STT SAAT Institutional Repository
Selamat datang!
Perpustakaan Prothumia menyambut Anda di Repositori Institusi STT SAAT. Repositori ini menyediakan akses kepada hasil riset, karya kreatif dan publikasi dengan mengumpulkan, melestarikan dan membagikan koleksi digital yang dihasilkan oleh dosen, staf dan lulusan STT SAAT. Kami mengharapkan layanan repositori ini memperluas penyebaran hasil karya sivitas STT SAAT.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Research and publications authored by Faculty members.
Recent Submissions
Item type:Item, Terjemahan konsep sheol, hades, dan gehenna sebagai "neraka" dalam Alkitab bahasa Una: sebuah telaah eksegetis-teologis Alkitabiah(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2026-02) Susanto, Yunita; Mamahit, Ferry YeftaKonsep Sheol, Hades, dan Gehenna merupakan konsep yang asing bagi masyarakat Una. Melalui ketiga istilah ini, Alkitab membentuk pemahaman tentang konsep “neraka” yang berkembang secara berkelanjutan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Namun, dalam kepercayaan tradisional masyarakat Una yang bercorak animistis, tidak dikenal konsep neraka dan hukuman akhir bagi orang jahat sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab. Karena itu, penerjemahan konsep “neraka” ke dalam bahasa Una perlu dilakukan dengan setia pada makna Alkitab, sekaligus memperhatikan latar belakang budaya dan kepercayaan masyarakat Una agar pesan Alkitab dapat dipahami secara tepat dan jelas oleh masyarakat Una. Oleh karena itu, dalam tesis ini ditegaskan bahwa penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Una berperan sebagai jembatan yang mempertemukan pandangan dunia Alkitab dengan pandangan dunia masyarakat Una. Penerjemahan konsep Sheol, Hades, dan Gehenna berdasarkan perspektif eksegetikal diharapkan dapat menolong terjadinya pembentukan pemahaman teologis masyarakat Una yang makin kuat sesuai ajaran Alkitab mengenai konsep neraka dan akhir kehidupan manusia. Penelitian ini berfokus pada pertanyaan apakah konsep “neraka” dalam Alkitab bahasa Una telah diterjemahkan sesuai dengan makna aslinya berdasarkan perspektif eksegetis-teologis alkitabiah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan eksegesis terhadap istilah Sheol, Hades, dan Gehenna dengan memperhatikan konteks, penggunaan, serta keterkaitannya dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab melalui eksegesis ayat-ayat terpilih. Berdasarkan hasil eksegesis ini, penulis melakukan telaah terhadap terjemahan konsep-konsep tersebut dalam Alkitab bahasa Una, sekaligus meninjau perkembangan dan keberlanjutan konsep “neraka” dalam Alkitab serta implikasi teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa terjemahan dalam Alkitab bahasa Una belum sepenuhnya selaras dengan analisis eksegetikal terhadap konsep “neraka” dalam Alkitab. Dalam proses ini, teori penerjemahan idiomatis yang menjadi dasar pendekatan terjemahan Alkitab bahasa Una digunakan sebagai landasan untuk mengusulkan revisi terjemahan. Selain itu, berdasarkan analisis, penulis menyimpulkan adanya tiga kategori utama dalam penerjemahan konsep Sheol, Hades, dan Gehenna di dalam Alkitab bahasa Una, yaitu neraka sebagai suatu wilayah, neraka sebagai suatu keadaan, dan neraka sebagai kesetaraan makna kiasan. Setiap kategori memiliki sejumlah variasi terjemahan. Keberagaman ini menunjukkan bahwa Alkitab bahasa Una diterjemahkan secara idiomatis dengan berfokus pada kesetiaan terhadap makna dalam konteks Alkitab dan kewajaran sesuai struktur bahasa Una. Namun, keberagaman itu juga dapat mengaburkan pemahaman tentang Sheol, Hades, dan Gehenna sebagai satu konsep “neraka” yang utuh, yang menunjukkan perkembangan dan kesinambungan antara PL dan PB dan yang dapat membangun suatu pemahaman tentang neraka dan hukuman akhir. The concepts of Sheol, Hades, and Gehenna are unfamiliar to the Una people. Through these three terms, the Bible shapes an understanding of the concept of "hell" that has evolved continuously from the Old Testament to the New Testament. However, in the traditional animistic beliefs of the Una people, the concept of hell and the final punishment for the wicked as stated in the Bible is unknown. Therefore, translating the concept of "hell" into the Una language must be done faithfully to the meaning of the Bible, while also taking into account the cultural background and beliefs of the Una people so that the Bible's message can be understood accurately and clearly by the Una people. Therefore, this thesis emphasizes that translating the Bible into the Una language serves as a