<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 07/1 (April 2006)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/123</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 12:37:33 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-24T12:37:33Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 07/1 (April 2006)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/84a4e052-39da-4337-aad8-345f60920a6c/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/123</link>
</image>
<item>
<title>Menjadi Jemaat Multikultural : Suatu Visi untuk Gereja-Gereja Tionghoa Injili Indonesia yang Hidup di Tengah Konflik Etnis dan Diskriminasi Rasial</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/132</link>
<description>Menjadi Jemaat Multikultural : Suatu Visi untuk Gereja-Gereja Tionghoa Injili Indonesia yang Hidup di Tengah Konflik Etnis dan Diskriminasi Rasial
Dawa, Markus Dominggus L.
Etnis Tionghoa adalah bagian dari keanekaragaman bangsa ini. Meski berkali-kali hal ini coba disangkali dan mungkin hendak dihapuskan dari kenyataan bangsa ini, etnis Tionghoa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari negeri ini. Etnis Tionghoa bukan orang asing di negeri ini.  Etnis Tionghoa juga adalah salah satu pemilik sah sekaligus pendiri bangsa ini. Gereja-gereja Kristen Tionghoa harus menyadari benar kenyataan tersebut.  Sebagai bagian dari keseluruhan etnis Tionghoa di Indonesia, gereja-gereja Kristen Tionghoa adalah juga pemilik sah dan sekaligus pendiri bangsa ini.   Kesadaran ini perlu dipupuk dan diperkuat dalam ingatan orang-orang Kristen Tionghoa agar di tengah-tengah berbagai luka sejarah yang dipikulnya, gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat menjadi alat Tuhan menyembuhkan keutuhan hidup bangsa yang terus bergumul dengan keanekaragamannya ini.  Di tengah bangsa yang terus berjuang untuk menjadi bangsa yang menerima etnis Tionghoa sebagai pemilik sah dan pendiri bangsa ini, gereja-gereja Tionghoa mendapat kesempatan istimewa untuk menjadi zona rekonsiliasi antar-etnis, khususnya di antara etnis Tionghoa dan non-Tionghoa.  Kalau demikian maka pertanyaan selanjutnya yang penting untuk didiskusikan adalah:  Bagaimana caranya?  Bagaimana caranya supaya gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat berperan menjadi alat Tuhan yang membawa kesembuhan kepada hidup bangsa ini?  Dalam bagian ini saya akan mendiskusikan apa yang saya sebut jemaat multikultural. Untuk maksud itu, saya akan mengajak kita melihat terlebih dahulu apa yang dikatakan Alkitab mengenai jemaat multikultural, selanjutnya kita akan melihat beberapa gagasan sejenis yang telah diungkapkan oleh beberapa orang.  Pertama-tama saya akan mengangkat pemikiran Andrew Sung Park, profesor teologi di United Theological Seminary, Dayton, Ohio, dalam bukunya Racial Conflict &amp; Healing: An Asian-American Theological Perspective.   Selanjutnya saya akan mengangkat hasil penelitian gereja-gereja di AS yang dilakukan oleh sebuah tim dari Emory University, yang dipimpin oleh Charles R. Foster dan Theodore Brelsford dan dibukukan dalam buku We Are the Church Together: Cultural Diversity in Congregational Life.   Terakhir saya akan membahas sedikit salah satu dokumen penting Presbyterian Church in the United States (PCUSA) tentang visi mereka menjadi gereja multikultural dan dibukukan dalam buklet yang berjudul “Living the Vision: Becoming A Multicultural Church.” &#13;
Di bagian akhir, berangkat dari diskusi di bagian sebelumnya, saya akan coba tunjukkan bagaimana jemaat multikultural dapat menjadi alat yang sangat efektif membawa kesembuhan kepada luka-luka disintegrasi bangsa ini dan selanjutnya beberapa gagasan tentatif tentang bagaimana jemaat multikultural dapat diwujudkan dalam gereja-gereja Tionghoa masa kini.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/132</guid>
<dc:date>2006-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Mencoba Mengerti Kesulitan untuk Mengampuni : Perjalanan Menuju Penyembuhan Luka Batin yang Sangat Dalam</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/131</link>
<description>Mencoba Mengerti Kesulitan untuk Mengampuni : Perjalanan Menuju Penyembuhan Luka Batin yang Sangat Dalam
Soesilo, Vivian A.
