<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 02/2 (Oktober 2001)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/39</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 16:16:20 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T16:16:20Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 02/2 (Oktober 2001)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/2e0a641a-5f74-4711-b08e-49411c5b7aaa/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/39</link>
</image>
<item>
<title>Kembali kepada Khotbah Ekspositori</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/49</link>
<description>Kembali kepada Khotbah Ekspositori
Kosasih, Andri
Disadari atau tidak disadari, abad 21 telah memberikan tantangan tersendiri bagi dunia kekristenan. Tantangan-tantangan ini telah coba ditanggapi dan diantisipasi oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Daniel Lucas Lukito lewat tulisannya di Veritas tiga edisi lalu. Dalam tulisannya, Lukito memberikan empat kecenderungan pemikiran teologi abad 21 sebagai tantangan yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen, khususnya yang sangat dekat dengan disiplin teologi.1 Tulisan tersebut telah menggelitik penulis untuk mengaitkan dan menghubungkannya dengan masa depan khotbah Kristen. Penulis melihat bahwa khotbah memegang peranan penting di dalam gereja. Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan D. Martyn Lloyd-Jones yang menyatakan bahwa sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.2 Bahkan bagi Earl V. Comfort, mimbar adalah suatu faktor yang menentukan dalam sejarah gereja.3 Intinya, mereka ingin mengatakan bahwa khotbah adalah faktor yang harus ada dalam kehidupan gerejawi. Ironisnya, yang terjadi ialah khotbah mendapat perhatian yang kurang serius dari beberapa golongan Kristen. Jika Lukito melihat bahwa teologi telah dianggap sebagai urusan “sepele,” penulis mengamati hal yang sama juga telah merambat dan terjadi dalam dunia khotbah. Sebagian orang Kristen lebih mempedulikan bagaimana khotbahnya bisa dimengerti dan memuaskan pendengar, tanpa memikirkan kealkitabiahannya. Yang lebih menguatirkan lagi, ada pengkhotbah yang membaca suatu bagian Alkitab sebagai “pendahuluan” khotbah, tetapi kemudian mengkhotbahkan suatu topik yang lain, misalnya isu-isu kontemporer, atau disiplin ilmu tertentu yang menjadi keahliannya. Bagian Alkitab yang sudah dibaca tidak sedikit pun disinggung. Persoalan di atas hanyalah sekelumit masalah yang dihadapi dalam khotbah Kristen, khususnya khotbah ekspositori yang menurut beberapa pakar homiletika disebut sebagai khotbah alkitabiah.4 Lewat tulisan ini penulis mencoba untuk mengajak para pembaca dan pengkhotbah Kristen untuk melihat dan menemukan kembali esensi dan keefektivitasan khotbah ekspositori guna menghadapi tantangan abad 21. Melalui artikel ini penulis mencoba untuk melihat apakah khotbah ekspositori itu dalam pengertian yang benar, kepentingan serta keuntungannya. Dalam artikel ini penulis tidak akan memberikan pelajaran homiletika, khususnya dalam hal membuat khotbah ekspositori. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan kesimpulan dan aplikasi dari artikel ini bagi dunia khotbah di Indonesia. Diharapkan lewat tulisan ini para pembaca dan pengkhotbah Kristen tetap memiliki semangat dalam berkhotbah dan membakar kembali semangat mereka yang mulai memudar.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/49</guid>
<dc:date>2001-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rekonsiliasi Etnis : Misi Bersama Komunitas Kristen Tionghoa</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/48</link>
<description>Rekonsiliasi Etnis : Misi Bersama Komunitas Kristen Tionghoa
Dawa, Markus Dominggus L.
