<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Consilium 23</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1398</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 03:08:40 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-16T03:08:40Z</dc:date>
<image>
<title>Consilium 23</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/9e4676dc-9cfa-4dbe-92ec-f7803110a536/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1398</link>
</image>
<item>
<title>Book Review: Craig G. Bartholomew dan Michael W. Goheen, The Drama of Scripture: Finding our Place in the Biblical Story, ed. ke-2 (Grand Rapids: Baker, 2014), Kindle.</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1404</link>
<description>Book Review: Craig G. Bartholomew dan Michael W. Goheen, The Drama of Scripture: Finding our Place in the Biblical Story, ed. ke-2 (Grand Rapids: Baker, 2014), Kindle.
Hendradi, Nathaniel
Book review
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1404</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Panggilan Untuk Hidup Berbeda Sebagai Motif Kesinambungan Antar Perjanjian: Tinjauan Terhadap Hukum Perbudakan Di Perjanjian Lama Dan Khotbah Di Bukit Di Perjanjian Baru</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1403</link>
<description>Panggilan Untuk Hidup Berbeda Sebagai Motif Kesinambungan Antar Perjanjian: Tinjauan Terhadap Hukum Perbudakan Di Perjanjian Lama Dan Khotbah Di Bukit Di Perjanjian Baru
Nicholas, Samuel; Calvary, Philif
Kesinambungan antara motif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering kali mengundang ketertarikan para ahli biblika untuk menyeledikinya. Beberapa usulan telah diberikan mengenai kesinambungan motif antar perjanjian ini. William Dubreel mengusulkan penciptaan baru, Charles H. Scobie mengusulkan pendekatan multietnik, Martus A. Maleachi dan Hendra Yohanes mengusulkan tentang kehadiran Allah. Dalam makalah ini, Penulis melihat dan mengusulkan sebuah motif baru yaitu panggilan kepada umat Allah untuk hidup berbeda. Motif tersebut dapat dilihat dengan analisa teologis hukum secara khusus hukum perbudakan yang mewakili Perjanjian Lama dan membandingkannya dengan Khotbah Yesus di Bukit yang mewakili Perjanjian Baru. Dengan motif ini, setidaknya ada dua implikasi bagi orang percaya. Pertama, orang percaya juga punya panggilan untuk hidup berbeda dari dunia. Kedua, Motif ini semakin membuktikan kontinuitas, kesinambungan dan konsistensi Alkitab dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1403</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>“Perbuatlah Ini Menjadi Peringatan Akan Aku”: Tinjauan Terhadap Konsep Ekaristi Herman Bavinck Menurut Konsep Ekaristi John Zizioulas</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1402</link>
<description>“Perbuatlah Ini Menjadi Peringatan Akan Aku”: Tinjauan Terhadap Konsep Ekaristi Herman Bavinck Menurut Konsep Ekaristi John Zizioulas
Wijaya, Jonathan Cristian
Ekaristi merupakan salah satu elemen penting dalam iman Kristen yang mempersatukan orang percaya dan yang telah dilakukan sejak abad pertama. Melalui Ekaristi, orang-orang dapat melihat bahwa gereja adalah satu di dalam Kristus yang telah menebus dan melayakkan mereka untuk menjadi umat-Nya. Meskipun demikian, beberapa aliran gereja dari kalangan Injili melihat dan memaknai Ekaristi dengan penekanan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan dalam melihat Ekaristi ini menjadi sesuatu yang nampaknya mengaburkan nilai Ekaristi sebagai lambang pemersatu umat Allah. Oleh karena itu, penulis ingin meninjau konsep Ekaristi gereja Injili (yang diwakili oleh Herman Bavinck) dan memberi usulan yang dilihat dari kacamata tradisi Ortodoks Timur (yang diwakili oleh John Zizioulas). Harapannya, bukan untuk meniadakan satu tradisi dan menggantikannya dengan tradisi yang lain, melainkan untuk menjadi suatu perbandingan yang bersifat komplementari (saling melengkapi).
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1402</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Tinjauan Terhadap Pandangan Rasul Petrus Mengenai Peran Wanita Kristen Dalam 1 Petrus 3:1-7</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1401</link>
<description>Tinjauan Terhadap Pandangan Rasul Petrus Mengenai Peran Wanita Kristen Dalam 1 Petrus 3:1-7
Kristianto, Lukas Anwar
Bila membaca beberapa ayat dalam surat 1 Petrus 3, bagi sebagian orang, ada beberapa ayat yang merendahkan wanita. Misalnya perintah istri untuk tunduk kepada suami (ay. 1); pernyataan Sara yang menamai Abraham sebagai “tuan”-nya (ay. 6); bahkan istri disebutnya sebagai “kaum yang lebih lemah” (ay. 7). Namun, apakah benar bahwa Petrus merendahkan wanita dan meletakkan posisi mereka pada golongan kelas bawah? Makalah ini berusaha membuktikan bahwa Petrus, melalui teks yang dituliskannya, tidak sedang merendahkan wanita. Bahkan Petrus justru sangat menghargai kaum wanita yang adalah rekan yang setara dalam Injil. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan jawaban tentang tuduhan pandangan Petrus terhadap wanita.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1401</guid>
<dc:date>2021-09-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
