<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/230">
<title>Veritas 12/2 (Oktober 2011)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/230</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/257"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/256"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/255"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/254"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-14T15:59:47Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/257">
<title>Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara STOA dan Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/257</link>
<description>Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara STOA dan Kristen
Lie, Bedjo
Di dalam artikel ini, penulis akan berargumentasi bahwa pandangan Kristen dan Stoa tentang kebahagiaan memiliki kesamaan signifikan yang membedakannya dengan pandangan popular modern tentang kebahagiaan Sejalan dengan Stoisisme, kekristenan lebih menekankan sisi obyektif dari kebahagiaan sebagai sesuatu yang jauh dari sekadar feeling good namun lebih terkait dengan karakter manusia. Bagi keduanya, kebahagiaan lebih merupakan kondisi etis daripada psikologis manusia. Hal ini secara jelas bertentangan dengan konotasi modern dari kata kebahagiaan yang menekankan sisi subyektif psikologis seperti perasaan senang atau puas dari manusia. Di sisi lain, penulis akan berargumentasi bahwa prasuposisi utama yang menopang konsep kebahagiaan Stoisisme bertentangan dengan wawasan dunia Kristen. Sebagai akibatnya, perilaku dan emosi yang diidolakan oleh Stoisisme menjadi bertentangan dengan Alkitab, secara khusus sebagaimana diajarkan dan dihidupi oleh Tuhan Yesus saat di bumi. Artikel ini akan dimulai dengan deskripsi pandangan Stoa tentang kebahagiaan dan peran dari kebaikan-kebaikan eksternal di dalamnya. Tanpa meninggalkan yang lain, maka tokoh Stoa yang lebih banyak dirujuk dalam tulisan ini adalah Lucius Annaeus Seneca (4 BC – 65 AD) yang hidup sezaman dengan Yesus. Ajaran Seneca sendiri telah dihargai oleh tokoh-tokoh Kristen mula-mula seperti Tertulianus, Jerome dan Agustinus. Selanjutnya, perspektif Stoisisme tersebut akan dibandingkan dengan kekristenan, terutama Sabda Bahagia Yesus dalam Kotbah di Bukit (Matius 5) yang memuat konsep kebahagiaan (makarisme) Kristen. Akhirnya, penulis akan memberikan sebuah analisa persamaan dan perbedaan dari kedua pandangan di atas sambil menunjukkan implikasinya bagi spiritualitas Kristen. Mari kita mulai dengan pandangan Stoisisme tentang kebahagiaan.
</description>
<dc:date>2011-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/256">
<title>"Dari Kekosongan Kepada Kelimpahan": Fondasi Trinitarian dari Spiritualitas Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/256</link>
<description>"Dari Kekosongan Kepada Kelimpahan": Fondasi Trinitarian dari Spiritualitas Kristen
Sidharta, Leonard
Tidak diragukan lagi mengenal Allah adalah tujuan menjadi seorang Kristen. Aquinas dan banyak teolog lain mengatakan bahwa tujuan utama dari keberadaan kita sebagai orang Kristen terletak di dalam momen ketika iman kita diubah menjadi pengetahuan, yakni ketika kita mengetahui Allah secara sempurna dengan melihat Dia muka dengan muka. … Namun, dalam pengertian tertentu, mengenal Allah tidaklah mudah atau, paling tidak, tidak senatural yang kita pikirkan. Proses mengenal Allah memerlukan kondisi tertentu, karena secara umum obyek pengetahuan kita menentukan cara kita mengetahui/mengenalnya (sebagai contoh, kita mengetahui kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan dengan cara belajar; kita tahu bermain alat musik dengan cara mempraktikkannya; dan seterusnya). Karena Allah secara absolut melampui pemahaman kita dan tidak dapat dikontrol oleh kita, tidaklah mengherankan jika cara yang benar untuk mengenal Allah akan mengejutkan dan menggoncang kita. Kekristenan (dan agama-agama lain juga di dalam derajat tertentu) mengajarkan bahwa melihat dan mengenal Allah secara sungguh-sungguh akan mengakibatkan kematian.  … Kematian di sini berarti pemusnahan ego atau sikap mementingkan diri sendiri dan mengutamakan kenyamanan pribadi, sebagaimana William James, seorang filsuf dan psikolog Amerika, ungkapkan, pengalaman religius yang sejati selalui diawali dengan penghancuran ego seseorang. Tanpa menyadari dengan mendalam bahwa kita tidak ada apa-apanya, bahwa hati atau kehidupan kita pada dasarnya adalah kosong, kita tidak dapat mengenal Allah dengan benar dan lebih menyeluruh. … Pengalaman kekosongan atau kehampaan ini pada dasarnya adalah sebuah pengalaman akan kematian  …. Selain itu, kekosongan atau kehampaan yang kita harus praktikkan bersama Kristus di sini tidak sama dengan konsep agama-agama Timur (misalnya Buddhisme) tentang kehampaan.  …  Sebab itu, kehampaan atau keputusasaan kita, yang dirasa seperti kematian, bukanlah akhir di dalam dirinya sendiri; ia hanyalah sarana untuk membawa kita kepada Allah. Kita sangat terbiasa dengan kata “Allah” sehingga kita jarang sekali sadar bahwa Allah adalah Keberadaan yang agung dan misterius yang sepenuh-penuhnya melebihi pemahaman kita dan menolak untuk dikontrol oleh keinginan dan hasrat kita. Karena Allah secara total melampaui kita namun menopang kita, mengenal Dia bagi kita tidak terpisahkan dari kematian!