Pengalaman mengkonseling beberapa orang yang mengalami luka batin, terutama Bu Lely (BL, 38 tahun) membuat saya tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kesulitan untuk mengampuni.  Sejak kecil BL mengalami berbagai penganiayaan dan pernikahannya dengan Pak Kadir (PK) selama 8 tahun makin membuatnya mengalami berbagai kekerasan fisik, emosi, seksual yang dahsyat dan bertubi-tubi.  Setelah 32 bagian dari tubuhnya retak, 8 di antaranya di bagian kepala, dan BL berubah dari orang yang atletis menjadi orang yang perlu bantuan kursi roda, BL menceraikan suaminya. PK harus mendekam di penjara selama 16 tahun.  Waktu saya berjumpa dengan BL untuk pertama kalinya, BL sudah dikonseling oleh beberapa konselor lainnya selama dua tahun.  Memang dapat dimengerti kalau hati, pikiran dan gerak-gerik BL penuh dengan kemarahan.  Dalam beberapa konseling kemudian, saya bertanya apakah BL mau mempertimbangkan pengampunan dalam proses penyembuhan luka batinnya yang sangat dalam. “Tidak mungkin!” Tetapi dua bulan kemudian BL berkata, “Saya sudah mengampuni PK!” Menurut BL, ini pertama kalinya, ia dapat menyebut nama PK dalam tiga tahun terakhir.  Keputusan mengampuni PK membuat beban BL terlepas, katanya seperti bayi yang baru lahir saja.  Namun dua bulan kemudian BL berubah, “Saya tidak akan mengampuni mama, ia [tidak mau sebut nama PK] dan pemerintah!  Saya sudah putus hubungan dengan mereka semua!”  Sebulan kemudian BL menunjukkan kepada saya setumpuk karya seni yang baru ia gambar tentang berbagai orang penting dalam hidupnya dan berkata, “Saya sudah mengampuni dan berbaik kembali dengan mama.”  Beberapa minggu kemudian BL “berbicara” dengan PK melalui kursi kosong selama beberapa menit, secara simbolis “membakar” kepahitan batinnya di lilin yang saya bantu nyalakan (BL sulit mengkoordinasi jarinya, salah satu dampak dari kekerasan fisik yang diterimanya).  Namun beberapa minggu kemudian, BL kembali sulit mengampuni lagi.  Dalam proses lebih mengerti kesulitan untuk mengampuni ini membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini.  Saya membagi artikel ini menjadi lima bagian, yaitu definisi singkat pengampunan, mengurangi “perasaan tidak mengampuni,” manfaat pengampunan, kesulitan mengampuni, dan ringkasan.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/131</guid>
<dc:date>2006-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Telaah Kritis terhadap Konsep Doa Peperangan Rohani Tingkat "Strategis" menurut Peter Wagner</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/130</link>
<description>Telaah Kritis terhadap Konsep Doa Peperangan Rohani Tingkat "Strategis" menurut Peter Wagner
Soerono
Prinsip “risiko besar, untung besar” tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis, namun juga dalam hal doa, demikian keyakinan C. Peter Wagner.  Di sini ia sedang berbicara tentang jenis doa peperangan rohani pada tingkat “strategis” (DPRTS).  Menurutnya, doa jenis ini seharusnya menjadi prioritas utama dari umat Tuhan karena doa ini memiliki efektivitas yang tinggi dalam kaitan dengan kegiatan penginjilan.  Mengapa bisa demikian? Karena doa ini difokuskan untuk menggempur kekuatan yang berada di balik setiap pemberontakan terhadap Allah dan penolakan terhadap pemberitaan Injil.  Di Indonesia, praktik ini mencuat ke permukaan melalui gerakan-gerakan doa yang diadakan baik dalam skup kota, daerah, maupun nasional.  Umumnya gerakan-gerakan doa itu dimulai dengan pemetaan rohani untuk wilayah-wilayah yang menjadi fokus doa.  Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengidentifikasi kekuatan kegelapan yang berkuasa atas daerah tersebut.  Setelah selesai dengan fase ini, barulah upaya-upaya doa diarahkan untuk mememerangi kuasa-kuasa tersebut sampai pintu pemberitaan Injil terbuka. Artikel ini akan menyoroti DPRTS dari sudut pandang doa itu sendiri.  Dengan kata lain, makalah ini tidak dimaksud untuk menguji secara eksegetikal ayat-ayat pendukung yang dipergunakan oleh Wagner untuk membangun argumentasi tentang roh-roh teritorial dan DPRTS.  Makalah ini juga tidak akan memaparkan uraian yang ekstensif tentang ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang peperangan rohani.  Ayat-ayat Alkitab akan dibahas secara selektif dalam rangka menempatkan konsep DPRTS dalam kerangka pemahaman doa alkitabiah dan tradisional.  Untuk itu, kita akan pertama-tama melihat deskripsi singkat mengenai apa itu DPRTS, lalu dilanjutkan dengan menempatkan DPRTS di dalam peta besar pemahaman dan praktik doa, kemudian tinjauan praktik DPRTS, dan diakhiri dengan sebuah proposal doa peperangan rohani yang lebih alkitabiah.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/130</guid>
<dc:date>2006-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sebuah Tinjauan terhadap Teologi dan Praktik Doa Anthony De Mello</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/129</link>
<description>Sebuah Tinjauan terhadap Teologi dan Praktik Doa Anthony De Mello
Yahya, Pancha W.