bridge connecting the biblical worldview with the worldview of the Una people. Translating the concepts of Sheol, Hades, and Gehenna from an exegetical perspective is expected to foster a stronger theological understanding of the Una people in accordance with the Bible's teachings regarding the concept of hell and the end of human life. This study focuses on the question of whether the concept of "hell" in the Una Bible has been translated faithfully from a biblical exegetical-theological perspective. To answer this question, the author conducted an exegesis of the terms Sheol, Hades, and Gehenna, taking into account their context, usage, and relationship to other parts of the Bible through the exegesis of selected verses. Based on the results of this exegesis, the author examined the translation of these concepts in the Una Bible, while also reviewing the development and continuity of the concept of "hell" in the Bible and its theological implications. The results indicate that several translations in the Una Bible do not fully align with the exegetical analysis of the concept of "hell" in the Bible. In this process, the theory of idiomatic translation, which underlies the approach to translating the Una Bible, is used as a basis for proposing translation revisions. Furthermore, based on the analysis, the author concludes that there are three main categories in the translation of the concepts of Sheol, Hades, and Gehenna in the Una Bible: hell as a region, hell as a state, and hell as a figurative equivalent. Each category has several translation variations. This diversity demonstrates that the Una Bible is translated idiomatically, focusing on fidelity to the biblical context and its naturalness within the structure of the Una language. However, this diversity can also obscure the understanding of Sheol, Hades, and Gehenna as a unified concept of “hell,” demonstrating the development and continuity between the Old Testament and the New Testament and allowing for a shared understanding of hell and final punishment. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Persepsi mahasiswa rantau Kristen tentang kebutuhan akan suasana keluarga(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2026-04) Liem, Jonathan Yoe Gie; Pranoto, IrwanKeputusan merantau untuk melanjutkan proses studi merupakan pengalaman yang cukup banyak dipilih oleh mahasiswa di Indonesia. Mahasiswa yang mengalami proses ini mengalami transisi kehidupan dari kota asal mereka ke kota yang baru. Proses ini sering kali menimbulkan tantangan adaptasi sosial, psikologis, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persepsi mahasiswa rantau secara khusus terkait dengan kebutuhan akan suasana keluarga selama menjalani kehidupan perkuliahan mereka di Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dasar. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap sepuluh mahasiswa rantau Kristen yang tergabung dalam komunitas GKKAI Tenggilis Mejoyo Surabaya, sehingga pengalaman dan pemikiran dari sudut pandang mahasiswa rantau dapat tergali secara mendalam. Data tersebut kemudian dianalisis secara tematik untuk memahaminya. Hasil temuan penelitian ini menyatakan bahwa para partisipan merasakan secara nyata kebutuhan akan suasana keluarga ketika mereka ada di tempat rantau. Dalam proses perantauan tersebut, kebutuhan ini perlu dicukupi untuk mereka dapat menjalani proses adaptasi dengan baik. Selain itu, para partisipan juga memiliki harapan agar gereja dapat berperan sebagai keluarga rohani yang memberi penerimaan, perhatian dan bimbingan. The decision to move away from home to continue their studies is a common experience for students in Indonesia. Students who undergo this process experience a transition from their hometown to a new city. This process often presents social, psychological, and spiritual adaptation challenges. This study aims to uncover the perceptions of out-of-home students, specifically regarding the need for a family atmosphere during their college life in Surabaya. The research method used was basic qualitative research. Data collection was conducted through interviews with ten out-of-home Christian students who are members of the GKKAI Tenggilis Mejoyo Surabaya community, allowing for in-depth exploration of the experiences and thoughts from the out-of-home students' perspectives. The data was then analyzed thematically for understanding. The findings of this study indicate that participants clearly felt the need for a family atmosphere while they were away from home. During the transition, this need needed to be met to successfully navigate the adaptation process. Furthermore, participants expressed hope that the church could act as a spiritual family, providing acceptance, care, and guidance. