<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/75">
<title>Veritas 05/2 (Oktober 2004)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/75</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/369"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/368"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/367"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/366"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-14T16:10:19Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/369">
<title>Analisa Tekstual Markus 1:1</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/369</link>
<description>Analisa Tekstual Markus 1:1
Hauw, Andreas
Teks Markus 1:1 sudah lama menjadi salah satu pokok diskusi para ahli PB. Teks-teks kuno yang ada menyodorkan bacaan yang berbeda satu sama lain. Persoalan bertambah rumit setelah diketahui bahwa perbedaan-perbedaan teks itu sama-sama didukung oleh dokumen-dokumen yang kuat, dalam hal ini kodeks Sinaitikus. Lalu timbulah pertanyaan penting yaitu, teks mana yang asli? Hal itulah yang ingin dijawab dalam paper ini.
</description>
<dc:date>2004-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/368">
<title>Naskah Khotbah : Pengakuan dan Pengampunan</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/368</link>
<description>Naskah Khotbah : Pengakuan dan Pengampunan
Beck, James
Naskah Khotbah : Kekristenan mempunyai suatu cara yang unik untuk menghadapi masalah manusia.  Dosa adalah suatu masalah yang harus dihadapi oleh umat manusia.  Tuhan sudah memberikan kepada kita dua cara untuk menghadapi masalah dosa, yaitu pengakuan dan pengampunan. Umat Tuhan harus memberikan pengakuan kepada Tuhan dan orang lain dan menerima pengakuan dari orang-orang lain.  Umat Tuhan harus memberikan pengampunan kepada orang lain dan menerima pengampunan dari Tuhan dan orang-orang lain.  Pengakuan dan pengampunan adalah saling bergandengan.  Jadi memisahkannya maka itu hanya kulit saja, adalah artificial.  Sesi ini secara khisis akan membicarakan tentang pengakuan.  Sesi berikunnya tentang pengampunan.
</description>
<dc:date>2004-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/367">
<title>Kepemimpinan Biblika: Musa dan Ezra Sebagai Pelayan Firman</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/367</link>
<description>Kepemimpinan Biblika: Musa dan Ezra Sebagai Pelayan Firman
Barus, Armand
Setiap generasi memiliki pemimpin yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umat-Nya.  Kelihatannya tidak pernah terjadi dalam sejarah di mana, umat Allah tidak memiliki pemimpin.  Setiap generasi umat Allah membutuhkan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan konteks historis.  Artinya, pemimpin bersifat unik.  Keunikan masing-masing pemimpin menyebabkan perbandingan kepemimpinan harus dilakukan dengan memperhatikan konteks historis masing-masing.  Ringkasnya, seorang pemimpin muncul dalam konteks dan kurun waktu sejarah tertentu.  Kegagalan dan keberhasilan pemimpin terikat secara unik kepada konteks dan periode kepemimpinan.  Keberhasilan seorang pemimpin mungkin dianggap sebagai kegagalan oleh generasi berikutnya.  Sehingga perbandingan evaluatif kepemimpinan seseorang sebenarnya sulit dilakukan.  Perbandingan evaluatif yang dilakukan tanpa memperhatikan konteks historis akan memberikan penilaian bernuansa penghakiman. Meski demikian tidak berarti kontinuitas sejarah kepemimpinan tidak dapat ditelusuri di dalam gereja.  Gereja terus hadir di dalam sejarah di bawah kepemimpinan Kristus kepala gereja dan para pemimpin yang adalah hamba-hamba-Nya.  Terjadinya diskontinuitas okasional kepemimpinan gereja terutama disebabkan oleh situasi dinamis konteks di mana gereja berada.  Dengan demikian setiap diskusi mengenai kepemimpinan gereja harus memperhatikan baik unsur kontinuitas juga unsur diskontinuitas.  Beragam pemimpin diutus Allah untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di mana gereja berada.  Para pemimpin melayani-Nya dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang bersumber dari kitab suci.  Sebagaimana kebutuhan masyarakat berubah dan berbeda setiap zaman, demikian juga bentuk dan model kepemimpinan.  Meski aspek diskontinuitas perlu diperhatikan, namun tulisan ini hanya akan membahas aspek kontinuitasnya.  	Pembahasan dimulai dengan merumuskan pemimpin sebagai pelayan Allah.  Sebagai pelayan Allah pemimpin menyampaikan kehendak Allah kepada komunitas yang dipimpinnya.  Hakikat utama kepemimpinan adalah pengungkapan atau penyataan kehendak Allah bagi masyarakat.  Ringkasnya, pemimpin adalah pelayan firman Allah (the word of God).  Pelayanan dan firman Allah merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam kepemimpinan.  Keduanya membentuk aspek kontinuitas suatu kepemimpinan.  Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang memperhatikan dimensi pelayanan dan firman Allah.  Esensi fundamental suatu kepemimpinan berjalan dalam jalur kedua dimensi ini.  Apakah memang demikian model pemimpin dalam Alkitab?  Bagian berikut berusaha menguraikannya secara ringkas.
</description>
<dc:date>2004-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/366">
<title>Kutukan Yahwe Dan Spiritual Warfare Serta Dampaknya Bagi Pertumbuhan Gereja</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/366</link>
<description>Kutukan Yahwe Dan Spiritual Warfare Serta Dampaknya Bagi Pertumbuhan Gereja
Reksosoesilo, Budimolejono
Berbagai pandangan mengenai Pertumbuhan Gereja telah diberikan oleh banyak ahli, tetapi sejauh ini penulis belum menemukan adanya pembahasan yang secara khusus mengaitkan masalah Pertumbuhan Gereja dengan persoalan Spiritual Warfare.  Warren  maupun MacNair dan Meek,  misalnya, menyimpulkan hal yang sama bahwa persoalan utama Pertumbuhan Gereja ada pada faktor “sehat – tidak”-nya Gereja itu, tetapi tidak ada diskusi khusus mengenai peranan Spiritual Warfare di dalamnya.  Memang Halim,  dalam tulisannya, sudah menyoroti hubungan Gereja dengan Spiritual Warfare, tetapi sekali lagi tidak dalam proporsi disiplin Pertumbuhan Gereja yang lengkap.  Meski demikian, bukan berarti bahwa makalah ini akan secara lengkap membahas persoalan Pertumbuhan Gereja terhadap masalah Spiritual Warfare.  Makalah ini tidak lain merupakan “pemicu kecil” untuk penelitian ke arah itu.
</description>
<dc:date>2004-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
