Show simple item record

dc.contributor.advisorHauw, Andreas
dc.contributor.authorYusuf, Tatang Mulyadi
dc.date.accessioned2021-03-15T07:03:46Z
dc.date.available2021-03-15T07:03:46Z
dc.date.issued2011
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1128
dc.description.abstractPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman sekarang membawa dampak pada semakin merosotnya moral dan etika masyarakat serta menimbulkan kekeringan dan kemiskinan rohani. Masyarakat dicengkeram paham-paham materialisme, konsumerisme, hedonisme dan lain sebagainya yang sebenamya bersumber dari egosentrisme. Manusia menyadari bahwa kebanyakan masalah lahir karena diri mereka sendiri, oleh karena itu lahirlah praktik-praktik yang berhubungan dengan penguasaan atau pengendalian diri. Dalam sejarah kekristenan dapat ditemukan bentuk-bentuk praktik spiritualitas yang meneoba untuk menjawab permasalahan zaman. Salah satunya adalah asketisme yang diadopsi untuk mempersiapkan orang-orang percaya menghadapi kesulitan- kesulitan, seperti penindasan, hedonisme, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan egosentrisme. Asketisme diharapkan menghasilkan sosok-sosok orang percaya yang tangguh dan menjadi solusi bagi permasalahan di zamannya. Meskipun terjadi distorsi dan perbedaan pemaknaan, inti dari praktik ini adalah membantu orang-orang percaya untuk melatih diri dalam menghadapi tantangan kehidupan. Asketisme mengakar di atas dasar penyangkalan diri. Yesus Kristus memanggil semua pengikut-pengikut-Nya untuk menjalani kehidupan menyangkal diri. Dengan penyangkalan diri, seseorang dimampukan untuk menjadi murid sejati; murid yang meneladani kehidupan gurunya. Kristus merupakan sosok yang sempuma dan orang- orang percaya dipanggil untuk meneladani kehidupan-Nya. Menjadi seperti Kristus merupakan titik final dari kehidupan orang percaya dan untuk mencapainya diperlukan proses dan kerja keras. Asketisme merupakan bentuk usaha melatih diri agar kehidupan praktisinya sesuai dengan kehendak Allah; hidup bagi Allah dan sesama. Asketisme tidak “menghindari” dunia tetapi hadir dan menyatakan karya Kristus di dalam dunia. Asketisme membangun disiplin rohani dan memfokuskan hidup disiplin itu dalam masyarakat agar terang Kristus nyata di dalam dunia dan orang-orang dapat melihat terang itu melalui karakter Kristus yang ada di dalam orang-orang percaya.en_US
dc.publisherSeminari Alkitab Asia Tenggaraen_US
dc.subjectPenyangkalan Dirien_US
dc.subjectAsketismeen_US
dc.subjectDisiplinen_US
dc.subjectEgosentrismeen_US
dc.titleKonsep Penyangkalan Diri Dalam Injil Matius dan Relevansinya Terhadap Asketisme Kristenen_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.kodeprodi77201


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record