<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/443">
<title>M.Min</title>
<link>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/443</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1179"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1178"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1177"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1176"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-06T09:29:09Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1179">
<title>Studi tentang Efektivitas Catatan Khotbah dan Refleksi dalam Mendengarkan Khotbah di Persekutuan Pemuda Gereja Kristus Yesus Makassar</title>
<link>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1179</link>
<description>Studi tentang Efektivitas Catatan Khotbah dan Refleksi dalam Mendengarkan Khotbah di Persekutuan Pemuda Gereja Kristus Yesus Makassar
Theos, Jemmy Hartono
Khotbah sering kali tidak menggairahkan, tidak menyebabkan perubahan yang signifikan, tidak ada pertumbuhan yang nyata dalam iman, dan firman Tuhan seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Jemaat kadang tidak mengerti isi khotbah. Kalaupun mereka mengerti, mereka tidak menghubungkan kebenaran tersebut dengan kehidupan mereka, apalagi untuk melakukan kebenaran tersebut. Banyak jemaat yang meskipun mengerti isi kebenaran Alkitab namun tidak merefleksikan kebenaran tersebut ke dalam hidup mereka, sehingga mereka tidak melihat kaitan kebenaran tersebut dengan hidup mereka. Akibatnya, tidak ada perubahan sikap, tingkah laku, maupun perbuatan. Alkitab mencatat perintah Tuhan kepada para pendengar untuk tidak hanya mendengar, namun juga merenungkan, dan melakukan kebenaran yang baru saja mereka dengarkan itu. Maka, pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Apakah catatan khotbah dan pertanyaan refleksi di dalam khotbah menolong pemahaman pendengar akan pesan khotbah dan mendorong pendengar untuk melakukan khotbah yang baru saja didengarnya? Hasil penelitian menyatakan bahwa catatan khotbah dan refleksi dalam khotbah menolong pendengar untuk mengingat dan memahami kebenaran yang didengarnya, dan untuk menganalisa dan mengevaluasi kebenaran yang didengarnya dengan kehidupannya. Dengan demikian, seorang pendengar akan menindaklanjuti kebenaran yans sudah dievaluasinya itu dengan perubahan sikap dan/atau tingkah laku, atau rencana aksi ke depan.
</description>
<dc:date>2015-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1178">
<title>Penelitian tentang  Awal Kehidupan dan Aborsi menurut Firman Tuhan dan Ilmu Kedokteran sebagai Respons terhadap Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 61/2014 tentang Pengecualian atas Larangan Aborsi serta Pemahaman dan Penerapannya bagi Dokter-dokter Kristen di Tangerang</title>
<link>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1178</link>
<description>Penelitian tentang  Awal Kehidupan dan Aborsi menurut Firman Tuhan dan Ilmu Kedokteran sebagai Respons terhadap Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 61/2014 tentang Pengecualian atas Larangan Aborsi serta Pemahaman dan Penerapannya bagi Dokter-dokter Kristen di Tangerang
Priatna, Hardja
Kapan kehidupan manusia berawal sebagai satu pribadi manusia seutuhnya masih terus menjadi perdebatan di kalangan filsuf, teolog, psikolog, dan juga para dokter. Dengan disahkannya UU Kesehatan tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 61/2014 tentang kesehatan reproduksi yang mengatur tentang pengecualian atas larangan aborsi, maka di Indonesia dapat dilakukan tindakan aborsi jika ada kondisi darurat medik dan jika ibu merupakan korban perkosaan pada janin yang usinya kurang dari 40 hari terhitung dari hari pertama haid terakhir. Firman Tuhan menyebutkan janin dalam kandungan sebagai manusia seutuhnya. Ilmu kedokteran mempelajari embriologi yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sel baru yang terbentuk segera setelah pertemuan inti sel sperma dengan inti sel telur akan menggandakan DNA. Segera setelah sintesis DNA dan kromosom yang lengkap termasuk yang menentukan jenis kelamin, maka lengkaplah embrio ini menjadi manusia sebagai satu individu/pribadi. Pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah: Kapankah awal kehidupan manusia dimulai? Selanjutnya, pertanyaan tersebut berkembang menjadi: Apakah aborsi sesuai dengan firman Tuhan? Penemuan jawaban dari kedua pertanyaan ini akan dipaparkan dan dijelaskan dalam tesis ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, menurut responden, sebuah kehidupan manusia berawal sejak terjadinya pembuahan akibat pertemuan sel sperma dan sel telur. Menurut ilmu  kedoteran terkini, segera setelah pertemuan tersebut embrio sudah memiliki struktur DNA yang lengkap dan jenis kelaminnya sudah ditentukan pada hari pertama. Alkitab menuliskan adanya pribadi/kehidupan manusia sejak masih ada di dalam kandungan. Itu sebabnya responden menolak pengecualian larangan aborsi yang diatur oleh PP Nomor 61/2014. Jadi kesimpulannya, awal mula kehidupan manusia seutuhnya yang adalah ciptaan Allah dimulai sejak hari pertama pembuahan. Alkitab menolak aborsi dengan segala alasan. Dokter-dokter Kristen perlu memahami PP ini dan firman Tuhan yang mendasarinya sehingga dapat tetap menerapkan kebenaran firman-Nya.