Frater Anthony de Mello, S. J. (1931-1987) adalah tokoh yang kontroversial.  Di satu pihak ia adalah guru spiritual yang berpengaruh luas. Buku-buku spiritualitasnya  yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti: Spanyol, Portugis, Italia, Jepang, Mandarin, Indonesia, Bengali, dan Thailand telah mempengaruhi banyak orang.   Tak hanya itu, ia telah berkeliling dunia untuk memimpin seminar-seminar dan latihan-latihan doa bagi ribuan orang.   Pada tahun 1972 Mello mendirikan Institute of Pastoral Counselling and Spirituality di de Nobili College, Poona, India yang diberi nama Sadhana.   Di tempat inilah banyak orang dari berbagai negara, terutama para Jesuit,  telah datang untuk mengikuti retreat-retreat doa yang dipimpin oleh de Mello.&#13;
Namun, sebelas tahun selepas kematian de Mello,  tepatnya tanggal 24 Juni 1998, dewan kardinal Roma Katolik mengeluarkan notifikasi yang menyatakan  tulisan-tulisannya tidak sesuai dengan ajaran Roma Katolik.  Dewan tersebut menilai ajarannya: (1) berpandangan apophaticism, yaitu menyatakan bahwa Allah tidak dapat dimengerti dan dijelaskan dengan bahasa manusia.   Padahal, menurut notifikasi tersebut, Alkitab berisi pernyataan yang benar dan sah tentang Allah, (2) merendahkan kedudukan Yesus dengan memandang-Nya sebagai guru seperti guru-guru yang lain.  Hanya Yesus yang telah mengalami kesadaran dan kemerdekaan penuh, sedang guru-guru lain belum, (3) memandang kejahatan sebagai sebuah ketidaktahuan dan tidak ada hukum moral yang objektif. Notifikasi itu mendapat reaksi keras dari banyak orang terutama kolega de Mello, para Jesuit di India.  Mereka amat menyesalkan keluarnya notifikasi tersebut. Menurut mereka dikeluarkannya notifikasi itu lebih didasarkan atas buku-buku posthumous-nya, sehingga tidak mewakili keseluruhan pemikirannya.   Francis Stroud, Frater Jesuit yang telah bekerja sama dengannya mengelola pusat spiritualitas di Fordham University di New York, menanggapi notifikasi itu, “It’s extremely hard for me to believe that anyone would find anything de Mello says to be anything other than orthodox.  He was a very devout churchman.”   Perlu diketahui bahwa meski ia mengaku banyak dipengaruhi oleh tradisi dan agama-agama lain, namun ia tetap menyatakan kesetiaannya pada ajaran Roma Katolik.   Penolakan atas notifikasi itu terlihat dengan tidak ditariknya buku-bukunya dari peredaran atau tidak dicantumkannya notifikasi tersebut pada buku-buku Mello kendati dewan kardinal waktu itu memerintahkan hal tersebut. Malahan buku-bukunya terus dicetak dan menjadi best seller. Mengingat besarnya pengaruh dari tulisan-tulisan de Mello dan adanya kontroversi atas tulisan-tulisan tersebut, maka artikel ini akan membahas tulisan-tulisannya tersebut.  Namun artikel ini tidak membahas keseluruhan tulisannya, tetapi secara khusus akan memaparkan secara ringkas teologi dan praktik doanya.  Kemudian penulis akan meninjau teologi dan praktik doa tersebut, dan diakhiri dengan aplikasi bagi umat Kristen.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/129</guid>
<dc:date>2006-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