Dalam diskusi yang diadakan bersama oleh Kantor Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Arief Budiman menyampaikan bahwa ada empat konflik besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Salah satu dari keempat konflik itu adalah konflik antara Cina dan pribumi … Komunitas Kristen Tionghoa sebagai suatu entitas sosial hidup dan melayani di tengah konflik-konflik tadi, khususnya di tengah arus pusaran konflik etnis Tionghoa dan etnis Indonesia lainnya.  … komunitas Kristen Tionghoa pertama tama  hadir untuk menjadi saksi Kristus bagi bangsa ini. Untuk mencapai hal ini maka diperlukan suatu terobosan radikal dari pihak komunitas Kristen Tionghoa untuk membuka jalan bagi tersampaikannya dan diterimanya Injil Yesus Kristus, kepada dan oleh seluruh bangsa ini. …  Untuk itu saya akan menempuh prosedur demikan: pertama-tama saya akan mengajak Anda membaca sejarah untuk mencari tahu di mana akar konflik Tionghoa dengan etnis Indonesia lainnya berada. Dari situ saya akan membawa Anda sejenak merenungkan apa yang dikatakan Alkitab mengenai misi rekonsiliasi, dan akhirnya saya mencoba memberikan beberapa kemungkinan yang dapat saja terjadi bila misi rekonsiliasi ini kita tuntaskan atau tidak kita tuntaskan hari ini.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/48</guid>
<dc:date>2001-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire : Antara Banking Concept of Education, Problem Posing Method, dan Pendidikan Kristen di Indonesia</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/47</link>
<description>Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire : Antara Banking Concept of Education, Problem Posing Method, dan Pendidikan Kristen di Indonesia
Pramudya, Wahyu
Paulo Freire adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen — baik dari kalangan Protestan maupun Katolik— yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Latar belakang sosial budaya dari pemikiran Freire yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus untuk pendidikan Kristen di Indonesia. Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan filsafat pendidikan Freire. Untuk itu akan dipaparkan latar belakang kehidupannya dan pandangannya tentang pendidikan. Penulis akan memaparkan secara garis besar alur pemikiran pendidikan Freire untuk menampilkan “gambar besar” bagi pembaca yang belum terlalu mengenalnya. Selanjutnya, secara khusus penulis akan menyoroti dikotomi antara “Banking Concept of Education” dan “Problem Posing Method” yang tampaknya menjadi salah satu pemikirannya yang khas. Berikutnya, penulis akan mencoba berdialog secara kritis dengan pemikiran Freire untuk melihat kemungkinan-kemungkinan sumbangsihnya yang aplikatif dan kontekstual untuk pendidikan Kristen di Indonesia.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/47</guid>
<dc:date>2001-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kehidupan Alam Perasaan Yesus Kristus : Teladan Sempurna bagi Para Pendidik Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/46</link>
<description>Kehidupan Alam Perasaan Yesus Kristus : Teladan Sempurna bagi Para Pendidik Kristen
Elia, Heman
Unsur perasaan telah menjadi bagian yang penting dalam pendidikan masa kini. Adele Faber dan Elaine Mazlish adalah dua dari antara sekian penulis yang menulis tentang mendidik anak dengan menyisipkan unsur perasaan dalam metode pengajaran mereka. Pendekatan ini ternyata cukup efektif dalam mendidik anak baik di rumah maupun dalam ruang kelas, bahkan secara dramatis membantu mengurangi masalah-masalah seperti menghukum anak, absensi, perilaku, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Dengan pendekatan ini anak merasa dipahami dan sekaligus diajar pula untuk memahami perasaan orang lain. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun silam ketika pendidikan lebih didominasi oleh pengajaran yang mengandalkan logika yang rasional. Sekalipun banyak penulis sekuler telah memasukkan unsur perasaan ke dalam pendidikan, namun para penulis dan pendidik Kristen tampaknya masih enggan mendalami hal ini. Emosi acap kali dipandang sebagai unsur kepribadian yang tidak dapat diandalkan karena mudah berubah seiring dengan perubahan situasi atau suasana hati. Harus diakui bahwa memanfaatkan perasaan dalam pendidikan bukanlah satu-satunya metode untuk memperoleh hasil maksimal. Ungkapan kehati-hatian J. Dobson3 yang menyatakan, “Emosi itu harus selalu diperhitungkan dengan kemampuan berpikir dan kemauan,” patut memperoleh perhatian. Meski demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa literatur Kristen di bidang pendidikan yang memperhitungkan unsur perasaan masih tergolong langka. Tulisan ini diharapkan dapat mengisi kelangkaan tersebut. Tulisan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai kehidupan emosi Yesus Kristus yang acap kali terabaikan dalam diskursus mengenai pribadi-Nya. Diharapkan uraian mengenai alam perasaan Yesus ini dapat membangkitkan inspirasi para pembaca untuk juga memperhitungkan unsur perasaan dalam tugas kita melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yakni menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai pentingnya fungsi dan peran emosi dalam perkembangan individu, alam perasaan Yesus dan dampaknya dalam hidup pelayanan-Nya, beberapa aspek pengajaran Yesus yang penuh dengan perasaan yang patut dan dapat dijadikan teladan dalam pendidikan Kristen, setelah itu diakhiri dengan beberapa kesimpulan penting.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Oct 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/46</guid>
<dc:date>2001-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