</description>
<dc:date>2015-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1177">
<title>Penelitian terhadap Konsep Keindahan menurut Firman Tuhan dan Dosen-dosen Kristen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha</title>
<link>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1177</link>
<description>Penelitian terhadap Konsep Keindahan menurut Firman Tuhan dan Dosen-dosen Kristen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha
Sutjiawan, Elliati Djakaria
Setiap orang mempunyai konsep keindahan yang berbeda-beda dan setiap kebudayaan mempunyai apresiasi seninya masing-masing. Apa yang dikategorikan sebagai karya "seni" dan "bukan seni" di berbagai budaya tidak selalu sama. Keindahan adalah kata yang menghubungkan spiritualitas, teologi, dan kesenian. Ada perbedaan yang mendasar dari konsep keindahan menurut firman Tuhan dan konsep keindahan yang dijelaskan oleh para ahli filsafat. Seni adalah ekspresi jiwa sang seniman yang mewakili karakter pribadinya. Karyanya adalah bagian dari sikap hidupnya, kesaksian imannya dan pandangan hidupnya. Peran yang diberikan Tuhan sesuai keunikan, autensitas dan karakter pribadi si seniman, membentuk style dalam karya seni yang dihasilkan. Seni mengkomunikasikan nilai-nilai kebenaran lewat perenungan yang mendalam dari seniman tentang pengalaman kehidupan keseharian. Besar kecilnya nilai seni bergantung pada kejujuran seniman dan nilai-nilai yang diyakininya. Tujuan seni adalah untuk meningkatkan kesadaran manusia tentang realitas kehidupan dan memperkaya kualitas hidup manusia dan menambah keindahan. Mempelajari tentang konteks seni tidak terlepas dari nilai-nilai budaya masyarakat yang mencakup ideologi sosial, masalah infrastruktur, struktur perkembangan sejarah seni, tradisi seni, akulturasi budaya, dan masalah seni. Penelitian ini adalah mengenai pemahaman konsep keindahan dosen-dosen Fakultas Kristen Maranatha dan apakah pemahamannya sudah sesuai dengan konsep keindahan menurut firman Tuhan.
</description>
<dc:date>2015-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1176">
<title>Penelitian tentang Proses Pengambilan Keputusan pada Para Eksekutif Gereja Injili, dalam Terciptanya Standar Ganda Pengambilan Keputusan di Dunia Bisnis dan Negara</title>
<link>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1176</link>
<description>Penelitian tentang Proses Pengambilan Keputusan pada Para Eksekutif Gereja Injili, dalam Terciptanya Standar Ganda Pengambilan Keputusan di Dunia Bisnis dan Negara
Tenggono, Erwin
Perkembangan dunia bisnis yang pesat tentunya disertai dengan keberadaan para pimpinan di dalam organisasi, hal ini pun berlaku bagi para pemimpin Kristen yang juga terlibat dalam pelayanan di gereja, secara khususnya pada gereja injili. Dalam menjalankan kedua peran ini, menurut beberapa penulis buku Kristen antara lain: R. Paul Stevens dan Peter Tsukahira, sering terjadi suatu pemisahan dalam proses berpikir mengenai Tuhan, spiritualitas, dan bisnis. Pemisahan proses berpikir ini mengakibatkan terciptanya standar ganda dalam proses pengambilan keputusan para pimpinan ataupun eksekutif Kristen di dalam memimpin perusahaannya. Bagaomanakah dengan panggilan menjadi terang yang dituliskan oleh Rasul Matius pada Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga." Penelitian ini adalah untuk mempelajari beberapa faktor penyebab terjadinya standar ganda dalam proses pengambilan keputusan. Bagaimana sikap yang diambil para eksekutuf Kristen dalam melihat semua faktor yang ada melalui kebenaran firman Tuhan. Penulis memakai tokoh Daniel dan mendalami kitab Daniel sebagai acuan. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif untuk mendalami hal spiritualitas dan penerapannya serta penelitian kualitatif terbatas. Pada akhir penelitian didapatkan bahwa pengalaman hidup, kekuatan rasional berpikir dan keterbatasan pemahaman atas spiritualitas dan kehidupan spiritualitas merupakan faktor utama terciptanya standar ganda proses pengambilan keputusan ini.
</description>
<dc:date>2015-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
