<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/2">
<title>Theses</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/2</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1797"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1796"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-17T11:04:44Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1797">
<title>Konsep Pengampunan dalam Kitab Injil Lukas dan Implikasinya terhadap Pemulihan Luka Batin Remaja Gen Z</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1797</link>
<description>Konsep Pengampunan dalam Kitab Injil Lukas dan Implikasinya terhadap Pemulihan Luka Batin Remaja Gen Z
Novelinda, Coenelia
Generasi Z atau Gen Z adalah generasi dengan populasi yang terbesar saat ini. Tahun kelahiran mereka adalah antara tahun 1995–2010. Sebagian dari mereka adalah kelompok usia remaja, dengan rentang usia antara 15–24 tahun. Saat ini, Gen Z mengalami suatu permasalahan, yaitu luka batin. Masalah ini akan menimbulkan dampak yang negatif jika tidak diselesaikan atau dipulihkan. Banyak dari antara mereka yang tidak tahu atau salah dalam mengatasi permasalahan ini. Maka dari itu, penelitian ini bermaksud untuk menawarkan solusi untuk menolong mereka keluar dari permasalahan ini, yaitu dengan menerapkan konsep pengampunan Kristen yang tepat. Konsep pengampunan yang digagas adalah konsep pengampunan dari Kitab Injil Lukas. Jadi, penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan utama yaitu, bagaimana konsep pengampunan dalam Kitab Injil Lukas dapat menolong memulihkan luka batin, khususnya dalam pergumulan kelompok kaum muda masa kini atau remaja Gen Z?&#13;
Pertanyaan ini dijawab dengan melihat karakteristik remaja Gen Z, yaitu keakrabannya dengan dunia digital dan tingkat kecemasannya yang tinggi. Selain itu, penelitian ini juga menyorot kebutuhan mereka yang harus terpenuhi, yaitu terkait aktualisasi diri, teman sebaya, serta perlindungan atau rasa aman. Tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menjadi penyebab permasalahan luka batin muncul. Penyebab luka batin remaja Gen Z dapat terjadi karena faktor lingkungan sosial dan keluarga mereka. Luka batin ini pada akhirnya berdampak pada beberapa faktor dalam kehidupan mereka seperti sosiologis, psikologis, fisiologis, dan teologis. Luka batin ini harus segera dipulihkan.&#13;
Sedikitnya ada tiga konsep pengampunan yang dapat ditarik dari penggalian terhadap kitab Injil Lukas. Tiga konsep itu adalah sumber pengampunan yang berasal dari Tuhan, tujuan pengampunan yang adalah pertobatan, dan landasan pengampunan, yaitu kasih Kristus. Penelitian ini menjelaskan bagaimana ketiga konsep pengampunan dalam Kitab Injil Lukas ini dapat membantu remaja Gen Z untuk mempraktikkan pengampunan sehingga mereka dapat mengalami pemulihan luka batin, yaitu dengan menolong mereka mengalami anugerah pengampunan Tuhan, membimbing mereka menjadi agen-agen pertobatan Tuhan, serta mengarahkan mereka untuk menjadikan Kristus sebagai teladan mereka dalam mempraktikkan pengampunan.
