STT SAAT Institutional Repository
Selamat datang!
Perpustakaan Prothumia menyambut Anda di Repositori Institusi STT SAAT. Repositori ini menyediakan akses kepada hasil riset, karya kreatif dan publikasi dengan mengumpulkan, melestarikan dan membagikan koleksi digital yang dihasilkan oleh dosen, staf dan lulusan STT SAAT. Kami mengharapkan layanan repositori ini memperluas penyebaran hasil karya sivitas STT SAAT.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Research and publications authored by Faculty members.
Recent Submissions
Item type:Item, Tinjauan kritis terhadap doktrin Alkitab Karl Barth dari perspektif teologi reformed(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Roleh, Rossita Esther;Karl Barth adalah salah satu teolog paling berpengaruh di abad kedua puluh. Pemikirannya yang mendalam dan orisinal telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk diskusi teologis pada masanya. Meskipun satu abad telah berlalu sejak kehadirannya, gagasan-gagasannya tetap menjadi referensi utama dan terus mengundang interaksi dari para teolog. Melihat pengaruh yang ditimbulkan Barth dalam diskursus teologis hingga masa kini, penelitian ini hadir untuk mengeksplorasi dan menganalisis pemikirannya, dengan fokus utama pada doktrin Alkitab yang dirumuskannya. Apakah Barth menerima bahwa Alkitab adalah firman Allah dalam pengertian identik dengan firman Allah atau Alkitab tidak identik dengan firman Allah? Bagaimana pandangan Barth tentang inspirasi, ineransi, dan otoritas Alkitab? Apakah pandangan Barth bertentangan dengan doktrin Alkitab yang ortodoks? Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dan pendekatan studi literatur, penelitian ini akan mengkaji pandangan Barth secara mendalam dan meninjaunya secara kritis dari perspektif teologi Reformed. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa doktrin Alkitab Barth—khususnya doktrin Alkitab sebagai firman Allah, inspirasi, ineransi dan otoritasnya—bertentangan dengan prinsip-prinsip utama doktrin Alkitab menurut teologi Reformed. Bagi Barth, Alkitab adalah kesaksian dari firman Allah dan tidak identik dengan firman Allah. Meski ia tidak menolak konsep inspirasi Alkitab, pemahamannya mengenai inspirasi berbeda secara mendasar dari perspektif Reformed. Ineransi Alkitab yang menjadi keyakinan teologi Reformed ditolak oleh Barth, karena ia menganggap Alkitab bersifat fallible. Sementara dalam hal otoritas Alkitab, meskipun Barth dan teologi Reformed sama-sama mengakuinya, terdapat perbedaan yang signifikan dalam cara keduanya memahami aspek ini.Item type:Item, Prinsip-prinsip pemuridan Yesus dalam kelompok kecil dan implementasinya bagi gereja di kota metropolitan(Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024-12) Theodore, Revel; Michael TengSesuai riset Barna dan Bilangan Research Center, pemuridan merupakan sarana dalam pertumbuhan gereja secara kualitas dan kuantitas. Sarana pemuridan ini dimulai oleh Yesus kepada dua belas murid-Nya, yang disebut sebagai kelompok kecil, yang bertujuan untuk menyebarluaskan Injil ke dunia. Penyebarluasan Injil ini diteruskan oleh rasul-rasul di seluruh daerah yang menitikberatkan di kota-kota besar pada waktu itu. Sejalan dengan target penginjilan waktu itu (kota-kota besar), pemuridan juga perlu dilakukan di kota-kota metropolitan pada masa kini dengan segenap ciri khas atau dinamika kehidupan sosialnya. Melihat hal ini, penulis mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat diajukan: 1) Mengapa Yesus melakukan pemuridan? 2) Dinamika kelompok kecil seperti apa yang Yesus lakukan? 3) Apa prinsip-prinsip pemuridan Yesus dalam kelompok kecil? 