<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 11/2 (Oktober 2010)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/211</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 15:58:03 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T15:58:03Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 11/2 (Oktober 2010)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/0020b54d-1d86-47d7-bd7f-9b7e48b4c29c/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/211</link>
</image>
<item>
<title>Membuat Aplikasi Khotbah yang Efektif</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/218</link>
<description>Membuat Aplikasi Khotbah yang Efektif
Kosasih, Andri
Artikel ini ditulis dengan ... penekanan pada “mengapa” dan “bagaimana” membuat aplikasi khotbah.  Penulis berasumsi bahwa setiap pembaca artikel ini adalah para rohaniwan yang setidaknya pernah mendapatkan pelajaran homiletika dasar tatkala menempuh studi teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi.  Tulisan ini dibuat sepraktis mungkin tanpa bermaksud meniadakan bobot akademisnya sama sekali, sehingga setidaknya bisa memberikan “solusi pertama” bagi para hamba Tuhan yang rutin berkhotbah di gereja masing-masing dalam membuat aplikasi khotbah.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/218</guid>
<dc:date>2010-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Identitas dan fungsi dari Para Nabi di dalam Kitab Tawarikh</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/217</link>
<description>Identitas dan fungsi dari Para Nabi di dalam Kitab Tawarikh
Maleachi, Martus A.
Tawarikh adalah sebuah kitab yang ditulis pada zaman pascapembuangan.   Walaupun penulis kitab Tawarikh (selanjutnya disingkat Chr)  memakai materi sejarah yang sama dengan kitab Samuel dan Raja-raja, penulis melakukan beberapa perubahan untuk menyampaikan pesannya kepada umat Allah yang kembali dari pembuangan.  Di satu pihak hal ini memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat bagaimana umat Allah di dalam masa pascapembuangan mengerti pesan dari kitab-kitab yang dikutip oleh Chr.  Di lain pihak, hal ini juga menimbulkan hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam.  Salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah apakah Chr memiliki pengertian yang sama dengan kitab Samuel-Raja-raja tentang identitas dan fungsi para nabi, khususnya setelah runtuhnya kerajaan Daud.   Tulisan ini berpendapat bahwa Chr memiliki konsep yang sama mengenai fungsi kenabian dengan kitab Samuel-Raja-raja.  Fokus dari pembahasan adalah karya dari dua orang ahli yakni Newsome dan Schniedewind,  sedangkan metodologi yang dipakai adalah perbandingan antara kitab Samuel-Raja-raja dan Tawarikh.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/217</guid>
<dc:date>2010-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya bagi Orang Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/216</link>
<description>Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya bagi Orang Kristen
Fu, Timotius
“Hari Sabat” adalah salah satu tema yang utama dan kontroversial di dalam dunia kekristenan.  Dikatakan utama, karena tema ini adalah salah satu perintah dalam Dekalog; kontroversial, karena tema ini memiliki muatan teologis yang kental sehingga dari tema ini muncul pengajaran yang sangat beragam, bahkan cenderung saling bertolak belakang.  Di ujung yang satu terdapat kelompok orang Kristen yang mengabaikannya karena menganggap hari Sabat sama sekali tidak ada relevansinya dengan Kristen hari ini.   Di ujung yang berbeda terdapat kelompok lain yang menerapkan pendekatan makna literal terhadap tema ini sehingga mengelompokkan orang-orang yang gagal menjalankan perintah tentang hari Sabat ke dalam kumpulan orang yang akan menerima hukuman kekal dalam api neraka.   Sedangkan di tengah-tengah kedua kubu terdapat kelompok orang Kristen yang menerapkan perintah ini secara tersirat. &#13;
Perbedaan pengertian dan penerapan di atas bermuara pada penafsiran makna dari tema hari Sabat di dalam Alkitab.  Untuk itu, makalah ini akan menyorot makna-makna teologis dari tema ini berdasarkan prinsip-prinsip teologia biblika  dengan pendekatan tematis.  Di akhir makalah ini akan ditampilkan implikasi dari makna biblika tentang hari Sabat sebagai bahan rujukan untuk penerapan perintah keempat Dekalog ini bagi orang Kristen yang hidup di zaman anugerah.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/216</guid>
<dc:date>2010-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Integrasi Spiritualitas dan Kapabilitas Kepemimpinan Gereja Tionghoa</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/215</link>
<description>Integrasi Spiritualitas dan Kapabilitas Kepemimpinan Gereja Tionghoa
Lim, Alex
Sejarah perjalanan gereja-gereja Tionghoa di Indonesia hampir mencapai satu abad,  namun ditinjau dari aspek spiritualitas dan ke-pemimpinan tampaknya belum terlihat signifikan, baik dari segi kualitas spiritualnya maupun dalam hal kapabilitas kepemimpinan.  Citra kepemimpinan spiritual dalam gereja-gereja Tionghoa menghadapi krisis yang cukup memprihatinkan.  Beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya kepercayaan jemaat terhadap kepemimpinan gereja Tionghoa mencakup masalah spiritual, kapabilitas, integritas dan penyalahgunaan kuasa kepemimpinan itu sendiri.  Masalah spiritual adalah kepemimpinan yang tidak memiliki korelasi dengan kehidupan spiritualitasnya, sehingga pemimpin kehilangan pengaruh spiritualitasnya.  Gejala ini timbul karena terjadinya missing link antara aspek spiritual dan kepemimpinan.  Dampaknya, para pemimpin mempraktikkan kepemimpinan yang tidak spiritual, yang tidak ada bedanya dengan kepemimpinan sekular.  Kapabilitas pemimpin dalam gereja lokal terlihat pada aspek kurang terampilnya seorang pemimpin, baik pada segi kemampuan memimpin maupun kemampuan berorganisasi.  Ditemukan adanya pemimpin gereja yang kurang kapabilitasnya namun ditempatkan pada posisi penting dan strategis, serta ada yang terpilih bukan karena kapabilitasnya, tetapi karena kapasitas ekonominya yang mapan. &#13;
Tujuan penulisan ini diharapkan dapat menciptakan kepemimpinan Kristen yang integratif antara aspek spiritualitas dan kapabilitas, agar dapat menghasilkan kepemimpinan yang alkitabiah; spiritual, fungsional, profesional, dinamis, dan efektif.
</description>
<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/215</guid>
<dc:date>2010-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
