Kajian sosial-historis dan biblika terhadap metafora adopsi dalam Roma 8:12–17

Abstract

Adopsi adalah konsep yang penting di dalam Alkitab karena konsep ini ditemukan secara konsisten mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian baru (Kel. 4:22–23 dan Hos. 11:1; Rm. 8:15, 23; 9:4, Gal. 4:5, Ef. 1:5). Di dalam Roma 8:15, metafora adopsi muncul dengan kata kunci υἱοθεσία. Secara literal, υἱοθεσία merupakan sebuah terminologi hukum dari adopsi anak di dalam budaya Greco-Roman, khususnya budaya Romawi. Karena metafora adopsi berasal dari terminologi hukum di dalam budaya Romawi abad pertama, maka ada kesenjangan yang menghalangi orang modern di dalam memahami metafora adopsi dalam Roma 8:12–17. Pembaca Paulus memahami adopsi sebagai tindakan mengangkat seorang anak yang telah dewasa/mapan atau mengangkat seorang budak menjadi anak sendiri, sedangkan pembaca modern memahami adopsi, secara umum, sebagai tindakan mengangkat seorang bayi atau anak kecil—bukan budak—menjadi anak sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini menjawab pertanyaan, “Bagaimanakah seharusnya pembaca modern memaknai metafora adopsi dalam Roma 8:12–17?” Penulis beranggapan bahwa metafora adopsi di dalam Roma 8:12–17 perlu dimengerti di dalam konteks sosial-historis Romawi abad pertama dan biblikal yang benar sehingga akan menghasilkan pemahaman yang tepat atas metafora adopsi. Penulis berusaha menjawab pertanyaan penelitian dengan metode penelitian kepustakaan. Di dalam penelitian ini, penulis menemukan bahwa metafora adopsi di dalam Roma 8:12–17 merupakan bagian dari penjelasan Paulus tentang proses penyelamatan Allah atas manusia dari tirani Dosa dan Maut. Paulus menggambarkan Allah sebagai paterfamilias yang mengadopsi mantan budak—jemaat di Roma—menjadi anak-Nya sendiri (Rm. 8:15), sehingga mereka menjadi ahli waris dari janji-janji Allah bersama dengan Yesus Kristus, Sang Anak “kandung” Allah (Rm. 8:17). Di dalam metafora ini juga Allah digambarkan sebagai Paterfamilias Agung yang mengadopsi anak-anak-Nya bukan untuk kepentingannya, sama seperti yang seharusnya dilakukan oleh para paterfamilias Romawi, tetapi berdasarkan kasih yang luar biasa (Rm 8:15, 32; Ef. 1:4–5). Melalui metafora adopsi ini, Paulus menyadarkan jemaat di Roma bahwa mereka dulunya adalah tawanan Dosa dan Maut yang telah dimerdekakan dan dipersatukan ke dalam komunitas anak-anak adopsi Allah. Oleh karena itu, jemaat yang terdiri dari kelompok Law-observant gentiles dengan non-Law-observant gentiles, harus hidup di dalam damai sebagai sesama anggota keluarga Allah, bersama-sama dengan Yesus sebagai Saudara sulung mereka.
Adoption is a significant biblical concept, appearing consistently from the Old Testament through the New Testament (Exod. 4:22–23 and Hos. 11:1; Rom. 8:15, 23; 9:4; Gal. 4:5; Eph. 1:5). In Romans 8:15, the metaphor of adoption appears via the key term *huiothesia*. Literally, *huiothesia* is a legal term denoting the adoption of a child within Greco-Roman—specifically Roman—culture. Because this metaphor originates in the legal terminology of first-century Roman culture, a gap exists that hinders modern readers from fully grasping the adoption metaphor in Romans 8:12–17. Paul’s original audience understood adoption as the act of taking an adult or established individual—or a slave—as one’s own child, whereas modern readers generally understand it as taking an infant or young child (and not a slave) as one’s own. Consequently, this study addresses the question: "How should modern readers interpret the adoption metaphor in Romans 8:12–17?" The author posits that this metaphor must be understood within its proper first-century Roman socio-historical and biblical contexts to ensure an accurate interpretation. The author employs a literature-based research method to address this question. In this study, the author finds that the adoption metaphor in Romans 8:12–17 is part of Paul’s explanation regarding God’s process of rescuing humanity from the tyranny of Sin and Death. Paul portrays God as a *paterfamilias* who adopts former slaves—the congregation in Rome—as His own children (Rom. 8:15), making them heirs to God’s promises alongside Jesus Christ, God’s "natural" Son (Rom. 8:17). In this metaphor, God is depicted as the Supreme *Paterfamilias* who adopts His children not for His own self-interest—as Roman *paterfamilias* figures were expected to do—but out of extraordinary love (Rom. 8:15, 32; Eph. 1:4–5). Through this metaphor of adoption, Paul reminds the Roman congregation that they were once captives of Sin and Death who have been liberated and united into the community of God’s adopted children. Consequently, the congregation—comprising both Law-observant and non-Law-observant Gentiles—must live in peace as fellow members of God’s family, together with Jesus as their eldest Brother. (Translated by Google Translator)

Description

Citation

Lumempow, Regrofer Victorio Imanuel. Kajian Sosial-Historis dan Biblika Terhadap Metafora Adopsi dalam Roma 8:12–17. Skripsi, Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang, 2024

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By