<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>D.Min</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/933</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 03:02:13 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-16T03:02:13Z</dc:date>
<item>
<title>Self Leadership Pemimpin Sekolah Kristen: Sebuah Analisis Naratif</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1127</link>
<description>Self Leadership Pemimpin Sekolah Kristen: Sebuah Analisis Naratif
Roosdy, Rosany Ivanova Sunaen
Self-leadership adalah proses memimpin diri sendiri, yaitu ke dalam diri sendiri. Self-leadership merupakan kepemimpinan yang dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi belum tentu dilakukan secara efektif. Secara khusus self-leadership yang dilakukan oleh pemimpin Kristen di sekolah-sekolah Kristen harus mengandung nilai-nilai Kristen. Ketika pemimpin sekolah Kristen menghadapi berbagai tantangan kemajuan zaman, mereka di tuntut memiliki kredibilitas dan integritas sebagai pemimpin Kristen yang menghadirkan nilai-nilai Kristen.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Apr 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1127</guid>
<dc:date>2017-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Respons Pendengar Jemaat Lansia Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australian Terhadap Khotbah Ekspositori</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1126</link>
<description>Respons Pendengar Jemaat Lansia Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australian Terhadap Khotbah Ekspositori
Tjiong, Joni Stephen
Dalam pelayanan khotbah ekspositori, seorang pengkhotbah perlu untuk memahami berita dari teks Alkitab yang dikhotbahkannya dan menyampaikan berita tersebut kepada para pendengarnya.  Seorang pengkhotbah perlu membuat khotbah sedemikian rupa sehingga para pendengarnya dapat memahami, merespons terhadap kebenaran, dan melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, bagaimana respons pendengar jemaat lansia IPC Randwick Sydney terhadap khotbah aplikatif?  Aplikasi khotbah sangat ditekankan di dalam Alkitab, hal ini terlihat di dalam pengajaran Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru.  Salah satu contohnya adalah khotbah rasul Paulus yang dalam khotbah-khotbahnya sangat menekankan agar setiap pendengar dapat merespons berita kebenaran dengan melakukannya. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan melakukan wawancara kepada tiga jemaat lansia IPC Randwick Sydney yang mewakili jemaat lansia gereja tersebut.  Penelitian ini menunjukkan bagaimana respons pendengar terhadap khotbah yang telah didengarnya.  Bagi mereka, uraian kebenaran Alkitab tidaklah cukup, kebenaran juga harus dinyatakan dengan pengalaman pribadi. Mereka terbuka terhadap emosi mereka, sehingga sebuah komunikasi yang menyentuh hati merupakan sebuah pola yang perlu diperhatikan oleh pengkhotbah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa khotbah yang aplikatif secara siginifikan telah menarik perhatian pendengar, sehingga mereka dapat memahami pesannya, serta dapat memotivasi pendengar untuk melakukan firman Tuhan. Dengan demikian, khotbah yang aplikatif akan membuat khotbah itu mengena pada kebutuhan pendengar dalam menjangkau pendengar jemaat lansia.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Sep 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1126</guid>
<dc:date>2017-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi tentang Efektivitas Ilustrasi yang Berbentuk Cerita didalam Khotbah Ekspositori bagi Pendengar Masa Kini</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1125</link>
<description>Studi tentang Efektivitas Ilustrasi yang Berbentuk Cerita didalam Khotbah Ekspositori bagi Pendengar Masa Kini
Soegianto, Hari
Dalam sebuah khotbah ekspsitori, tugas utama seorang pengkhotbah adalah memahami berita dari teks Alkitab yang dikhotbahkan dan membawa berita tersebut kepada para pendengarnya. Seorang pengkhotbah perlu menyusun khotbahnya sedemikian rupa, sehingga pare pendengarnya dapat memahami dan memberi respons terhadap kebenaran yang disampaikan. Khotbah seperti itu dapat dikatakan sebagai sebuah khotbah yang efektif. Salah satu unsur khotbah yang penting untuk tercapainya tujuan tersebut adalah ilustrasi khotbah. Pertanyaannya, apakah benar ilustrasi khotbah itu membuat khotbah lebih efektif? Ilustrasi khotbah seperti apa yang dapat membuat khotbah lebih efektif? Penggunaan ilustrasi yang berbentuk cerita di dalam pengajaran firman Allah bukanlah hal yang baru. Allah menggunakan berbagai cerita untuk menyatakan kehendak-Nya kepada umat. Khotbah-khotbah para nabi pada Perjanjian Lama dan khotbah-khotbah Yesus juga menggunakan cerita-cerita. Khotbah-khotbah para nabi dan Yesus itu menjadi efektif karena cerita itu disampaikan untuk tujuan tertentu, berkaitan erat dengan