STT SAAT Institutional Repository
Selamat datang!
Perpustakaan Prothumia menyambut Anda di Repositori Institusi STT SAAT. Repositori ini menyediakan akses kepada hasil riset, karya kreatif dan publikasi dengan mengumpulkan, melestarikan dan membagikan koleksi digital yang dihasilkan oleh dosen, staf dan lulusan STT SAAT. Kami mengharapkan layanan repositori ini memperluas penyebaran hasil karya sivitas STT SAAT.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Research and publications authored by Faculty members.
Recent Submissions
Item type:Item, Pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan pkluarga di gereja(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-10) Budianto, Yoel; Suhendra, JunianawatyPemuridan keluarga merupakan mandat Tuhan (Ul. 6). Namun, beberapa gereja mengalami kesulitan untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Hal ini karena adanya beragam permasalahan yang dihadapi oleh gereja maupun keluarga-keluarga Kristen. Penulis mengamati bahwa ada sebuah fenomena, yakni para pemimpin mempunyai peran yang sangat penting dalam menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Data KOMPAK menunjukkan ada 37 gereja yang awalnya terlibat, tetapi hanya 10 gereja yang masih menggerakkan pemuridan keluarga sampai saat ini. Salah satu dari gereja-gereja tersebut yang masih menggerakkan pemuridan keluarga adalah GKI Layur. GKI Layur merupakan gereja yang paling lama bekerja sama dengan Yayasan Eunike. Selain itu, GKI Layur telah cukup lama menggerakkan pemuridan keluarga, mulai dari tahun 2013 sampai saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Penelitian ini didesain menggunakan metode kualitatif dasar. Sebelas pemimpin GKI Layur bersedia dan telah memenuhi syarat sebagai partisipan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah semi-structured interview dengan strategi open-ended questions. Setiap percakapan direkam dan dibuatkan transkrip verbatimnya, serta akan dianalisis dengan melakukan proses pengodean. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan tiga tema penting dari pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam menggerakkan pemuridan keluarga, yaitu ketaatan terhadap panggilan dan perintah Tuhan, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga, dan peran menghadapi tantangan. Pertama, ketaatan pada panggilan dan perintah Tuhan yang memengaruhi, menyadarkan dan menguatkan pemimpin gereja untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Ketaatan pemimpin gereja dalam melaksanakan panggilan dan perintah Tuhan merupakan kunci untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Kedua, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga merupakan faktor yang memengaruhi diri pemimpin gereja dalam proses melaksanakan pemuridan keluarga. Kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga harus dimiliki oleh para pemimpin gereja dalam menggerakkan pemuridan keluarga. Ketiga, menggerakkan pemuridan keluarga pasti menemui tantangan dan pemimpin gereja perlu mengambil peran menghadapi tantangan tersebut. Family discipleship is God's mandate (Deuteronomy 6). However, some churches struggle to foster family discipleship. This is due to various challenges faced by both churches and Christian families. The author observed a phenomenon: leaders play a crucial role in fostering family discipleship within the church. KOMPAK data shows that 37 churches were initially involved, but only 10 are still fostering family discipleship today. One of these churches that continues to foster family discipleship is GKI Layur. GKI Layur has been the church that has collaborated with the Eunike Foundation the longest. Furthermore, GKI Layur has been fostering family discipleship for a long time, starting in 2013. Therefore, this study aims to understand the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship within the church. This study was designed using basic qualitative methods. Eleven GKI Layur leaders agreed and met the requirements to participate. The data collection technique used was semi-structured interviews with open-ended questions. Each conversation was recorded and transcribed verbatim, and will be analyzed through coding. Based on the research results, three important themes emerged from the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship: obedience to God's calling and commands, awareness of the importance of family discipleship, and their role in facing challenges. First, obedience to God's calling and commands influences, awakens, and empowers church leaders to foster family discipleship. Church leaders' obedience in carrying out God's calling and commands is key to fostering family discipleship. Second, awareness of the importance of family discipleship is a factor that influences church leaders in the process of implementing family discipleship. Awareness of the importance of family discipleship is essential for church leaders in fostering family discipleship. Third, fostering family discipleship inevitably faces challenges, and church leaders need to take a role in addressing these challenges. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Analisis historis-teologis terhadap interaksi Yohanes dari Damaskus dengan islam perdana: menuju konstruksi relasi kristen-muslim di Indonesia(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025-01) Silimbulang, Gregorius; Mamahit, Ferry YeftaInteraksi gereja dengan Islam Perdana (IP) sangat erat kaitannya dengan Yohanes dari Damaskus (YD), seorang tokoh yang memberikan kontribusi penting bagi diskursus teologis Kristen dalam merespons IP. Peranannya berdampak signifikan bagi Relasi Kristen-Muslim (RKM) baik pada masanya maupun era selanjutnya. Namun begitu, penggalian terhadap signifikansi Bapa Gereja terakhir ini kurang mengelaborasi khazanah teologinya yang bertaut konteks sosio-religius/politik zaman itu, maupun urgensi mengonstruksi RKM di dalam waktu dan tempat tertentu. Dengan mengasumsikan bahwa terdapat implikasi panjang dari interaksi YD-IP bagi masa kini, maka penulis menggali gambaran utuh terhadap interaksi kedua agama di era awal serta menelusuri bagaimana relasi itu memengaruhi dinamika RKM di Indonesia. Penulis menggunakan metodologi historis-teologis dan berargumen bahwa dinamika RKM di Indonesia memiliki pola sejarah sebagai bagian dari riwayat panjang interaksi kedua agama. Setiap periode yang diteliti memiliki kekhasannya yang secara umum dapat dimodelkan ke dalam empat karakter utama, yakni kecurigaan, kompetisi, konflik, dan kolaborasi. Gambaran situasi ini memerlukan rekonstruksi terhadap interaksi awal antara YD-IP. Argumen penulis adalah YD mengembangkan pendekatan dialogis di tengah situasi penuh tekanan sebagaimana termanifestasi melalui diskursus intelektual dan interaksi kontekstualnya di dalam lokus kehidupan monastisisme era Umayyah. Penelusuran hubungan RKM dari masa lalu dengan masa kini menegaskan urgensi membangun relasi yang lebih konstruktif. Karena itu, melalui pemaknaan terhadap interaksi YD-IP bagi konteks Indonesia, penulis mengusulkan tiga panduan bagi konstruksi RKM. Pertama, intensi polemis perlu dilampaui demi membangun pencarian pengertian yang menyuburkan relasi pada tataran pemikiran. Kedua, mengingat kuatnya warisan quid pro quo yang melanggengkan pendekatan struktural-politis dalam menyikapi kehadiran sang liyan, maka refleksi atas nilai kemanusiaan atau quid est homo dapat membangun jembatan persahabatan. Ketiga, tendensi persaingan dapat dilampaui dengan memaknai dimensi asketik dan altruis yang khas dalam konteks monastisisme melalui perspektif narasi pascatransfigurasi. Hal ini mendorong komitmen untuk hadir di ruang publik demi menyaksikan keindahan Injil dan mengejawantahkan kebaikan. The church's interaction with early Islam (IP) is closely linked to John of Damascus (YD), a figure who made significant contributions to Christian theological discourse in response to IP. His role significantly impacted Christian-Muslim relations (CSR) both during his time and in subsequent eras. However, explorations of the significance of this last Church Father have insufficiently elaborated his theological heritage linked to the socio-religious/political context of the time, nor the urgency of constructing CSR within a specific time and place. Assuming that the CSR-IP interaction has long-term implications for the present, the author explores a comprehensive picture of the interaction between the two religions in the early era and explores how that relationship influenced the dynamics of CSR in Indonesia. The author uses a historical-theological methodology and argues that the dynamics of CSR in Indonesia have a historical pattern as part of the long history of interaction between the two religions. Each period studied has its own characteristics that can generally be modeled into four main characteristics: suspicion, competition, conflict, and collaboration. This overview requires a reconstruction of the early interactions between CSR and IP. The author argues that YD developed a dialogical approach amidst stressful situations, as manifested through intellectual discourse and contextual interactions within the locus of Umayyad-era monastic life. Exploring the relationship between the RKM and the past and present underscores the urgency of building more constructive relationships. Therefore, through interpreting the YD-IP interaction in the Indonesian context, the author proposes three guidelines for constructing the RKM. First, polemical intentions need to be transcended in order to foster a search for understanding that fosters relationships at the intellectual level. Second, given the strong legacy of quid pro quo that perpetuates a structural-political approach to addressing the presence of the other, reflection on the value of humanity, or quid est homo, can build bridges of friendship. Third, competitive tendencies can be transcended by interpreting the ascetic and altruistic dimensions unique to monasticism through the perspective of post-transfiguration narratives. This fosters a commitment to public presence to witness the beauty of the Gospel and embody goodness. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Proyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2025-01) Damayanti, Tarisa Putri; Santoso, Sylvia ImanProyek ibadah intergenerasi dalam rangka bulan keluarga di GKI Jember dirancang sebagai sarana pembentukan rohani, pewarisan iman, dan peningkatan relasi antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan melaksanakan ibadah yang melibatkan berbagai kelompok usia dalam satu kesatuan liturgi, menggunakan metode studi pustaka, survei konteks jemaat, dan analisis repertoar musik gereja. Pelaksanaan ibadah mencakup elemen kreatif seperti drama, paduan suara lintas generasi, dan lagu-lagu yang relevan dengan tema “Keluarga yang Dipulihkan Allah.” Evaluasi menunjukkan bahwa ibadah ini berhasil meningkatkan kesadaran jemaat akan pentingnya relasi keluarga yang dipulihkan oleh Allah, sekaligus menciptakan suasana inklusif yang mendukung keterlibatan aktif semua generasi. Kekuatan proyek ini terletak pada desain liturgi yang berbasis pada nilai-nilai Alkitab dan konteks lokal jemaat GKI Jember, sementara tantangannya melibatkan keterbatasan waktu persiapan dan koordinasi antar generasi. Saran bagi GKI Jember meliputi pembentukan tim intergenerasi yang tetap, pengembangan spiritualitas keluarga melalui pembinaan pasca-ibadah, serta evaluasi jangka panjang untuk memantau dampak ibadah terhadap kehidupan jemaat. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung visi dan misi gereja untuk menjadi komunitas yang berakar dalam firman Tuhan dan berbuah dalam karya nyata. Melalui ibadah intergenerasi, jemaat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga pelaku firman dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di tengah dunia. The intergenerational worship project for Family Month at GKI Jember was designed as a means of spiritual formation, faith transmission, and intergenerational relationships. This study aimed to design and implement a worship service involving various age groups within a single liturgical unit, using literature studies, a survey of the congregation's context, and an analysis of the church's music repertoire. The service included creative elements such as drama, an intergenerational choir, and songs relevant to the theme "Family Restored by God." Evaluation showed that this service successfully raised the congregation's awareness of the importance of family relationships restored by God, while creating an inclusive atmosphere that supported the active involvement of all generations. The strength of this project lies in the liturgical design, which is based on biblical values and the local context of the GKI Jember congregation. While challenges included limited preparation time and intergenerational coordination. Recommendations for GKI Jember include the formation of a permanent intergenerational team, the development of family spirituality through post-service guidance, and long-term evaluation to monitor the impact of the service on the congregation's lives. This research makes a significant contribution to supporting the church's vision and mission to be a community rooted in God's Word and bearing fruit in concrete works. Through intergenerational worship, the congregation is invited to not only be hearers of the word, but also doers of the word in their daily lives as witnesses of Christ in the world. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Musik sebagai sarana bagi umat Allah dalam mengekspresikan sukacita dan ucapan syukur(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Herdany, Liliana Saputri; Tedjawidjaja, Samuel Kristiawan; Alinurdin, DavidDalam kehidupan sehari-hari, penggunaan musik tidak pernah terlepas dari manusia terkhususnya umat Allah. Di dalam berbagai tempat dan kondisi, umat Allah menggunakan musik untuk memuji Allah. Penggunaan musik seharusnya juga menjadi sebuah sarana bagi umat Allah untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata yakni, sukacita dan ucapan syukur. Namun, tidak dapat dipungkiri ada begitu banyak cara untuk menyampaikan musik. Untuk itu, penulis melihat kembali ke dalam Alkitab sebagai dasar bagaimana umat Allah menggunakan musik sebagai sarana ekspresi. Sebuah proyek resital juga dilakukan untuk menunjukkan bagaimana karya-karya musik dapat menunjukkan ekspresi sukacita dan ucapan syukur. Penelitian ini bertujuan menunjukkan penggunaan musik bagi umat Allah dalam Alkitab untuk mengekspresikan sukacita dengan ucapan syukur atas anugerah Allah. Untuk mencapai hal tersebut, penulis melakukan studi pustaka untuk menemukan penggunaan musik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Metode eksposisi teks Alkitab digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan musik dalam Mazmur 98. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa sukacita tidak hanya diekspresikan dengan musik yang dinyanyikan, tetapi juga musik yang dimainkan. Oleh karena itu, penulis juga menganalisis karya-karya yang ditampilkan dalam proyek resital untuk menunjukkan hubungannya dengan tema sukacita. Pada akhirnya, dari umpan balik yang diberikan oleh audiens, penulis akan memberikan kesimpulan apakah musik dapat menjadi sebuah sarana yang tepat bagi umat Allah untuk mengekspresikan sukacita dan ucapan syukur. In everyday life, the use of music is inseparable from humans, especially God's people. In various places and situations, God's people use music to praise God. The use of music should also be a means for God's people to express something that cannot be expressed in words: joy and gratitude. However, it