<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 15/2 (Oktober 2014)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/302</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 16:08:15 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T16:08:15Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 15/2 (Oktober 2014)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/621b8ad0-0bd2-42d1-a029-844931fbd85f/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/302</link>
</image>
<item>
<title>Teori Perang yang Adil : Sebuah Penjelasan dan Argumentasi Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/308</link>
<description>Teori Perang yang Adil : Sebuah Penjelasan dan Argumentasi Kristen
Mamahit, Ferry Yefta
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan dan berargumentasi secara etis-teologis dan alkitabiah tentang apa dan mengapa sebagian gereja Kristen berpegang pada pandangan teori perang yang adil dalam etika perang mereka. Teori perang yang adil adalah sebuah pandangan yang melegitimasi perang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan moral yang komprehensif. Perang dapat dibenarkan secara moral jika pemerintah telah mempertimbangkan prinsip-prinsip keadilan pada saat sebelum perang (jus ad bellum), saat perang (jus in bello), dan setelah perang (jus post bellum). Pandangan berikut praktiknya telah diterima oleh dan mendapat pembenaran secara etis-teologis dan biblis di dalam gereja-gereja Protestan arus utama.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/308</guid>
<dc:date>2014-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Teologi Agama dari Perspektif Reformed : Sebuah Sketsa</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/307</link>
<description>Teologi Agama dari Perspektif Reformed : Sebuah Sketsa
Sulistio, Thio Christian
Di kalangan Injili, teologi agama, yaitu sebuah pandangan teologis Kristen terhadap agama-agama lain, tidak banyak dibahas. Di tengah-tengah kekurangan tersebut penulis mencoba memberikan kontribusi untuk membangun teologi agama dari perspektif reformed. Dari perspektif reformed, manusia adalah makhluk religius dalam pengertian bahwa ia secara narutal akan mencari Allah karena penyataan Allah secara umum kepada manusia. Tetapi karena dosa manusia, respon ini menjadi respon yang salah arah, respon kepada sesuatu yang lain selain kepada Allah yang benar. Namun, karena anugerah umum Allah, manusia tersebut tidak sepenuhnya hidup dalam kesalahan, tetapi dapat memiliki kebenaran-kebenaran relligius yang menjadikan kepercayaan mereka mirip atau serupa dengan Kristen.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/307</guid>
<dc:date>2014-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pembenaran melalui Kesatuan dengan Kristus : Sebuah Tinjauan atas Doktrin Imputasi</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/306</link>
<description>Pembenaran melalui Kesatuan dengan Kristus : Sebuah Tinjauan atas Doktrin Imputasi
Yahya, Pancha W.
Imputasi adalah doktrin penting dalam kekristenan. Namun, setelah melakukan studi eksegesis terhadao teks-teks penting yang dianggap mendukung doktrin ini: Roma 4:1-25 dan 2 Korintus 5:21, penulis menyimpulkan bahwa teks-teks tersebut tidak berbicara mengenai kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada orang percaya. Di sisi lain, Roma 4:1-25 menekankan mengenai pembenaran karena iman kepada Yesus yang sudah dibangkitkan untuk pembenaran kita. Sedangkan dalam 2 Korintus 5:21, "Dia (Yesus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita," tidak berbicara mengenai imputasi dosa orang percaya kepada Yesus, tetapi menyatakan mengenai Yesus yang adalah kurban dosa yang tidak bercacat. Selain itu, beberapa ayat dalam 2 Korintus 5 (ay. 14-15, 17, 18, 19, 21) justru menyatakan bahwa pembenaran dilakukan kepada orang percaya karena mereka telah menyatu dengan Kristus. Karena Kristus telah dibenarkan dengan kebangkitan-Nya, orang percaya yang ada di dalam-Nya pun dibenarkan juga bersama-sama dengan Kristus (Rm. 4:25).
</description>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/306</guid>
<dc:date>2014-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Roma 13:1-7 : Ketaatan kepada Pemerintah sebagai Wujud Kesadaran Moral</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/305</link>
<description>Studi Roma 13:1-7 : Ketaatan kepada Pemerintah sebagai Wujud Kesadaran Moral
Hendi
Saat ini, demokrasi di Indonesia sedang dalam keadaan bahaya karena ada upaya dari para elite politik untuk memasung kedaulatan rakyat. Mereka mengabaikan tanggung jawab moral kepada rakyat. Demokrasi yang dikuasai para elite politik yang demikian akan melahirkan pemerintah yang hanya memikirkan kelompok tertentu bukan rakyat banyak. Studi Roma 13:1-7 dengan pendekatan analisis colon mengajarkan bahwa ketaatan merupakan suatu wujud tanggung jawab moral yang tinggi kepada Allah selain kesadaran akan adanya murka Allah. Ketaatan itu harus dimiliki oleh para elite politik sebagai bagian dari warga negara (dalam hal ini ketaatan kepada pemerintah). Ketaatan kepada pemerintah dari setiap elite politik menunjukkan tanggung jawab moral yang baik. Jika demokrasi dikuasai oleh orang demikian, kehidupan demokrasi di Indonesia akan sehat dan menyejahterakan rakyat.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2014 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/305</guid>
<dc:date>2014-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
