<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/444">
<title>Veritas 17/1 (Juni 2018)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/444</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/449"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/448"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/447"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/446"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-14T16:01:27Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/449">
<title>Apologetika Prasuposisional Triperspektivalisme John M. Frame dan Aplikasinya terhadap Pemikiran Kristen Pluralis tentang Pluralisme Agama di Indonesia</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/449</link>
<description>Apologetika Prasuposisional Triperspektivalisme John M. Frame dan Aplikasinya terhadap Pemikiran Kristen Pluralis tentang Pluralisme Agama di Indonesia
Setiawan, Andry
Pluralisme menjadi kesadaran baru yang menganggap bahwa semua keyakinan memiliki kesamaan secara umum satu dengan yang lain. Implikasinya, tidak ada satu pun agama yang boleh mengklaim bahwa ia adalah satu-satunya keyakinan yang paling benar di antara agama-agama lainnya. Indonesia sebagai negara pluralis juga menghadapi problematika pluralisme agama. Dalam menghadapi ini, muncul pemikiran Kristen pluralis yang menekankan persamaan di antara agama-agama sehingga meniadakan keunikan kekristenan: Kristus dan karya keselamatan-Nya benar sedangkan agama lainnya salah. Tulisan ini akan mengenalkan model berapologetika yang membela keunikan iman Kristen di tengah tantangan pemikiran Kristen yang pluralis tentang pluralisme agama di Indonesia: apologetika prasuposisional triperspektivalisme John M. Frame yang diuraikan melalui apologetika konstruktif (normatif), defensif (eksistensial), dan ofensif (situasional).
</description>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/448">
<title>Memandang Penderitaan Melalui Perspektif The Already and The Not Yet dari Rasul Paulus</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/448</link>
<description>Memandang Penderitaan Melalui Perspektif The Already and The Not Yet dari Rasul Paulus
Limasaputra, Alexander Darmawan
Penderitaan merupakan peristiwa yang dapat dialami setiap orang. Penderitaan telah membuat orang menangis, mempertanyakan atau bahkan meninggalkan Allah. Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah tidak ada? Bukankah kalau Allah ada maka penderitaan tidak ada? Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah sudah kalah dan tidak lagi berkuasa atas dunia? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui perspektif the already and the not yet dari rasul Paulus. Penulis menjelaskan bahwa penderitaan merupakan panggilan orang percaya karena berada di masa the already and the not yet, yaitu masa di mana Yesus Kristus telah menang atas kuasa dosa, kutuk alam semesta dan pemerintahan Iblis serta merupakan masa hadirnya pemerintahan Allah di dunia, meski semua ini belum mencapai kepenuhannya. Karena itu orang percaya tidak perlu takut atau meninggalkan iman Kristen.&#13;
&#13;
Kata-kata kunci: Penderitaan, Paulus, Eskatologi, The Already and the Not Yet, Ciptaan Baru, Pemerintahan Allah, Pemerintahan Iblis, Kuasa Dosa, Kutuk Alam Semesta
</description>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/447">
<title>“The Long Journey Home?” Sebuah Analisis Teologis terhadap Metode Berteologi Thomas C. Oden</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/447</link>
<description>“The Long Journey Home?” Sebuah Analisis Teologis terhadap Metode Berteologi Thomas C. Oden
Jatmiko, Yudi
Teologi ialah disiplin ilmu yang berkembang secara dinamis, majemuk, dan progresif. Metode berteologi pada satu kurun waktu tertentu umumnya menjadi bagian dari dialektika tiada berujung metode berteologi baru yang dihasilkan. Tidak heran berbagai sintesis teologis diformulasikan demi mengarah kepada teologi yang prospektif. Anehnya, alih-alih bersifat prospektif, metode berteologi Oden bersifat retrospektif. Oden kembali kepada masa lalu, tepatnya kepada tulisan para bapa gereja. Yang menjadi masalah ialah apakah proposal Oden yang tertuang dalam metode berteologinya ini adalah proposal yang relevan, khususnya dalam konteks teologi yang majemuk di abad 21? Ini yang menjadi fokus penelitian penulis. Tulisan ini akan memaparkan dan menganalisis tiga metode yang amat kentara dalam metode berteologi Oden, yaitu teologi yang kembali kepada tulisan patristik, berakar pada warisan sejarah kekristenan Afrika awal, dan bermuara kepada penggembalaan. Melaluinya, penulis berharap mendapatkan analisis teologis yang objektif dan kontributif. Ini dikarenakan terlepas dari gerak prospektif metode berteologi pada umumnya, penulis meyakini bahwa metode berteologi Oden yang retrospektif tetap memiliki relevansi signifikan bagi konteks teologi abad 21.
</description>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/446">
<title>Pregenealogical Coherence dan Teks Awal Markus 1:41</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/446</link>
<description>Pregenealogical Coherence dan Teks Awal Markus 1:41
Kristianto, Stefanus
Diskusi teks Markus 1:41 merupakan salah satu diskusi teks yang paling menarik. Mayoritas sarjana menganggap bahwa bacaan σπλαγχνισθεὶς adalah bacaan sekunder, meskipun bacaan ini didukung oleh mayoritas saksi. Dalam tulisan ini, penulis akan menunjukkan bahwa bukti yang didapat dari analisis pregenealogical coherence makin memperkuat validitas bukti eksternal dalam mendukung bacaan σπλαγχνισθεὶς sebagai teks awal. Karena itu, bukti eksternal yang konklusif ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Di akhir tulisan, penulis akan mendiskusikan secara singkat kemungkinan transkripsional (transcriptional probability) mengapa penyalin mengubah bacaan σπλαγχνισθεὶς menjadi ὀργισθείς.
</description>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