berita, dan disampaikan dengan baik. Selain itu, studi tentang cara kerja otak manusia, bagaimana manusia berkomunikasi, bagaimana manusia belajar, dan studi tentang khotbah, menunjukkan bahwa ilustrasi yang berbentuk cerita merupakan sarana yang baik untuk tersampaikannya pesan. Jika kita hubungkan hal ini dengan para pendengar masa kini, maka kita menemukan orang-orang lebih menyukai dan lebih mudah memahami informamsi yang bersifat visual dibanding dengan yang bersifat verbal. Mereka cenderung lebih mudah menerima jika suatu kebenaran itu disampaikan dengan cara yang lebih persuasif. Bagi mereka, pembuktian logis tidaklah cukup, kebenaran itu juga harus dinyatakan dengan pengalaman pribadi. Mereka terbuka terhadap emosi mereka, sehingga sebuah komunikasi yang menyentuh hati merupakan sebuah pola yang tepat. Karena itu, salah satu metode yang tepat untuk menyampaikan kebenaran bagi mereka yang hidup di zaman ini, bahkan di segala zaman, adalah melalui penyampaian cerita. Sebuah cerita dapat menjadi sebuah sarana yang baik dalam menyampaikan sebuah pesan pengajaran, karena ia tidak hanya menyentuh proses berpikir seseorang, tetapi juga emosi dan imajinasinya. Dalam hal khotbah, ilustrasi yang berbentuk cerita merupakan unsur penting dalam khotbah di zaman ini. Melalui penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa khotbah yang menggunakan ilustrasi yang berbentuk cerita secara signifikan lebih menarik perhatian pendengar, lebih mudah dipahami pesannya, dan lebih menginspirasi/memotivasi pendengar, dibandingkan dengan khotbah yang tidak menggunakan ilustrasi yang berbentuk cerita. Dengan demikian, penggunaan ilustrasi yang berbentuk cerita dalam khotbah ekspositori akan membuat khotbah itu menjadi lebih efektif dalam menjangkau pendengar masa kini.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Mar 2015 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1125</guid>
<dc:date>2015-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Suatu Penelitian terhadap Kebutuhan Penderita Terminal Illnes</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1124</link>
<description>Suatu Penelitian terhadap Kebutuhan Penderita Terminal Illnes
Samuel, Vonny
Sehat dan sakit telah menjadi bagian kehidupan setiap orang baik orang beriman maupun tidak. Sakit penyakit yang terjadi dalam diri manusia, khususnya yang dikategorikan terminal illness, saat ini bahkan teknologi kedokteran yang paling mutakhir belum sanggup mengobatinya secara tuntas. Kondisi tersebut menimbulkan banyak problem bagi penderita yang mengalami terminal illness yang disebabkan sakit penyakitnya. Banyak dokter, pelayan medis dan pelayan pastoral rumah sakit dalam pelayanan mereka kepada orang sakit melihat pentingnya perhatian pada aspek spiritual dalam dukungan doa dan perhatian kasih telah memberi kontribusi yang positif bagi kesembuhan dan kesehatan penderita. Alkitab mencatat perhatian Allah kepada orang sakit lewat pelayanan Tuhan Yesus dan pengikut-Nya telah memperbaiki hidup umat. Maka, pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Apa kebutuhan hakiki penderita terminal illness denga tiga pertanyaan penunjang penelitian: Pertama, bagaimana pandangan hidup dan penderita menilai dirinya sendiri; Kedua, bagaimana perasaan penderita ketika pertama kali mendengar dirinya didiagnosis menderita terminal illness; Ketiga, bagaimana kehidupan aspek spiritual sebelum dan sesudah sakit. Penemuan dari pertanyaan tersebut itulah yang dipaparkan dan dibahas. Hasil penemuan dari penelitian menunjukkan bahwa pandangan hidup dan penilaian diri responden sederhana dalam arti telah merasa puas bila dapat bekerja dan menghidupi keluarganya. Ketika responden pertama kali mendengar dirinya didiagnosis menderita terminal illness ia membayangkan "saya akan mati," kemudian timbul perasaan takut. Ada yang takut karena memikirkan masalah dana pengobatan, ada juga yang takut karena masalah pekerjaan, keluarga yang ditinggalkan dan juga masalah keselamatan. Mengenai kehidupan aspek spiritual responden sebelum sakit sebagian telah berjalan baik dan sebagian lagi mengaku tidak. Namun, setelah sakit semua responden mengatakan spiritualitasnya terkoreksi menjadi lebih baik termasuk yang sebelumnya tidak memperhatikan spiritualitas. Responden yang mendapatkan kesembuhan mengaku bahwa spiritualitas di dalam Tuhan menolongnya melewati masa-masa sulit pemulihan pasca operasi. Responden yang tidak mengalami kesembuhan fisik berkeyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkannya dan menghibur lewat dukungan doa dan perhatian hamba Tuhan. Pengakuan responden bahwa Tuhan mengujinya dengan sakit penyakit sekaligus Tuhan juga penolongnya pada saat menderita sakit.
</description>
<pubDate>Thu, 01 May 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1124</guid>
<dc:date>2014-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
