<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/192">
<title>M.Th.</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/192</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1788"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1787"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-15T20:51:32Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795">
<title>Meruwat yang Merawat: Sebuah Analisis Fenomenologis Interpretatif terhadap Pasangan Pendamping Orang dengan Skizofrenia dan Implikasinya bagi Praktik Konseling Pastoral</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1795</link>
<description>Meruwat yang Merawat: Sebuah Analisis Fenomenologis Interpretatif terhadap Pasangan Pendamping Orang dengan Skizofrenia dan Implikasinya bagi Praktik Konseling Pastoral
Edno, Fide
Para keluarga yang merawat seorang yang mengalami skizofrenia seringkali luput dari perhatian orang-orang di sekitar mereka. Fokus yang lebih banyak diarahkan pada penderita gangguan kejiwaan seringkali membuat para keluarga perawat ODS terabaikan dan berujung pada kondisi fisik dan mental yang terpuruk. Dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain, biasanya pasangan pendamping ODS yang merasakan dampak paling besar. Memahami pengalaman para pasangan pendamping ODS merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai upaya meruwat para pasangan pendamping ODS tersebut agar dapat melakukan pendampingan dengan baik. Penelitian ini hendak menjawab bagaimana pengalaman pendampingan para pasangan ODS. Melalui hasil penelitian tersebut, ditarik beberapa prinsip penting dalam melakukan pendampingan konseling pastoral. Maka, untuk menjawab pertanyaan di atas, wawancara semi terstruktur dilakukan pada 3 orang partisipan yang dipilih dengan metode purposive sampling. Para partisipan merupakan para pasangan pendamping ODS yang telah melakukan pendampingan pada pasangannya selama paling kurang 1 tahun lamanya. Wawancara kemudian dianalisis dengan metode analisis fenomenologis interpretatif. &#13;
Peneliti menemukan 3 tema superordinat, yaitu: Diri yang terdampak, peran keluarga, serta peran spiritualitas dan komunitas Kristen. Ketiga tema ini terjalin dalam perspektif relasi baik dengan diri sendiri, keluarga, komunitas Kristen, dan Tuhan. Dalam kacamata fase pendampingan secara kronologis, fase awal merupakan fase yang paling sulit bagi para pasangan pendamping ODS. Dalam menghadapi kesulitan ini para partisipan cenderung mengembangkan strategi untuk bertahan secara emosi selama masa sulit yang mereka alami. Namun menolong mereka menemukan makna dan pengharapan di tengah kesulitan merupakan salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong mereka bertahan. Selain itu, Allah, spiritualitas dan komunitas Kristen mempunyai peranan krusial dalam upaya meruwat para perawat ini agar dapat bertahan bahkan memaknai kesulitan yang mereka rasakan.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794">
<title>Persepsi Siswa tentang Pengalaman Perubahan Karakter di Sekolah Kristen “X”</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1794</link>
<description>Persepsi Siswa tentang Pengalaman Perubahan Karakter di Sekolah Kristen “X”
Liona, Margareth
Sekolah Kristen dipanggil untuk mengerjakan Amanat Agung, yaitu membawa setiap orang menjadi murid Kristus yang bertumbuh dalam karakter serupa Kristus. Sekolah Kristen memiliki peran yang besar untuk mengembangkan karakter sesuai dengan prinsip kebenaran iman Kristen sehingga siswa Kristen dapat menyatakan karakter Kristus dan menjalankan peran mereka sebagai seorang murid Kristus di tengah lingkungan keluarga, sekolah, gereja, dan masyarakat yang lebih luas. Namun, di tengah upaya melakukan pendidikan karakter itu didapati bahwa ada siswa yang tidak menunjukkan perubahan karakter sebagaimana yang diharapkan. &#13;
Melalui penelitian penulis menemukan empat hal yang berpengaruh terhadap perubahan karakter siswa di Sekolah Kristen X. Empat hal tersebut adalah: 1) Krisis; 2) Pengenalan akan Tuhan; 3) Hambatan pemikiran dan sosial emosional; 4) Komunitas yang mendukung perubahan karakter. Peneliti menemukan beberapa komunitas yang memberikan pengaruh besar dalam proses perubahan tersebut, yaitu keluarga, sekolah, dan gereja.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1788">