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Pengalaman guru-guru SMA Kristen ‘X’ Semarang dalam melakukan integrasi iman dan pembelajaran(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2026-01) Sjamsuhadi, Samuel Bayu; Soeherman, SylviaFenomena sacred–secular Divide (SSD) telah memengaruhi praktik pendidikan Kristen, termasuk upaya sekolah dalam mengintegrasikan iman dengan pembelajaran akademis. Meskipun sekolah-sekolah Kristen berusaha memasukkan nilai rohani melalui kegiatan spiritual, implementasi integrasi iman dan pembelajaran masih sering bersifat sporadis, tidak sistematis, dan belum terhubung secara langsung dengan disiplin ilmu yang diajarkan. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman guru-guru SMA Kristen “X” Semarang dalam mengimplementasikan integrasi iman dan pembelajaran (IFL), termasuk pemahaman konsep, peran, tujuan, strategi, serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi praktik mereka. Partisipan adalah guru dari disiplin ilmu alam (natural science) dan sosial (social science) dengan pengalaman mengajar minimal lima tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif basic qualitative research dengan analisis data tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami IFL dalam dua bentuk: memasukkan elemen iman Kristen ke dalam pembelajaran dan menyatukan iman dengan disiplin akademis sebagai kesatuan yang integratif. Guru memandang diri mereka sebagai konseptor materi terintegrasi, pengarah proses integratif, serta teladan kehidupan Kristen bagi siswa. Tujuan IFL mencakup empat aspek: mengenal Allah melalui pembelajaran, membentuk karakter Kristen, membangun pola pikir Kristen, dan menumbuhkan pola hidup Kristen. Guru menerapkan berbagai strategi integrasi sebagaimana dikategorikan oleh Taylor, seperti analogous, narrative, exemplary, textual, thematic, dan valuative strategy. Faktor internal yang memengaruhi implementasi IFL mencakup latar belakang pendidikan, pemahaman teologi, kapabilitas, dan prioritas guru. Faktor eksternal meliputi sistem sekolah, tuntutan administrasi, pelatihan IFL, komunitas profesional, supervisi pimpinan, respons siswa, serta dukungan gereja dan keluarga. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan bagi guru melalui pelatihan dan pendampingan praktis untuk memperdalam pemahaman materi pelajaran, teologi, serta keterampilan menerapkan strategi IFL. Pendampingan dalam kelompok kecil dan supervisi pimpinan membantu guru mengatasi kesulitan teknis dan menumbuhkan refleksi berkelanjutan. Dukungan komunitas profesional dan lingkungan rohani turut memperkuat perkembangan praktik integrasi iman dan pembelajaran. The phenomenon of the sacred–secular divide (SSD) has impacted Christian educational practices, including schools' efforts to integrate faith with academic learning. Although Christian schools strive to incorporate spiritual values through spiritual activities, the implementation of the integration of faith and learning is often sporadic, unsystematic, and not directly connected to the academic disciplines taught. This study aims to understand the experiences of teachers at Christian High School X Semarang in implementing the integration of faith and learning (IFL), including their understanding of the concept, roles, goals, strategies, and internal and external factors influencing their practice. Participants were teachers of the natural sciences and social sciences with at least five years of teaching experience. The study used a qualitative approach, basic qualitative research, with thematic data analysis. The results indicate that teachers understand IFL in two ways: incorporating elements of Christian faith into learning and uniting faith and academic disciplines as an integrative whole. Teachers view themselves as conceptualizers of the integrated material, directors of the integrative process, and role models of Christian living for students. The goals of IFL encompass four aspects: knowing God through learning, forming Christian character, developing a Christian mindset, and fostering a Christian lifestyle. Teachers employ various integration strategies as categorized by Taylor, such as analogous, narrative, exemplary, textual, thematic, and valuative strategies. Internal factors influencing IFL implementation include teacher educational background, theological understanding, capabilities, and priorities. External factors include the school system, administrative demands, IFL training, the professional community, leadership supervision, student responses, and church and family support. This research emphasizes the importance of supporting teachers through practical training and mentoring to deepen their understanding of subject matter, theology, and skills in implementing IFL strategies. Small-group mentoring and leadership supervision help teachers overcome technical difficulties and foster ongoing reflection. Support from the professional community and the spiritual environment also strengthen the development of faith-learning integration practices. