Persepsi Nenek tentang Pengalaman Iman dalam Keterlibatan Pengasuhan Cucu yang Mengalami Perceraian Orang Tua
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengalaman iman para nenek dalam pengasuhan cucu yang berasal dari keluarga pascaperceraian. Fokus utama penelitian ini adalah memahami bagaimana pengalaman iman menopang para nenek dalam menghadapi tantangan pengasuhan, serta memberikan kekuatan spiritual dan pemulihan bagi cucu yang terdampak perceraian. Kerangka teoretis yang digunakan adalah model relasi keluarga dari Jack O. Balswick dan Judith K. Balswick, yang mencakup empat elemen utama: Covenant, Grace, Empowerment, dan Intimacy.
Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap sepuluh nenek yang secara aktif mengasuh cucu mereka pascaperceraian orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman iman menjadi landasan penting dalam praktik pengasuhan. Iman tidak hanya berfungsi sebagai keyakinan pribadi, tetapi juga menjadi sumber kekuatan hidup yang menopang nenek dalam membimbing, menghibur, dan memulihkan cucu mereka.
Para nenek menyalurkan nilai-nilai spiritual melalui keteladanan, doa, pengajaran Firman Tuhan, dan disiplin rohani yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman iman dilakukan secara intensional, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata yang konsisten. Hal ini secara nyata membantu cucu dalam membangun ketahanan emosional dan spiritual, serta membentuk karakter mereka berdasarkan nilai-nilai kristiani. Pengalaman iman tersebut juga mempererat relasi antargenerasi dan menjadikan nenek sebagai agen pemulihan yang signifikan dalam kehidupan cucu.
Penelitian ini merekomendasikan studi lanjutan mengenai dinamika iman dalam pengasuhan cucu di berbagai bentuk keluarga, serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas iman dalam pengasuhan, seperti peran komunitas, latar budaya, dan karakteristik generasi.