<title>Studi Komparatif tentang Peran Guru menurut Ki Hadjar Dewantara dan Perspektif Pendidikan Kristen</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1788</link>
<description>Studi Komparatif tentang Peran Guru menurut Ki Hadjar Dewantara dan Perspektif Pendidikan Kristen
Wahyudi, Ananiyas
Topik mengenai peran guru menjadi krusial untuk diteliti, terutama ketika proses pendidikan global mengalami kecenderungan dehumanisasi. Penerapan prinsip Ki Hadjar Dewantara yang mementingkan pembentukan karakter dan kemerdekaan belajar menjadi perjuangan yang penting di Indonesia, baik di sekolah umum maupun di sekolah Kristen. Namun, pendidikan Kristen perlu menemukan dan menegaskan keunikan identitas serta peran gurunya yang khas. Oleh karena itu, penelitian yang mengeksplorasi secara komparatif paradigma Ki Hadjar Dewantara dan perspektif Kristen diharapkan dapat menegaskan keunikan peran guru Kristen secara lebih utuh dan kontekstual. Metode penelitian pustaka digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimanakah keunikan peran guru menurut perspektif pendidikan Kristen jika dibandingkan dengan peran guru menurut Ki Hadjar Dewantara? Melalui pengumpulan data pustaka dan analisis komparatif ditemukan persamaan dan perbedaan antara keduanya.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis awal bahwa ada kesamaan peran guru secara pedagogis, namun ada perbedaan hakiki dalam aspek epistemologis dan teleologis. Penelitian menyimpulkan temuan yang menunjukkan relevansi nilai-nilai humanistik Ki Hadjar Dewantara sebagai wahyu umum bagi peran guru Kristen. Penelitian juga menunjukkan bahwa nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara tidak cukup memadai bagi guru Kristen dalam menjalankan perannya sebagai pelayan Tuhan, pemandu spiritualitas murid, gembala, mediator yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan kebenaran Alkitab, serta sebagai teladan murid Kristus. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keunikan peran guru dalam perspektif Kristen terdapat pada implikasi dan aplikasi wahyu khusus yang tidak ada dalam nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara.
</description>
<dc:date>2025-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1787">
<title>Relevansi Disiplin Gereja John Calvin terhadap Eklesiologi Injili Masa Kini</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1787</link>
<description>Relevansi Disiplin Gereja John Calvin terhadap Eklesiologi Injili Masa Kini
Wijaya, Hendra Kurnia
Disiplin gereja merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan gerejawi yang mengalami pengaburan makna dan pengabaian praktik di banyak gereja injili masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemikiran John Calvin mengenai disiplin gereja dan menilai relevansinya bagi pembaruan eklesiologi injili modern. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menelaah sumber-sumber primer karya Calvin, terutama Institutes of the Christian Religion, serta berbagai literatur teologi sistematik dan refleksi kontemporer.&#13;
Hasil kajian menunjukkan bahwa Calvin menempatkan disiplin sebagai bagian integral dari identitas gereja sejati (notae ecclesiae), yang berfungsi menjaga kekudusan dan kesatuan tubuh Kristus melalui tindakan koreksi yang bersifat pastoral dan kolektif. Dalam konteks injili masa kini, banyak gereja menghadapi krisis otoritas dan akuntabilitas, sehingga praktik disiplin cenderung diabaikan atau disalahpahami sebagai tindakan yang legalistik dan tidak relevan. Namun, prinsip-prinsip Calvin tetap menunjukkan relevansi teologis yang tinggi, khususnya dalam menyeimbangkan kasih dan kebenaran, serta membangun struktur komunitas yang bertanggung jawab.&#13;
Tesis ini menyumbangkan kerangka konseptual bagi pemulihan disiplin gereja dalam eklesiologi injili melalui pendekatan yang restoratif, berbasis kepemimpinan kolektif, dan didukung oleh formasi teologis jemaat. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas pemahaman historis–teologis mengenai disiplin gereja, tetapi juga menawarkan arah praktis untuk pembaruan kehidupan komunitas Kristen di tengah tantangan budaya masa kini.
</description>
<dc:date>2025-06-24T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