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Hubungan kesepian, dukungan sosial, dan komunikasi suami istri pada istri rohaniwan(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2025-11) Utami, Salome Dyah; Sulistio, Thio Christian; Elia, HemanKesepian istri rohaniwan merupakan pengalaman emosional yang nyata, tetapi kerap tersembunyi. Meskipun hidup di tengah komunitas gereja, banyak dari mereka yang merasa terisolasi karena kebutuhan emosional yang sering terabaikan karena tuntutan pelayanan dan ekspektasi jemaat. Beberapa penelitian, di antaranya Linda Hileman, Janelle Warner, dan John Carter, menunjukkan bahwa tekanan peran dan kesibukan suami dalam pelayanan menyebabkan jarak emosional dalam pernikahan. Kesepian yang dialami tidak semata disebabkan karena kurangnya kebersamaan secara fisik, tetapi oleh rendahnya kualitas relasi dan komunikasi. Selain itu, banyak istri rohaniwan menghadapi minimnya dukungan sosial karena standar ideal yang dibebankan jemaat sehingga mereka merasa tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Ketika dukungan dari pasangan berkurang karena aktivitas, dukungan sosial dari lingkungan sosial menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Komunikasi yang terbuka dan jujur antara suami istri berfungsi sebagai sarana utama dalam menghadirkan dukungan emosional. Namun, ketika komunikasi melemah dan dukungan sosial tidak didapatkan, kesepian dapat menjadi pergumulan yang nyata. Secara teologis, kesepian mencerminkan kerusakan relasi antar manusia yang seharusnya mencerminkan Imago Dei. Manusia diciptakan serupa dengan Allah Tritunggal yang menjadi dasar keberadaan manusia sebagai makhluk relasional. Penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama, yaitu apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian, serta antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk memahami hubungan dari tiga variabel tersebut. Penelitian ini didasarkan pada dua hipotesis utama, yaitu (1) terdapat hubungan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan, serta (2) terdapat hubungan antara komunikasi suami istri dan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan komunikasi suami istri dengan kesepian pada istri rohaniwan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada istri rohaniwan yang suaminya melayani penuh waktu di gereja. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu berikut ini: Responden merupakan istri rohaniwan penuh waktu di gereja, telah menikah lebih dari lima tahun, dan berusia maksimal 55 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Provisions Scale (SPS) untuk mengukur dukungan sosial, Primary Communication Inventory (PCI) untuk mengukur kualitas komunikasi suami istri, dan UCLA Loneliness Scale versi 3 untuk mengukur tingkat kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan statistik korelasi untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dan kesepian pada istri rohaniwan (r = -0,703; p , 0,01). Artinya makin tinggi dukungan sosial yang diterima, akan makin rendah tingkat kesepian yang dialami. Selain itu, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi suami istri dan kesepian (r = -0,419; p , 0,01), yang menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dalam pernikahan turut berperan dalam menurunkan kesepian. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan sosial dan kualitas komunikasi suami istri memiliki hubungan yang signifikan dengan kesepian pada istri rohaniwan. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan gereja, yaitu pentingnya menunjukkan kepekaan terhadap kesejahteraan emosional keluarga rohaniwan, khususnya para istri. Upaya preventif dan kuratif perlu dilakukan sehingga para rohaniwan dapat berperan efektif dan keluarganya juga ada dalam kesejahteraan yang baik. Rohaniwan dan pasangannya juga perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang terbuka dan sehat dalam pernikahan. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas subjek penelitian, misalnya kepada rohaniwan itu sendiri, atau membedakan antara istri yang melayani bersama suami di gereja, dan yang tidak. Selain itu, pendekatan kualitatif atau mixed methods dapat digunakan untuk menggali pengalaman yang lebih mendalam dan mengurangi bias sosial. Loneliness among clergy wives is a real, yet often hidden, emotional experience. Despite living within a church community, many feel isolated because their emotional needs are often neglected due to the demands of ministry and congregational expectations. Several studies, including those by Linda Hileman, Janelle Warner, and John Carter, show that the pressures of husbands' roles and busy ministry activities lead to emotional distance in marriage. The loneliness experienced is not solely caused by a lack of physical togetherness, but also by poor relationships and communication. Furthermore, many clergy wives face a lack of social support due to ideals imposed by their congregations, leaving them feeling like they don't have a safe space to express their feelings. When support from their spouse diminishes due to their activities, social support from their social circle becomes a pressing need. Open and honest communication between husband and wife serves as a primary means of providing emotional support. However, when communication weakens and social support is lacking, loneliness can become a real struggle. Theologically, loneliness reflects a breakdown in human relationships, which should reflect the Imago Dei. Humans were created in the image of the Triune God, which is the foundation of our existence as relational beings. This study seeks to answer two main questions: whether there is a relationship between social support and loneliness, and between marital communication and loneliness in clergy wives. These questions are intended to understand the relationship between these three variables. This study is based on two main hypotheses: (1) there is a relationship between social support and loneliness in clergy wives, and (2) there is a relationship between marital communication and loneliness in clergy wives. This study used a quantitative approach with a correlational design to analyze the relationship between social support and marital communication and loneliness in clergy wives. Data were collected through questionnaires distributed to clergy wives whose husbands serve full-time in the church. Participants were selected using a purposive sampling technique, namely sampling based on the following specific criteria: Respondents were full-time clergy wives in the church, had been married for more than five years, and were a maximum of 55 years old. The instruments used in this study were the Social Provisions Scale (SPS) to measure social support, the Primary Communication Inventory (PCI) to measure the quality of marital communication, and the UCLA Loneliness Scale version 3 to measure levels of loneliness. Data analysis was conducted using correlation statistics to test the relationship between variables. The analysis results showed a highly significant negative relationship between social support and loneliness in clergy wives (r = -0.703; p < 0.01). This means that the higher the social support received, the lower the level of loneliness experienced. In addition, there was a significant negative relationship between marital communication and loneliness (r = -0.419; p < 0.01), indicating that good communication in marriage plays a role in reducing loneliness. The findings of this study confirm that social support and the quality of marital communication have a significant relationship with loneliness in clergy wives. This study has practical implications for various parties involved in church ministry, namely the importance of showing sensitivity to the emotional well-being of clergy families, especially wives. Preventive and curative efforts need to be carried out so that clergy can play an effective role and their families are also in good welfare. Clergy and their partners also need to raise awareness of the importance of open and healthy communication in marriage. Future research is recommended to expand the research subjects, for example to clergy themselves, or distinguish between wives who serve alongside their husbands in the church, and those who do not. In addition, qualitative or mixed methods approaches can be used to explore deeper experiences and reduce social bias. (Translated by Google Translator)Item