanggengkan pendekatan struktural-politis dalam menyikapi kehadiran sang liyan, maka refleksi atas nilai kemanusiaan atau quid est homo dapat membangun jembatan persahabatan. Ketiga, tendensi persaingan dapat dilampaui dengan memaknai dimensi asketik dan altruis yang khas dalam konteks monastisisme melalui perspektif narasi pascatransfigurasi. Hal ini mendorong komitmen untuk hadir di ruang publik demi menyaksikan keindahan Injil dan mengejawantahkan kebaikan. The church's interaction with early Islam (IP) is closely linked to John of Damascus (YD), a figure who made significant contributions to Christian theological discourse in response to IP. His role significantly impacted Christian-Muslim relations (CSR) both during his time and in subsequent eras. However, explorations of the significance of this last Church Father have insufficiently elaborated his theological heritage linked to the socio-religious/political context of the time, nor the urgency of constructing CSR within a specific time and place. Assuming that the CSR-IP interaction has long-term implications for the present, the author explores a comprehensive picture of the interaction between the two religions in the early era and explores how that relationship influenced the dynamics of CSR in Indonesia. The author uses a historical-theological methodology and argues that the dynamics of CSR in Indonesia have a historical pattern as part of the long history of interaction between the two religions. Each period studied has its own characteristics that can generally be modeled into four main characteristics: suspicion, competition, conflict, and collaboration. This overview requires a reconstruction of the early interactions between CSR and IP. The author argues that YD developed a dialogical approach amidst stressful situations, as manifested through intellectual discourse and contextual interactions within the locus of Umayyad-era monastic life. Exploring the relationship between the RKM and the past and present underscores the urgency of building more constructive relationships. Therefore, through interpreting the YD-IP interaction in the Indonesian context, the author proposes three guidelines for constructing the RKM. First, polemical intentions need to be transcended in order to foster a search for understanding that fosters relationships at the intellectual level. Second, given the strong legacy of quid pro quo that perpetuates a structural-political approach to addressing the presence of the other, reflection on the value of humanity, or quid est homo, can build bridges of friendship. Third, competitive tendencies can be transcended by interpreting the ascetic and altruistic dimensions unique to monasticism through the perspective of post-transfiguration narratives. This fosters a commitment to public presence to witness the beauty of the Gospel and embody goodness. (Translated by Google Translator)
  • Item type:Item,
    Proyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember
    (Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025-01) Damayanti, Tarisa Putri; Santoso, Sylvia Iman
    Proyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember dirancang sebagai sarana pembentukan rohani, pewarisan iman, dan peningkatan relasi antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan melaksanakan ibadah yang melibatkan berbagai kelompok usia dalam satu kesatuan liturgi, menggunakan metode studi pustaka, survei konteks jemaat, dan analisis repertoar musik gereja. Pelaksanaan ibadah mencakup elemen kreatif seperti drama, paduan suara lintas generasi, dan lagu-lagu yang relevan dengan tema “Keluarga yang Dipulihkan Allah.” Evaluasi menunjukkan bahwa ibadah ini berhasil meningkatkan kesadaran jemaat akan pentingnya relasi keluarga yang dipulihkan oleh Allah, sekaligus menciptakan suasana inklusif yang mendukung keterlibatan aktif semua generasi. Kekuatan proyek ini terletak pada desain liturgi yang berbasis pada nilai-nilai Alkitab dan konteks lokal jemaat GKI Jember, sementara tantangannya melibatkan keterbatasan waktu persiapan dan koordinasi antar generasi. Saran bagi GKI Jember meliputi pembentukan tim intergenerasi yang tetap, pengembangan spiritualitas keluarga melalui pembinaan pasca-ibadah, serta evaluasi jangka panjang untuk memantau dampak ibadah terhadap kehidupan jemaat. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung visi dan misi gereja untuk menjadi komunitas yang berakar dalam firman Tuhan dan berbuah dalam karya nyata. Melalui ibadah intergenerasi, jemaat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di tengah dunia. The intergenerational worship project for Family Month at GKI Jember was designed as a means of spiritual formation, faith transmission, and intergenerational relationships. This study aimed to design and implement a worship service involving various age groups within a single liturgical unit, using literature studies, a survey of the congregation's context, and an analysis of the church's music repertoire. The service included creative elements such as drama, an intergenerational choir, and songs relevant to the theme "Family Restored by God." Evaluation showed that this service successfully raised the congregation's awareness of the importance of family relationships restored by God, while creating an inclusive atmosphere that supported the active involvement of all generations. The strength of this project lies in the liturgical design, which is based on biblical values ​​and the local context of the GKI Jember congregation. While challenges included limited preparation time and intergenerational coordination. Recommendations for GKI Jember include the formation of a permanent intergenerational team, the development of family spirituality through post-service guidance, and long-term evaluation to monitor the impact of the service on the congregation's lives. This research makes a significant contribution to supporting the church's vision and mission to be a community rooted in God's Word and bearing fruit in concrete works. Through intergenerational worship, the congregation is invited to not only be hearers of the word, but also doers of the word in their daily lives as witnesses of Christ in the world. (Translated by Google Translator)