4) Apakah prinsip ini bisa digunakan pada masa kini, terkhususnya pada gereja kota metropolitan? 5) Bagaimana mengimplementasikan pemuridan Yesus yang berbasis kelompok kecil bagi gereja yang hidup tengah kehidupan sosial kota metropolitan sehingga relevan dan sesuai? Hipotesis penulis adalah penulis melihat pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab sebab prinsip-prinsip pemuridan Yesus dalam kelompok kecil adalah prinsip universal. Dalam mencapai hasil yang diinginkan, penulis menggunakan metode studi literatur dari buku, artikel, jurnal, dan situs web. Di bab 2 penulis membahas mengenai pemuridan, profil kelompok kecil, dan prinsip-prinsip pemuridan Yesus berbasis kelompok kecil. Yesus datang dengan tujuan untuk menjadikan murid-murid serupa dengan Dia dan menjadi ekstensifikasi-Nya dengan mengabarkan Injil. Dia memilih dua belas murid untuk dilatih melalui tujuh prinsip yang diyakini akan berhasil. Pertama, prinsip pemilihan. Kedua, prinsip pelibatan. Ketiga, prinsip pendemonstrasian. Keempat, prinsip pemberian. Kelima, prinsip pengajaran. Keenam, prinsip pendelegasian. Ketujuh, prinsip penyeliaan. Melalui ketujuh prinsip ini, kelompok kecil dapat memenuhi tujuan Yesus dengan terjadinya pertambahan atau multiplikasi murid. Di bab 3 penulis membahas mengenai perkotaan di Alkitab, kehidupan sosial masyarakat kota metropolitan, dan upaya gereja bagi kota metropolitan. Penulis membahas teologi kota menurut Alkitab dalam cakupan penciptaan, kejatuhan, penebusan dan penyempurnaan. Kemudian, penulis secara spesifik membahas kehidupan perkotaan Yesus kemudian kehidupan Paulus sebagai misionaris di kota-kota besar.Item type:Item, Lex credendi, lex orandi, lex vivendi: relasi Iman percaya dengan ibadah dan kehidupan orang kristen serta implikasinya bagi ibadah komunal.(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2024-12) Kawinda, Rachel Putri; Santoso, Sylvia ImanFenomena dualisme spiritualitas dalam kehidupan orang Kristen mencerminkan ketidaksesuaian antara ibadah komunal dan ibadah pribadi. Tidak sedikit, orang Kristen yang menjalankan ibadah komunal sebagai rutinitas yang menjadi formalitas belaka. Hal ini membuat ibadah pribadi dalam konteks iman dan kehidupan seorang Kristen tidak mencerminkan pengenalan akan Allah. Fenomena ini sejalan dengan peringatan dalam Yesaya 29:13, di mana umat Israel memuliakan Allah secara lahiriah tetapi secara batiniah hati mereka jauh dari-Nya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami akar permasalahan dualisme spiritualitas tersebut dan mengeksplorasi relevansi konsep lex credendi, lex orandi, lex vivendi dalam sudut pandang Kristen Protestan. Studi literatur menjadi metode dalam penelitian ini yang dilakukan dengan menganalisis sumber-sumber alkitabiah, pandangan para rohaniwan, serta konsep ibadah Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dualisme spiritualitas muncul dari hati yang tidak tertuju kepada Allah. Pada akhirnya permasalahan hati tersebut menghasilkan kehidupan seorang Kristen yang tidak sesuai dengan iman dan ibadahnya. Kesimpulan dari penelitian ini ialah pentingnya pembaharuan hati melalui iman kepada Kristus, yang memungkinkan umat Kristen menjalankan ibadah komunal dan ibadah pribadi secara sejati.Item type:Item, Kajian sosial-historis dan biblika terhadap metafora adopsi dalam Roma 8:12–17(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2024-10) Lumempow, Regrofer Victorio Imanuel; Yahya, Pancha WigunaAdopsi adalah konsep yang penting di dalam Alkitab karena konsep ini ditemukan secara konsisten mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian baru (Kel. 4:22–23 dan Hos. 11:1; Rm. 8:15, 23; 9:4, Gal. 4:5, Ef. 1:5). Di dalam Roma 8:15, metafora