<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 02/1 (April 2001)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/28</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 16:02:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T16:02:29Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 02/1 (April 2001)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/9cdbe45a-76ab-4875-88a9-199c686268bf/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/28</link>
</image>
<item>
<title>Hal Kebetulan dalam Rut 2:3</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/38</link>
<description>Hal Kebetulan dalam Rut 2:3
Karman, Yongky
Salah satu terjemahan yang perlu direvisi menurut Cornelius Kuswanto adalah kata “kebetulan” yang terdapat di Rut 2:3, Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (TB, BIS; TL “untung”).1 Menurut Kuswanto, “Rut datang ke ladang Boas kelihatannya seperti sebuah kebetulan, namun sebenarnya langkah Rut dipimpin oleh pengaturan Tuhan” (h. 137). Ia mengusulkan agar terjemahan “kebetulan” pada ayat tersebut diubah menjadi “Dan terjadilah adanya (ternyata) ia berada di tanah milik Boas” (h. 138). Untuk mendukung usulannya, Kuswanto menggunakan Rut 4:1 sebagai contoh, disertai analisis sintaktikal, yang sayangnya, tidak dilakukan untuk Rut 2:3 yang justru menjadi subjudul artikelnya, “Rut Sampai di Ladang Boas: Kebetulan atau Pengaturan Tuhan?” Oleh karena itu, paparan berikut akan mengisi kekurangan analisis leksikal, semantik, dan sedikit sintaktikal dari Rut 2:3. Sebagai catatan, penulis tidak keberatan dengan usulan Kuswanto bahwa terjemahan “kebetulan” pada Rut 4:1 seharusnya tidak ada.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Apr 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/38</guid>
<dc:date>2001-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Daging yang Dipersembahkan kepada Berhala-Berhala : Suatu Eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/37</link>
<description>Daging yang Dipersembahkan kepada Berhala-Berhala : Suatu Eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13
Maleachi, Martus A.
Tulisan ini merupakan suatu eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13 yang bertujuan untuk melihat bagaimana Paulus secara persuasif mendorong orang-orang percaya di Korintus untuk tidak makan “daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala.” Paulus menggunakan argumentasi yang berdasarkan pada pertimbanganpertimbangan motivasi, teologis dan praktis untuk mendukung pendapatnya. Kebenaran perikop ini tidak hanya dapat diterapkan pada orang-orang Korintus saat itu, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di Indonesia pada saat ini yang hidup dalam dunia yang multikultural.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Apr 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/37</guid>
<dc:date>2001-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Rahasia Jati Diri Yesus dalam Injil Markus : Suatu Tinjauan terhadap Tesis William Wrede</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/36</link>
<description>Rahasia Jati Diri Yesus dalam Injil Markus : Suatu Tinjauan terhadap Tesis William Wrede
Gunawan, Suliana
Kristologi dimulai ketika manusia mulai mengungkapkan kesaksian imannya di dalam nama Yesus. Momentum paling krusial yang tercatat di dalam Kitab Injil adalah ketika Petrus memberikan pengakuan kepada Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16; Mrk. 8:29; Luk. 9:20). Suatu pengakuan yang dibenarkan oleh Yesus sendiri, sesuai dengan kesadaran diri-Nya sebagai Mesias yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Dalam sejarah kekristenan studi kristologi yang signifikan telah banyak dilakukan dan telah memunculkan tantangan terhadap pemahaman kristologi tradisional gereja-gereja Kristen yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Pemahaman-pemahaman yang baru selalu berupaya untuk mencapai suatu konklusi yang berbeda dengan pemahaman sebelumnya dengan cara mempertanyakan kembali kesadaran Mesianik dari Yesus. Akibatnya pertanyaan ini telah menimbulkan banyak perdebatan di kalangan para teolog karena setiap mereka berusaha untuk memberikan jawaban menurut sudut pandangnya masing-masing. Salah seorang dari antara jajaran teolog yang terlibat dalam perdebatan yang sengit ini adalah William Wrede. Ia adalah pelopor yang berinisiatif menganalisa dan menghargai natur teologi kitab-kitab Injil Sinoptik. Ia jugalah yang pertama kali memprakarsai studi Injil Markus dengan teorinya yang disebut Messianic Secret. Karena upaya inilah Injil Markus dapat dikenal sebagai Injil yang mengandung berita teologis yang berbeda, bukan hanya sekadar mengisahkan kembali sejarah pelayanan Yesus. Sebelum Wrede Injil Markus secara tradisional diperlakukan sebagai kitab yang paling sedikit bernilai teologis meskipun kitab ini diterima sebagai kitab yang paling dapat dipercaya dan sebagai dokumen historis dari antara keempat Injil.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Apr 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/36</guid>
<dc:date>2001-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Gereja Sebagai Umat Pilihan Allah dalam Pandangan Clemens Romanus</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/35</link>
<description>Gereja Sebagai Umat Pilihan Allah dalam Pandangan Clemens Romanus
Thianto, Yudha
Surat 1 Clement yang ditulis oleh Clemens Romanus (Clement of Rome) adalah salah satu naskah gereja abad permulaan yang dianggap memegang peranan penting dalam sejarah gereja mula-mula. Surat ini ditulis pada akhir abad pertama Masehi, sekitar tahun 95-96, dan merupakan tulisan Kristen paling awal sesudah penutupan kanon Perjanjian Baru yang kita miliki. Naskah ini berbentuk surat kiriman dan dicantumkan bersama-sama dengan salinan naskah Perjanjian Baru yang dimuat dalam Codex Alexandrianus, yang selalu dinilai memiliki bobot yang tinggi dalam analisa tekstual untuk salinan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kenyataan bahwa surat ini dicantumkan bersama-sama dengan salinan Perjanjian Baru membuktikan bahwa gereja abad mula-mula sangat menghargai surat ini. Selain itu, surat ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Syriac, dan Coptic, sehingga isinya dapat dibaca oleh lebih banyak umat Kristen di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di sekitar Yunani, Siria, Palestina dan Mesir pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Masehi. …Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menunjukkan bahwa bagi Clement, pemahaman mengenai gereja sebagai umat pilihan Allah yang diikat erat dengan tali kasih satu dengan yang lain, adalah cara terpenting untuk mengatasi dan mencegah perpecahan di antara orang percaya. Menurut Clement gereja sebagai umat pilihan Allah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menunjukkan kasih satu kepada yang lain.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Apr 2001 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/35</guid>
<dc:date>2001-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