</description>
<dc:date>2011-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/255">
<title>Habitus dalam Mengikut Kristus: Kaitan antara Etika Karakter dan Spiritualitas Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/255</link>
<description>Habitus dalam Mengikut Kristus: Kaitan antara Etika Karakter dan Spiritualitas Kristen
Budiman, Kalvin S.
Di dalam buku Fabricating Jesus, Craig Evans mengawali tulisannya dengan kisah singkat tentang pergeseran kehidupan rohani dari beberapa pakar Alkitab. Di antaranya adalah James Robinson, seorang ahli Perjanjian Lama, yang pada masa mudanya memiliki iman yang Injili, tetapi, menurut pengakuannya sendiri, imannya dihancurkan setelah ia berkenalan dengan higher criticism atau metode kritis dalam membaca Alkitab. Tokoh yang lain lagi adalah Robert Price, seorang ahli Perjanjian Baru, yang dididik di sekolah Injili yang cukup kuat—Gordon Conwell Theological Seminary. Pada masa mudanya ia bahkan pernah secara aktif terlibat dalam pelayanan kelompok Injili yang dikenal dengan sebutan Intervarsity. Tetapi setelah menyelesaikan studi doktoralnya akhirnya ia justru sekarang menjadi seorang agnostik. Satu contoh lagi adalah Bart Erhman, juga seorang pakar Perjanjian Baru. Di awal jenjang akademiknya ia belajar di sekolah-sekolah Injili (Moody Bible Institute dan Wheaton College), tetapi setelah menyelesaikan studi Ph.D. di Princeton Seminary, ia justru tidak lagi mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan. Menurut kacamata orang-orang Injili, beberapa contoh perjalanan hidup di atas merupakan sebuah kemunduran, bahkan kegagalan rohani. Di lain pihak, contoh-contoh seperti di atas juga sekaligus menyadarkan kita tentang proses perjalanan rohani sebagai bagian dari pertanggungjawaban iman. Saya percaya kita tidak boleh dengan gampang melempar tanggung jawab kehidupan rohani kita kepada Tuhan dengan berkata, misalnya, “Kalau kita ini memang orang pilihan, pertumbuhan rohani kita juga pasti dijamin oleh Tuhan.” Sebagai seorang Calvinis, saya tidak menyangkali sentralitas anugerah keselamatan dari Tuhan dalam perjalanan iman kita. Tetapi saya juga percaya bahwa anugerah keselamatan tidak berarti bahwa Tuhan mengambil alih seluruh proses perjalanan iman kita dan meniadakan tanggung jawab rohani dari diri kita. Justru karena anugerah itulah, maka kita dapat dengan bebas dan merdeka memulai peperangan rohani untuk mematahkan setiap cobaan dan dosa yang ada dalam diri kita dan di sekitar kita. Diogenes Allen dalam bukunya Spiritual Theology mengingatkan dengan tepat bahwa jika kita memberikan penekanan yang berlebihan pada pengalaman pertobatan atau fase awal kehidupan rohani kita, kita cenderung lupa atau beranggapan bahwa dengan sudah lahir baru dan bertobat maka kita telah mencapai tujuan akhir perjalanan hidup rohani. Padahal kelahiran baru dan pertobatan tersebut perlu sungguh-sungguh diwujudkan. Pada waktu kita menjalani kehidupan rohani sehari-hari, baru kita menyadari betapa sulitnya dan betapa banyaknya tantangan yang harus diatasi untuk dapat maju secara rohani, misalnya, tadinya tidak dapat mengasihi sesama menjadi dapat mengasihi sesama dengan tulus; atau tadinya pemarah menjadi seorang yang sabar dan dapat bertekun dalam kesabarannya. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara otomatis. Ada jurang yang lebar dan jalan yang berliku-liku di antara kedua fase tersebut. Di dalam Injil kita membaca ada lebih dari satu kali ketika Tuhan Yesus mengetahui orang berbondong-bondong mengikuti Dia atau mau menjadi murid-Nya, Ia mengambil waktu untuk menguji kesungguhan hati mereka (lihat a.l. Luk. 9:57-62; 14:25-35; Yoh. 6:60-71). Saya percaya bahwa latihan rohani merupakan bagian utama dari pertanggungjawaban iman Kristen di hadapan Tuhan. Di dalam konteks latihan rohani atau pembentukan spiritualitas Kristen itulah penulis melihat adanya manfaat yang dapat dipetik dari kaitan antara spiritualitas Kristen dengan salah satu prinsip utama dalam virtue ethics atau etika karakter. Salah satu prinsip utama dalam etika karakter yang penulis maksud di sini adalah konsep tentang habitus, yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai “kebiasaan.” Prinsip yang kedengarannya polos dan sederhana ini, di dalam konteks iman Kristen dapat memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Karena itu, dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, penulis ingin mencoba mengaitkan pemahaman tentang habitus dengan teori tentang pembentukan spiritualitas Kristen.