cannot be denied that there are countless ways to convey music. Therefore, the author looks back to the Bible as a basis for how God's people use music as a means of expression. A recital project was also conducted to demonstrate how musical works can convey expressions of joy and gratitude. This study aims to demonstrate the use of music by God's people in the Bible to express joy through gratitude for God's gifts. To achieve this, the author conducted a literature review to identify the use of music in the Old and New Testaments. The biblical exposition method was used to describe the use of music in Psalm 98. Furthermore, this study aims to demonstrate that joy is expressed not only through sung music but also through music played. Therefore, the author also analyzed the works performed in the recital project to demonstrate their relationship to the theme of joy. Ultimately, from the feedback given by the audience, the author will draw a conclusion as to whether music can be an appropriate medium for God's people to express joy and gratitude. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Perjumpaan dengan Allah sebagai titik balik perjalanan iman orang percaya(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Amiman, Angelica; Alinurdin, DavidDasar dari iman Kristen adalah kepercayaan terhadap Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Meski kelihatan sederhana, perjalanan menjadi orang percaya tidak serta-merta disebut mudah. Orang-orang Kristen yang percaya dengan sungguh kepada Kristus pun tidak luput dari tantangan iman yang terus berdatangan hari demi hari. Tantangan-tantangan yang dihadapi tidak jarang membuat orang percaya menjadi goyah dalam imannya sehingga timbul rasa ragu dan sulit untuk percaya kepada Allah. Meski hal ini terkesan negatif, penulis meyakini bahwa ini adalah salah satu fase yang wajar untuk dilalui setiap orang percaya dalam perjalanan imannya. Penulis juga melihat bahwa fase ini berperan sebagai sebuah titik balik yang signifikan dalam perjalanan iman orang percaya. Topik inilah yang kemudian diangkat penulis ke dalam resital bertajuk “Mellifluous Cadence.” Pertanyaan yang akan digali dalam tulisan ini adalah “Apa kunci dari terjadinya titik balik dalam dinamika perjalanan iman orang percaya?” Dalam menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menggunakan metode studi literatur untuk menjabarkan bagaimana Allah terlibat dalam titik balik yang dimaksud. Di samping melakukan penjabaran yang eksplisit melalui tulisan ini, penulis juga melakukan penjabaran secara implisit melalui resital yang dilaksanakan. Dengan demikian, penulis juga menggunakan metode deskriptif untuk menjabarkan penerapan dari topik yang digali ke dalam resital yang dilaksanakan. Bertolak dari Lukas 24:13–35 serta dukungan dari pemaparan Kenneth Stokes tentang teori milik John Westerhoff dan James Fowler, penulis mendapati bahwa kunci dari titik balik orang percaya dalam perjalanan imannya adalah perjumpaan dengan Allah. Dalam segala peristiwa yang terjadi, entah baik ataupun buruk, Allah hadir dan menyatakan kehendak-Nya bahkan diri-Nya sendiri kepada orang percaya. Allah dapat hadir melalui cara yang berbeda bagi masing-masing orang percaya dalam perjalanan imannya. Namun satu hal yang pasti adalah Allah senantiasa hadir dan menjumpai orang percaya untuk menyatakan diri dan kehendak-Nya melalui peristiwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan orang percaya. The foundation of Christian faith is belief in Jesus Christ as Lord and Savior. Although seemingly simple, the journey to becoming a believer is not necessarily easy. Even Christians who truly believe in Christ are not immune to challenges that arise daily. These challenges often cause believers to waver in their faith, leading to doubts and difficulties in trusting God. While this may seem negative, the author believes that this is a normal phase that every believer goes through in their faith journey. The author also sees this phase as a significant turning point in a believer's faith journey. This topic was then addressed in a recital entitled "Mellifluous Cadence." The question explored in this paper is, "What is the key to a turning point in the dynamics of a believer's faith journey?" In answering this question, the author will use a literature study method to describe how God is involved in this turning point. In addition to providing an explicit explanation in this paper, the author also provides an implicit explanation in the recital. Thus, the author also uses a descriptive method to explain the application of the topics explored in the recital. Based on Luke 24:13–35 and supported by Kenneth Stokes's explanation of the theories of John Westerhoff and James Fowler, the author finds that the key to a believer's turning point in their faith journey is an encounter with God. In every event, whether good or bad, God is present and reveals His will and even Himself to believers. God may be present in different ways for each believer on their faith journey. However, one thing is certain: God is always present and meets with believers to reveal Himself and His will through every event that occurs in their lives. (Translated by Google Translator)