</description>
<dc:date>2024-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1796">
<title>Rekonstruksi dan Implikasi Teori Perdamaian Glen H. Stassen terhadap Konflik di Papua</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1796</link>
<description>Rekonstruksi dan Implikasi Teori Perdamaian Glen H. Stassen terhadap Konflik di Papua
Mawikere, Christian Joel
Konflik di Papua sudah berlangsung lama dan hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Tanpa ada penyelesaian konflik, korban jiwa akan terus bertambah banyak serta dampak kerusakan akan terus meningkat. Penyelesaian konflik menjadi sebuah urgensi yang harus dilakukan sampai tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan akibat konflik tersebut. Untuk menyelesaikannya, butuh alternatif penyelesaian yang dapat menjawab akar konflik tersebut. Di sisi lain, teori just peacemaking hadir sebagai etika untuk merespons ketidakadilan akibat konflik. Teori ini dipercaya bahwa melalui praktik-praktik yang terdapat di dalamnya, dapat mengubah dunia menjadi lebih baik dan mendorong batas-batas perang sehingga praktik tersebut dapat menjadi panduan moral dan empiris bagi semua orang untuk bertanggung jawab dan peduli. Karena itu, untuk menyelesaikan konflik di Papua, apa dan mengapa konflik di Papua dapat terjadi dan belum adanya solusi penyelesaian sampai saat ini; serta apa dan bagaimana teori just peacemaking dapat menjawab permasalahan konflik dan memberikan implikasi baik secara teoretis maupun secara praktis bagi Papua?&#13;
Just peacemaking melalui sepuluh praktik menghilangkan perang, mampu menjadi alternatif penyelesaian konflik di Papua yang dapat menjawab akar konflik dan mencegah konflik serupa terjadi di masa yang akan datang. Untuk menjawab pertanyaan, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif dan analisis melalui pendekatan literatur. Untuk metode deskriptif, penulis menjelaskan konteks konflik di Papua dan menjelaskan dasar teologi dan teori just peacemaking. Untuk metode analisis, penulis menganalisis dua deskripsi (konteks konflik di Papua dan just peacemaking) untuk menghasilkan analisis apa dan bagaimana just peacemaking menjawab akar permasalahan konflik Papua, serta apa atau bagaimana implikasi dari teori tersebut untuk Papua.&#13;
Konflik di Papua memiliki empat isu strategis yang telah menjadi akar dari konflik, yaitu 1) sejarah integrasi Papua ke NKRI dan identitas politik Orang Asli Papua; 2) kekerasan politik dan pelanggaran HAM; 3) gagalnya pembangunan di Papua; dan 4) inkonsistensi pemerintah dalam kebijakan Otsus dan marginalisasi Orang Asli Papua. Keempat akar konflik tersebut dapat terjawab melalui praktik menghilangkan perang dari teori Just Peacemaking yang didasarkan oleh tiga prinsip utama, yaitu inisiatif penciptaan perdamaian, memajukan keadilan bagi sesama, dan komunitas yang mengasihi. Praktik yang menjadi alternatif untuk setiap akar konflik dapat berbeda-beda, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa praktik tersebut dapat dilakukan secara berulang dan terus-menerus dalam menjawab setiap akar konflik. Teratasinya akar konflik dengan bantuan teori just peacemaking bukan hanya menghentikan peperangan dan meniadakan korban jiwa, melainkan juga menciptakan kesetaraan antara Orang Asli Papua dengan masyarakat Indonesia lainnya, bahkan dengan masyarakat global dalam hal pembangunan manusia. Selain itu, Orang Asli Papua juga dapat dengan bebas untuk menikmati, mengembangkan, dan memopulerkan budaya mereka sendiri, kemudian tidak ada lagi beban moral akibat konflik, serta menghasilkan perdamaian yang bersifat berkelanjutan dengan kehadiran kelompok masyarakat sebagai penjaga perdamaian. &#13;
Perdamaian yang berkelanjutan di Papua harus diikuti dengan langkah-langkah praktis yang dilakukan oleh setiap pihak, terutama oleh Pemerintah Indonesia dan Orang Asli Papua sebagai pihak yang terlibat dalam konflik, untuk bertanggung jawab dan bekerja sama dengan kolaboratif untuk berfokus kepada penciptaan perdamaian. Tidak hanya mereka, setiap orang terlibat dalam partisipasi penyelesaian konflik dan menghadirkan perdamaian, termasuk masyarakat melalui kekuatan masyarakat, baik itu melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kelompok agama, kelompok budaya, maupun kelompok-kelompok lainnya, termasuk gereja. Gereja sebagai kumpulan orang percaya yang telah mengalami kasih Allah, terpanggil untuk terlibat dalam tanggung jawab sosial kepada mereka yang rentan, termasuk menyatakan keadilan kepada mereka yang mengalami ketidakadilan. Dengan demikian, konflik di Papua dapat diselesaikan dan perdamaian berkelanjutan dapat dihadirkan di Papua melalui partisipasi setiap masyarakat dengan menerapkan praktik-praktik dalam teori just peacemaking.