</description>
<dc:date>2011-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/254">
<title>Doa Bapa Kami dalam Dua Terjemahan Bahasa Melayu pada Awal Abad Ke-Tujuh Belas</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/254</link>
<description>Doa Bapa Kami dalam Dua Terjemahan Bahasa Melayu pada Awal Abad Ke-Tujuh Belas
Thianto, Yudha
Dalam tulisan ini kita akan melihat salah satu buku pegangan ajaran katekisasi yang memuat terjemahan pertama dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Buku yang penulis pelajari ini adalah buku ke dua yang diterbitkan oleh VOC untuk Hindia Timur, setelah penerbitan Kamus susunan Frederick de Houtman. Kalau buku pertama yang mereka terbitkan adalah sebuah kamus bahasa Melayu, buku yang ke dua adalah sebuah buku katekisasi yang diterbitkan pada tahun 1611. Upaya Belanda untuk menerbitkan buku katekisasi ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius untuk menanamkan ajaran Calvinisme kepada penduduk setempat. Yang lebih menarik lagi, para pendeta Belanda tidak segera menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, tetapi mereka menerbitkan dan mencetak terlebih dahulu kamus, buku katekisasi, dan khotbah-khotbah. Baru pada tahun 1629 Injil Matius diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Albert Ruyl. Dalam tulisan ini kita akan menelaah dua terjemahan paling awal dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Terjemahan pertama adalah Doa Bapa Kami yang dimuat di dalam buku katekisasi yang berjudul Sovrat ABC dan buku ini kemungkinan besar ditulis oleh Albert Ruyl. Walaupun nama Ruyl tidak ditulis dalam buku ini sebagai penulisnya, berbagai kesaksian orang-orang pada zamannya menyatakan bahwa Ruyl adalah penulis dari buku katekisasi ini. Terjemahan ke dua dari Doa Bapa Kami yang akan kita pelajari adalah terjemahan dari Sebastian Danckaerts yang dicantumkan dalam khotbah-khotbahnya yang kemungkinan besar dibawakan pada tahun 1619. Khotbah-khotbah ini tidak diterbitkan, tetapi masih disimpan dalam bentuk manuskrip. Kedua terjemahan Doa Bapa Kami ini memiliki beberapa perbedaan yang sangat penting untuk dikaji. Dengan mempelajari kedua terjemahan ini kita bisa melihat upaya-upaya para pendeta Belanda untuk mengajarkan ajaran agama Kristen yang benar kepada penduduk asli Hindia Timur. Dari penelitian ini kita akan melihat bahwa penekanan pemahaman doktrinal merupakan hal yang sangat penting dalam pandangan para pendeta Belanda. Walaupun pada masa itu mereka belum menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, mereka terlebih dahulu mengajarkan agar orang Kristen di Hindia bisa berdoa dan bisa mengerti arti dari doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan. Hal ini sangat penting, mengingat pada saat itu mereka berhadapan dengan pengikut ajaran gereja Katolik Roma yang masih tidak diizinkan berdoa dalam bahasa asli mereka. Orang-orang Katolik Roma berdoa dan menghafalkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Latin. Hanya dengan melihat bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kita dapat memahami betapa para pendeta Calvinis dari Belanda itu menginginkan pengetahuan dan pemahaman yang benar dari ajaran kekristenan. Bagi orang Kristen di Indonesia pada masa kini penelitian ini juga berharga untuk melihat bagaimana iman Kristen ditanamkan di tanah air 400 tahun yang lalu. Walau nampaknya sederhana, penelitian bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia memberikan kepada kita pemahaman mengenai identitas kita sebagai orang Kristen. Dari penelitian ini penulis berharap agar orang Kristen di Indonesia juga bisa melihat benang merah yang mengikat kita pada masa kini dengan orang-orang percaya pada masa lalu yang telah memperkenalkan pengajaran iman Kristen di bumi Nusantara.
</description>
<dc:date>2011-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