adopsi muncul dengan kata kunci υἱοθεσία. Secara literal, υἱοθεσία merupakan sebuah terminologi hukum dari adopsi anak di dalam budaya Greco-Roman, khususnya budaya Romawi. Karena metafora adopsi berasal dari terminologi hukum di dalam budaya Romawi abad pertama, maka ada kesenjangan yang menghalangi orang modern di dalam memahami metafora adopsi dalam Roma 8:12–17. Pembaca Paulus memahami adopsi sebagai tindakan mengangkat seorang anak yang telah dewasa/mapan atau mengangkat seorang budak menjadi anak sendiri, sedangkan pembaca modern memahami adopsi, secara umum, sebagai tindakan mengangkat seorang bayi atau anak kecil—bukan budak—menjadi anak sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini menjawab pertanyaan, “Bagaimanakah seharusnya pembaca modern memaknai metafora adopsi dalam Roma 8:12–17?” Penulis beranggapan bahwa metafora adopsi di dalam Roma 8:12–17 perlu dimengerti di dalam konteks sosial-historis Romawi abad pertama dan biblikal yang benar sehingga akan menghasilkan pemahaman yang tepat atas metafora adopsi. Penulis berusaha menjawab pertanyaan penelitian dengan metode penelitian kepustakaan. Di dalam penelitian ini, penulis menemukan bahwa metafora adopsi di dalam Roma 8:12–17 merupakan bagian dari penjelasan Paulus tentang proses penyelamatan Allah atas manusia dari tirani Dosa dan Maut. Paulus menggambarkan Allah sebagai paterfamilias yang mengadopsi mantan budak—jemaat di Roma—menjadi anak-Nya sendiri (Rm. 8:15), sehingga mereka menjadi ahli waris dari janji-janji Allah bersama dengan Yesus Kristus, Sang Anak “kandung” Allah (Rm. 8:17). Di dalam metafora ini juga Allah digambarkan sebagai Paterfamilias Agung yang mengadopsi anak-anak-Nya bukan untuk kepentingannya, sama seperti yang seharusnya dilakukan oleh para paterfamilias Romawi, tetapi berdasarkan kasih yang luar biasa (Rm 8:15, 32; Ef. 1:4–5). Melalui metafora adopsi ini, Paulus menyadarkan jemaat di Roma bahwa mereka dulunya adalah tawanan Dosa dan Maut yang telah dimerdekakan dan dipersatukan ke dalam komunitas anak-anak adopsi Allah. Oleh karena itu, jemaat yang terdiri dari kelompok Law-observant gentiles dengan non-Law-observant gentiles, harus hidup di dalam damai sebagai sesama anggota keluarga Allah, bersama-sama dengan Yesus sebagai Saudara sulung mereka.Item type:Item, Doktrin pengudusan reformed dan implikasinya bagi orang yang kecanduan seksual(Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2024-12) Aer, Pyerwaya Karenina Syosyan; Jeremiah, WilsonOrang percaya dipanggil oleh Allah untuk hidup kudus. Kudus artinya dikhususkan untuk melakukan kehendak Allah yang kudus. Namun, kenyataanya orang percaya dapat jatuh dalam dosa, salah satunya dosa seksual. Bentuk dari dosa seksual ada berbagai macam, tetapi dalam penelitian ini khusus membahas kecanduan seksual. Jika demikian, bagaimana seorang percaya yang bergumul dengan masalah kecanduan ini dapat memenuhi panggilan Allah untuk menjadi umat yang kudus? Penelitian ini hendak mengkaji masalah ini untuk menjawab pertanyaan di atas dengan penegasan bahwa doktrin pengudusan memungkinkan seorang yang kecanduan seksual dapat memenuhi panggilan Allah untuk hidup kudus di hadapan Allah. Melalui studi literatur, penulis hendak menunjukkan bahwa orang percaya yang kecanduan seks juga sedang berada dalam proses pengudusan yang di dalamnya Allah bekerja untuk memulihkan gambar dan rupa-Nya di dalam diri mereka yang rusak akibat dosa. Hal ini hanya dapat terjadi karena orang percaya telah disatukan dengan Yesus Kristus. Tujuan dari skripsi ini adalah memperlihatkan bahaya dari kecanduan seksual dalam kehidupan orang percaya dan bagaimana anugerah Allah menolong mereka untuk pulih.