<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Veritas 06/2 (Oktober 2005)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/113</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 16:39:07 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-14T16:39:07Z</dc:date>
<image>
<title>Veritas 06/2 (Oktober 2005)</title>
<url>http://https://repository.seabs.ac.id:80/bitstream/id/ee7e4d4d-3e93-42d4-a74a-0bd9bdf59ab5/</url>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/113</link>
</image>
<item>
<title>Fellow-Workership (Ef. 4:7-16)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/122</link>
<description>Fellow-Workership (Ef. 4:7-16)
Maleachi, Martus A.
Naskah khotbah
</description>
<pubDate>Sat, 01 Oct 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/122</guid>
<dc:date>2005-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakteristik Pendidikan Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/121</link>
<description>Karakteristik Pendidikan Kristen
Santoso, Magdalena Pranata
Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman dan pergumulan penulis dalam pelayanan di dunia pendidikan Kristen selama ini.  Ada ungkapan kepedihan dan keprihatinan, tetapi juga ada harapan dan keyakinan.  Penulis percaya bahwa pelayanan pendidikan Kristen merupakan pelayanan yang sangat efektif untuk melayani Tuhan.  Karena itu sangat penting untuk memahami apakah sesungguhnya karakteristik pendidikan Kristen?  Supaya setiap hamba Tuhan dan pendidik Kristen dapat sungguh meyakini bahwa yang sedang dikerjakannya adalah benar-benar pendidikan yang Kristen dan bukan pendidikan dengan label Kristen.  Karakteristik yang akan dibahas ini dapat menjadi sebuah refleksi (perenungan) untuk melakukan evaluasi diri.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Oct 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/121</guid>
<dc:date>2005-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pluralitas Agama : Tantangan "Baru" bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/120</link>
<description>Pluralitas Agama : Tantangan "Baru" bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia
Pramudya, Wahyu
Pluralitas agama sebenarnya bukan fenomena baru bagi bangsa Indonesia.  Selama masa orde baru saja, secara de jure  diakui oleh pemerintah eksistensi lima agama dan puluhan bahkan mungkin ratusan aliran kepercayaan.   Setiap penduduk Indonesia menghadapi kenyataan pluralitas agama ini di dalam kehidupan keseharian.  Bertetangga, bekerja, dan bersekolah dengan orang yang berlainan agama adalah suatu kenyataan yang dengan mudah ditemui di dalam kehidupan sehari-hari.  Pluralitas agama telah menjadi bagian dari apa artinya menjadi penduduk Indonesia.  Menyangkal adanya realita ini adalah sebuah kenaifan. Pluralitas agama menyimpan potensi sekaligus bahaya tersendiri.  Kemajemukan agama itu bisa menjadi potensi yang kuat, apabila kemajemukan tersebut dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada.  Apabila hal ini terjadi, maka akan terbentuk sebuah mozaik kehidupan yang indah dan enak untuk dinikmati.  Di sisi lain, kemajukan itu sendiri menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar.  Perbedaan-perbedaan ajaran agama, apabila tidak ditanggapi dengan bijaksana, maka dapat memicu sebuah pertikaian yang mendalam dan meluas.  Tampaknya itu yang sedang terjadi pada saat ini. Tulisan ini akan mencoba menganalisis praktik pendidikan agama saat ini dan mencoba mencari satu bentuk pendidikan agama yang cocok di tengah pluralitas agama yang ada.  Ini bukan tantangan baru, tetapi “baru,” karena toh sebenarnya tantangan ini sudah cukup lama ada, tetapi tampaknya belum ada tanggapan yang cukup memadai.  Selain itu tantangan ini disebut “baru” karena dinamika relasi antar agama yang terus berkembang hingga saat ini.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Oct 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/120</guid>
<dc:date>2005-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description>Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial
Mamahit, Ferry Yefta
Sebuah penelitian terhadap keprihatinan sosial gereja injili, khususnya terhadap masalah kemiskinan di dua kota besar Jakarta dan Bandung, mengungkapkan bahwa sekitar 20-27% dari seluruh responden telah mengalokasi dana untuk urusan sosial dan itu dilakukan 1-4 kali per tahun, dan kemungkinan hal itu dilakukan secara seremonial, maksudnya dilakukan pada saat perayaan-perayaan gerejawi seperti Paskah, Natal atau acara tertentu.   Informasi ini mengisyaratkan betapa kurangnya tanggapan komunitas orang percaya terhadap masalah kemiskinan.  Tindakan sosial belum menjadi sebuah “gaya hidup.”  Di satu sisi, gereja injili memang masih sedang bergumul dengan masalah kekurangpekaan terhadap masalah-masalah sosial, namun, di sisi lain, masalah kemiskinan itu sendiri telah menjadi hal yang tidak dapat dihindari.  Celakanya, kemiskinan ini terjadi karena sebuah proses “alamiah” yang tak terelakkan: globalisasi.  ... Tulisan ini akan berusaha menjelaskan apa globalisasi itu dan bagaimana dampak-dampak negatif yang dihasilkannya, khususnya dalam bidang sosioekonomi.  Selanjutnya, pembahasan akan ditujukan kepada bagaimana sikap gereja sejauh ini dan apa yang menyebabkan sikap seperti itu terjadi.  Akhirnya, tulisan ini akan mengusulkan semacam kerangka konseptual teologis (conceptual theological framework) sederhana, bagaimana gereja injili dapat menjadi agen perubahan (transformasi) sosial di tengah-tengah gelombang globalisasi dengan segala akibatnya yang tak terbendung itu.  Sementara banyak orang di Indonesia dan sebagian negara-negara miskin dan berkembang menghadapi dampak sosioekonomis globalisasi, diharapkan melalui tulisan ini, gereja-gereja injili dapat semakin berperan sebagai agen transformasi sosial, yang dapat menyatakan Kristus sebagai Penebus yang membarui dan mentransformasi masyarakat (bdk. paradigma Christ the Transformer of Culture dari Richard Niebuhr).
</description>
<pubDate>Sat, 01 Oct 2005 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/119</guid>
<dc:date>2005-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
