<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/873">
<title>Consilium 21</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/873</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/884"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/883"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/882"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/881"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-16T03:05:09Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/884">
<title>Bird, Michael F., Jesus the Eternal Son: Answering Adoptionist Christology.</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/884</link>
<description>Bird, Michael F., Jesus the Eternal Son: Answering Adoptionist Christology.
Wijaya, Jonathan Cristian
</description>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/883">
<title>Adakah Kehidupan Setelah Kematian? Sebuah Respons Terhadap Fisikalisme</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/883</link>
<description>Adakah Kehidupan Setelah Kematian? Sebuah Respons Terhadap Fisikalisme
Suriyanto
Pada umumnya, manusia menyadari bahwa kematian adalah realitas yang pasti terjadi dalam hidupnya. Akan tetapi, pada saat yang sama realitas kematian juga menimbulkan pertanyaan lain yang ditanyakan oleh manusia (khususnya para filsuf), yaitu apakah masih ada kehidupan setelah kematian (is there an afterlife).  Pertanyaan ini, menurut Charles Taliaferro, semakin mendapatkan perhatian serius dalam bidang filsafat agama.  Beberapa filsuf tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian karena mereka memegang filsafat fisikal-isme; sebuah pandangan yang mengatakan bahwa manusia hanyalah sebuah entitas fisik semata.  Ketika manusia mati, tubuhnya akan hancur perlahan-lahan sehingga tidak ada kehidupan setelah kematian.&#13;
Menurut John H. Whittaker, kalangan umat beragama juga menanyakan pertanyaan yang sama dan beliau menyimpulkan bahwa pada umumnya kalangan umat beragama percaya adanya kehidupan setelah kematian.  Penulis sebagai orang Kristen juga percaya adanya kehidupan setelah kematian, sebagaimana Alkitab mengajarkannya (Ibr. 9:27; Yoh. 11:25-26; Luk. 23:42-43). Oleh sebab itu, artikel ini ditulis untuk merespons pandangan fisikalisme, agar para penganut-nya memikirkan ulang posisi mereka tentang kehidupan setelah kematian. Pertama, penulis akan menunjukkan alasan mengapa adalah masuk akal untuk memercayai kehidupan setelah kematian. Kedua, penulis akan memaparkan argumen-argumen yang menunjukkan adanya kehidupan setelah kematian. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan dan implikasi adanya kehidupan setelah kematian baik bagi penganut fisikalisme dan orang Kristen.
</description>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/882">
<title>Kritik Terhadap Eksistensi Manusia  Dalam Konsep Reinkarnasi Buddhisme</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/882</link>
<description>Kritik Terhadap Eksistensi Manusia  Dalam Konsep Reinkarnasi Buddhisme
Tenggana, Elisa
Pada bulan Juli 1997, Dalai Lama keempat belas sebagai pemimpin spiritual Tibet menyatakan bahwa jika ia meninggal, ia akan dilahirkan kembali di luar negara Tiongkok, demikian dilaporkan oleh surat kabar Asia Times pada bulan Desember 2019.  Pernyataan ini ditanggapi oleh pemerintah Tiongkok dengan mengatakan bahwa reinkarnasi Dalai Lama harus berada di bawah otoritas pemerintah Tiongkok. Dalam wawasan dunia Kristen, ini terdengar sebagai sesuatu yang irasional, karena orang Kristen percaya kelahiran dan kematian ada dalam kedaulatan Tuhan. Roh seseorang tidak mungkin bisa memilih di mana ia akan dilahirkan. &#13;
Namun harus diakui bahwa pada zaman yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi yang begitu pesat, di mana manusia mulai menggantungkan hidupnya pada materi-materi hasil ciptaan sendiri, masih ditemukan banyak orang yang percaya reinkarnasi. Reinkarnasi yang sekilas terdengar seperti suatu kepercayaan kuno, pada kenyataannya masih diyakini bukan saja oleh orang-orang awam, tetapi juga orang beberapa orang yang memiliki pengetahuan tinggi.  &#13;
Buddhisme adalah salah satu kepercayaan Timur yang mengajarkan reinkarnasi sebagai suatu bentuk “keselamatan”  Melihat reinkarnasi sebagai konsep yang irasional dan berpotensi menjadi suatu hambatan dalam mengabarkan Injil, maka penulis mencoba untuk menganalisa konsep ini dan memberikan kritik dengan prasuposisi eksistensi Allah sebagai pribadi yang ultimat. Penulis berargumen bahwa dalam wawasan dunia Kristen, Allah sebagai penciptalah yang memberikan nilai kepada manusia, dan seluruh kehidupan manusia baik suka maupun duka sepenuhnya ada di tangan Sang Pencipta. Penulis akan terlebih dahulu secara sederhana meninjau dasar kepercayaan Buddhisme sebagai latar belakang yang membantu untuk memahami konsep reinkarnasi. Kemudian penulis akan meninjau konsep reinkarnasi secara khusus dan memberikan kritik terkait dengan asal mula kehidupan dan eksistensi manusia dalam konsep ini untuk memperlihatkan bahwa nilai keberadaan manusia dalam konsep reinkarnasi tidak dapat diterima secara logika.
</description>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/881">
<title>Tinjauan Terhadap Peranan Roh Kudus Dalam Pertumbuhan Spiritual Orang Percaya</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/881</link>
<description>Tinjauan Terhadap Peranan Roh Kudus Dalam Pertumbuhan Spiritual Orang Percaya
Sharne, Ernest Emmanuel
Sebagai orang percaya, kita sudah tidak asing lagi dengan pribadi ketiga Allah yang sering dipanggil Roh Kudus. Kita—khususnya orang-orang dalam tradisi Reformed—percaya bahwa Allah Roh Kudus bekerja tidak hanya dalam penciptaan tetapi juga bekerja dalam diri orang percaya. Roh Kudus tinggal dan menetap pada orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Di dalam pekerjaan-Nya, Roh Kudus turun atas diri orang percaya, mengu-bahkan hidup, dan memberikan karunia-karunia rohani. Ia mengubah status manusia yang sebelumnya berdosa di hadapan Allah dan juga mengubah sifat dan kerohanian setiap orang percaya.&#13;
Perubahan sifat dan kerohanian pada orang percaya ini tidak terjadi secara langsung, karena natur berdosa masih ada dalam diri manusia. Manusia dalam kedagingannya masih dapat berbuat dosa. Namun, perubahan dilakukan perlahan-lahan oleh Roh Kudus, sehing-ga orang yang percaya dapat bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Peran Roh Kudus dalam pertumbuhan orang percaya inilah yang akan dibahas oleh penulis, khususnya dalam pertumbuhan spiritual. &#13;
Oleh karena itu, pertama, penulis akan membahas perkem-bangan spiritual yang akan dialami oleh orang-orang percaya yang Alkitabiah. Pembahasan yang dilakukan oleh penulis ini bertujuan untuk melihat aspek apa saja yang bertumbuh dalam perkembangan spiritualitas orang percaya. Tentunya hal ini dilihat berdasarkan Alkitab sebagai dasar dari makalah ini. Kemudian, penulis akan membahas peran apakah yang dilakukan Roh Kudus untuk menumbuhkan aspek-aspek pertumbuhan spiritualitas orang percaya. Penulis akan memaparkan apa saja yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk meningkat spiritualitas orang percaya.
</description>
<dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