type:Item, Pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan keluarga di gereja(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-10) Budianto, Yoel; Suhendra, JunianawatyPemuridan keluarga merupakan mandat Tuhan (Ul. 6). Namun, beberapa gereja mengalami kesulitan untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Hal ini karena adanya beragam permasalahan yang dihadapi oleh gereja maupun keluarga-keluarga Kristen. Penulis mengamati bahwa ada sebuah fenomena, yakni para pemimpin mempunyai peran yang sangat penting dalam menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Data KOMPAK menunjukkan ada 37 gereja yang awalnya terlibat, tetapi hanya 10 gereja yang masih menggerakkan pemuridan keluarga sampai saat ini. Salah satu dari gereja-gereja tersebut yang masih menggerakkan pemuridan keluarga adalah GKI Layur. GKI Layur merupakan gereja yang paling lama bekerja sama dengan Yayasan Eunike. Selain itu, GKI Layur telah cukup lama menggerakkan pemuridan keluarga, mulai dari tahun 2013 sampai saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam upaya menggerakkan pemuridan keluarga di gereja. Penelitian ini didesain menggunakan metode kualitatif dasar. Sebelas pemimpin GKI Layur bersedia dan telah memenuhi syarat sebagai partisipan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah semi-structured interview dengan strategi open-ended questions. Setiap percakapan direkam dan dibuatkan transkrip verbatimnya, serta akan dianalisis dengan melakukan proses pengodean. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan tiga tema penting dari pengalaman para pemimpin GKI Layur dalam menggerakkan pemuridan keluarga, yaitu ketaatan terhadap panggilan dan perintah Tuhan, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga, dan peran menghadapi tantangan. Pertama, ketaatan pada panggilan dan perintah Tuhan yang memengaruhi, menyadarkan dan menguatkan pemimpin gereja untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Ketaatan pemimpin gereja dalam melaksanakan panggilan dan perintah Tuhan merupakan kunci untuk menggerakkan pemuridan keluarga. Kedua, kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga merupakan faktor yang memengaruhi diri pemimpin gereja dalam proses melaksanakan pemuridan keluarga. Kesadaran akan pentingnya pemuridan keluarga harus dimiliki oleh para pemimpin gereja dalam menggerakkan pemuridan keluarga. Ketiga, menggerakkan pemuridan keluarga pasti menemui tantangan dan pemimpin gereja perlu mengambil peran menghadapi tantangan tersebut. Family discipleship is God's mandate (Deuteronomy 6). However, some churches struggle to foster family discipleship. This is due to various challenges faced by both churches and Christian families. The author observed a phenomenon: leaders play a crucial role in fostering family discipleship within the church. KOMPAK data shows that 37 churches were initially involved, but only 10 are still fostering family discipleship today. One of these churches that continues to foster family discipleship is GKI Layur. GKI Layur has been the church that has collaborated with the Eunike Foundation the longest. Furthermore, GKI Layur has been fostering family discipleship for a long time, starting in 2013. Therefore, this study aims to understand the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship within the church. This study was designed using basic qualitative methods. Eleven GKI Layur leaders agreed and met the requirements to participate. The data collection technique used was semi-structured interviews with open-ended questions. Each conversation was recorded and transcribed verbatim, and will be analyzed through coding. Based on the research results, three important themes emerged from the experiences of GKI Layur leaders in fostering family discipleship: obedience to God's calling and commands, awareness of the importance of family discipleship, and their role in facing challenges. First, obedience to God's calling and commands influences, awakens, and empowers church leaders to foster family discipleship. Church leaders' obedience in carrying out God's calling and commands is key to fostering family discipleship. Second, awareness of the importance of family discipleship is a factor that influences church leaders in the process of implementing family discipleship. Awareness of the importance of family discipleship is essential for church leaders in fostering family discipleship. Third, fostering family discipleship inevitably faces challenges, and church leaders need to take a role in addressing these challenges. (Translated by Google Translator)