</description>
<dc:date>2024-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795">
<title>Meruwat yang Merawat: Sebuah Analisis Fenomenologis Interpretatif terhadap Pasangan Pendamping Orang dengan Skizofrenia dan Implikasinya bagi Praktik Konseling Pastoral</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795</link>
<description>Meruwat yang Merawat: Sebuah Analisis Fenomenologis Interpretatif terhadap Pasangan Pendamping Orang dengan Skizofrenia dan Implikasinya bagi Praktik Konseling Pastoral
Edno, Fide
Para keluarga yang merawat seorang yang mengalami skizofrenia seringkali luput dari perhatian orang-orang di sekitar mereka. Fokus yang lebih banyak diarahkan pada penderita gangguan kejiwaan seringkali membuat para keluarga perawat ODS terabaikan dan berujung pada kondisi fisik dan mental yang terpuruk. Dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain, biasanya pasangan pendamping ODS yang merasakan dampak paling besar. Memahami pengalaman para pasangan pendamping ODS merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai upaya meruwat para pasangan pendamping ODS tersebut agar dapat melakukan pendampingan dengan baik. Penelitian ini hendak menjawab bagaimana pengalaman pendampingan para pasangan ODS. Melalui hasil penelitian tersebut, ditarik beberapa prinsip penting dalam melakukan pendampingan konseling pastoral. Maka, untuk menjawab pertanyaan di atas, wawancara semi terstruktur dilakukan pada 3 orang partisipan yang dipilih dengan metode purposive sampling. Para partisipan merupakan para pasangan pendamping ODS yang telah melakukan pendampingan pada pasangannya selama paling kurang 1 tahun lamanya. Wawancara kemudian dianalisis dengan metode analisis fenomenologis interpretatif. &#13;
Peneliti menemukan 3 tema superordinat, yaitu: Diri yang terdampak, peran keluarga, serta peran spiritualitas dan komunitas Kristen. Ketiga tema ini terjalin dalam perspektif relasi baik dengan diri sendiri, keluarga, komunitas Kristen, dan Tuhan. Dalam kacamata fase pendampingan secara kronologis, fase awal merupakan fase yang paling sulit bagi para pasangan pendamping ODS. Dalam menghadapi kesulitan ini para partisipan cenderung mengembangkan strategi untuk bertahan secara emosi selama masa sulit yang mereka alami. Namun menolong mereka menemukan makna dan pengharapan di tengah kesulitan merupakan salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong mereka bertahan. Selain itu, Allah, spiritualitas dan komunitas Kristen mempunyai peranan krusial dalam upaya meruwat para perawat ini agar dapat bertahan bahkan memaknai kesulitan yang mereka rasakan.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794">
<title>Persepsi Siswa tentang Pengalaman Perubahan Karakter di Sekolah Kristen “X”</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794</link>
<description>Persepsi Siswa tentang Pengalaman Perubahan Karakter di Sekolah Kristen “X”
Liona, Margareth
Sekolah Kristen dipanggil untuk mengerjakan Amanat Agung, yaitu membawa setiap orang menjadi murid Kristus yang bertumbuh dalam karakter serupa Kristus. Sekolah Kristen memiliki peran yang besar untuk mengembangkan karakter sesuai dengan prinsip kebenaran iman Kristen sehingga siswa Kristen dapat menyatakan karakter Kristus dan menjalankan peran mereka sebagai seorang murid Kristus di tengah lingkungan keluarga, sekolah, gereja, dan masyarakat yang lebih luas. Namun, di tengah upaya melakukan pendidikan karakter itu didapati bahwa ada siswa yang tidak menunjukkan perubahan karakter sebagaimana yang diharapkan. &#13;
Melalui penelitian penulis menemukan empat hal yang berpengaruh terhadap perubahan karakter siswa di Sekolah Kristen X. Empat hal tersebut adalah: 1) Krisis; 2) Pengenalan akan Tuhan; 3) Hambatan pemikiran dan sosial emosional; 4) Komunitas yang mendukung perubahan karakter. Peneliti menemukan beberapa komunitas yang memberikan pengaruh besar dalam proses perubahan tersebut, yaitu keluarga, sekolah, dan gereja.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
