<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 10/1 (April 2009)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/181</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 15:58:42 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T15:58:42Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 10/1 (April 2009)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/3b831056-37e7-436f-a664-8d89d28d34e5/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/181</link>
</image>
<item>
<title>Karakteristik Gembala yang Disukai Tuhan (Yeh. 34:1-16)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/195</link>
<description>Karakteristik Gembala yang Disukai Tuhan (Yeh. 34:1-16)
Lim, Budianto
Naskah khotbah
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/195</guid>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Fenomena Buku The Secret, A New Earth dan Spiritualitas ala Oprah Winfrey : Bagaimanakah Gereja Menyikapinya?</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/194</link>
<description>Fenomena Buku The Secret, A New Earth dan Spiritualitas ala Oprah Winfrey : Bagaimanakah Gereja Menyikapinya?
Lie, Bedjo
Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia.  Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca.   Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan teologi dalam kedua buku tersebut.  Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/194</guid>
<dc:date>2009-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pascamodernisme terhadap Hermeneutika Biblika</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/189</link>
<description>Pengaruh Pascamodernisme terhadap Hermeneutika Biblika
Yahya, Pancha W.
“There is a spectre haunting classical Christianity, that of postmodernism,” demikian R. Albert Mohler, Jr. mengawali artikelnya yang dimuat dalam sebuah antologi yang bertemakan “tantangan pascamodernisme bagi kekristenan injili.”   Pendapat Mohler tersebut adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pengaruh (negatif) pascamodernisme merupakan ancaman bagi kekristenan, termasuk di dalam ranah hermeneutika.   Menurut Roy B. Zuck, hermeneutika adalah “sains sekaligus seni” dalam menafsir Alkitab.   Hermeneutika, di satu sisi adalah sains karena ia adalah teknik menafsir Alkitab dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu,  di sisi lain ia juga adalah seni karena melibatkan imajinasi dan perasaan penafsir, serta membutuhkan keterampilan penafsir untuk menerapkan kaidah-kaidah penafsiran tersebut.   Namun, herme-neutika tidak berhenti pada teknik menafsir Alkitab; hermeneutika juga harus mengaplikasikan hasil penafsiran tersebut pada situasi kontemporer.   Selain sains dan seni, Osborne menambahkan satu unsur lagi dalam hermeneutika, yaitu tindakan spiritual (spiritual act karena menurutnya, penafsiran Alkitab dilakukan di bawah pimpinan Roh Kudus).  Sehubungan dengan adanya pengaruh pascamodernisme terhadap hermeneutika biblika, artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: (1) Apa saja dan sejauh mana pengaruh (negatif) pascamodernisme terhadap hermeneutika? (2) Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengaruh-pengaruh tersebut? (3) Apakah pascamodernisme hanya berdampak negatif?  Adakah sumbangsih positif dari pascamodernisme bagi hermeneutika biblika?
</description>
<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/189</guid>
<dc:date>2009-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Peran Kekristenan dalam Pendamaian : Refleksi dari Surat Filemon tentang Kekerasan Tersistem</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/188</link>
<description>Peran Kekristenan dalam Pendamaian : Refleksi dari Surat Filemon tentang Kekerasan Tersistem
Hauw, Andreas
Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan peran kekristenan dalam menciptakan kedamaian dalam suatu kekerasan yang tersistem.  Peran kekristenan dalam situasi ini tampak melalui usaha Paulus mendamaikan Onesimus dengan Filemon (lapisan luar), di mana keduanya ada dalam suatu hubungan kekerasan tersistem yaitu: perbudakan (lapisan dalam).  Oleh sebab itu, saya akan membuktikan bahwa pendamaian yang dilakukan Paulus adalah pendamaian yang bukan saja dalam konteks hubungan pribadi antara Filemon dengan Onesimus, tetapi juga pendamaian dalam konteks perbudakan masyarakat Greco-Roman waktu itu. Karena itu, tugas pertama adalah memperlihatkan bahwa perbudakan adalah sebuah kekerasan tersistem.  Untuk ini metode yang dipakai adalah dengan menganalisis data di luar Alkitab mengenai perbudakan.  Ini disebabkan karnea minimnya data dari Paulus tentang perbudakan selain dari surat Filemon, sedangkan data dari para penulis PB lainnya tidak relevan dalam bahasan ini karena tidak memberitahu apa pandangan Paulus tentang itu.   Lebih lanjut, dalam surat Filemon, Paulus tidak memberikan satu pernyataan pun tentang apakah ia menerima, mendiamkan atau menolak perbudakan.  Data di luar Alkitab yang paling diperhatikan adalah sosial ekonomi masyarakat Greco-Roman pada awal kekristenan dalam hubungannya dengan perbudakan. Lalu, tugas kedua yang perlu ialah memperlihatkan bahwa usaha pendamaian Paulus itu dimulai dari sistemnya, lalu keluar—ditransformasi—yang tampak dalam retorika Paulus untuk akhirnya Filemon dapat berbaik kembali dengan Onesimus.  Karena itu, saya akan menggunakan analisis sastra-retoris terhadap surat Filemon.  Dari analisis ini pula, saya akan menyediakan hal-hal praktis yang dapat dilakukan dalam proses pendamaian masa kini.  Saya berharap melalui uraian ini, kita bisa menemukan identitas keinjilian kita sebagai “pembawa damai” (pada lapisan dalam dan luar) sebagaimana yang dikehendaki Tuhan Yesus terjadi pada anak-anak Kerajaan Allah.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/188</guid>
<dc:date>2009-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
