<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/183">
<title>Veritas 10/2 (Oktober 2009)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/183</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/202"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/201"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/200"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/199"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-14T15:59:36Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/202">
<title>Pantaulah Sekitarmu Demi Kerajaan Allah (2Raj. 4:8-37, 8:1-6)</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/202</link>
<description>Pantaulah Sekitarmu Demi Kerajaan Allah (2Raj. 4:8-37, 8:1-6)
Gunawan, Suliana
Naskah khotbah.
</description>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/201">
<title>Kecanduan Berinternet dan Prinsip-Prinsip untuk Menolong Pecandu Internet</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/201</link>
<description>Kecanduan Berinternet dan Prinsip-Prinsip untuk Menolong Pecandu Internet
Elia, Heman
Jumlah pengguna internet di berbagai belahan dunia terus berlipat ganda dengan angka yang menakjubkan.  Di Indonesia, perkiraan jumlah pengguna internet oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 1998 adalah 512.000 orang, dan terus bertambah hingga kira-kira 25.000.000 orang pada tahun 2007.  Dengan jumlah sebanyak ini, Indonesia sudah termasuk ke dalam 20 negara pengguna internet terbanyak di dunia.   Dapat dipastikan bahwa jumlah pengguna internet ini akan terus bertambah seiring dengan semakin murah dan mudahnya koneksi internet, tersebarnya jaringan, serta juga semakin tersedianya peralatan komputer, handphone, hingga iPhone, dan BlackBerry. &#13;
Internet yang semula dirancang untuk menjadi sistem komunikasi militer telah berkembang menjadi penghubung banyak komputer sekaligus ke dalam sebuah jaringan.   Namun perkembangan internet saat ini bukan hanya sebagai alat pengiriman, pertukaran, dan pengambilan data.  Internet memenuhi banyak fungsi lain, meliputi kemudahan berbisnis, berkarier, berkomunikasi, menjalankan proses belajar-mengajar, menjalin relasi, menyiarkan berita, berkampanye, melakukan propaganda, hingga mewartakan injil.  Semakin tidak terhindarkannya internet sebagai perlengkapan studi dan alat bantu pekerjaan membuat internet turut berperan dalam cara kita berpikir, berkomunikasi, berelasi, berekreasi, bertingkah laku, dan mengambil keputusan.  Ironisnya, alat yang begitu berguna ini juga menimbulkan cukup banyak persoalan pada penggunanya.  Sebagai contoh, hasil sebuah survei  memperlihatkan bahwa penggunaan internet memberi sumbangsih pada hampir 50% persoalan keluarga dan relasi.&#13;
Ada banyak segi dari internet yang menarik untuk diamati.  Banyak literatur Kristen yang menyarankan dan mengajarkan pemanfaatan internet untuk mengembangkan gereja, pelayanan, dan literatur Kristen.  Namun sisi negatif internet, terutama terhadap perilaku individu, belum tuntas dibahas.  Padahal internet memiliki potensi untuk membelenggu dan melumpuhkan individu dalam bentuk perilaku mencandu.  Artikel ini secara khusus hendak menyoroti materi internet yang memicu perilaku mencandu, khususnya masalah pornografi, online game, dan jejaring sosial, gejala kecanduan internet dan proses mencandu, serta sumbang saran mengenai cara menyikapi dan mengatasi persoalan kecanduan internet.
</description>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/200">
<title>Orang Tionghoa dalam Negara Indonesia yang Dibayangkan: Analisis Percakapan Para Pendiri Bangsa dalam Sidang-Sidang BPUPKI dan PPKI</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/200</link>
<description>Orang Tionghoa dalam Negara Indonesia yang Dibayangkan: Analisis Percakapan Para Pendiri Bangsa dalam Sidang-Sidang BPUPKI dan PPKI
Dawa, Markus Dominggus L.
Pada 1995, Institut DIAN/Interfidei menerbitkan sebuah buku yang sebagian besar berisi makalah yang didiskusikan dalam seminar bertajuk “Konfusianisme di Indonesia,” yang diadakan pada tahun sebelumnya oleh Institut DIAN/Interfidei juga.  Judul buku itu adalah Konfusianisme di Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri.   Buku ini memang khusus bicara soal Konfusianisme di Indonesia.  Namun, percakapan tentang Konfusianisme tidak bisa dilepaskan dari percakapan tentang orang-orang Tionghoa, yang sebagian besar memeluk keyakinan ini.  Karena itu, bicara tentang pergulatan Konfusianisme yang mencari jati dirinya di bumi Indonesia tidak bisa tidak juga menyentuh para pemeluknya, orang-orang Tionghoa. &#13;
Buku itu hanya salah satu dari sekian banyak buku yang pernah ditulis tentang orang-orang Tionghoa.  Sejak terbitnya buku itu, persoalan siapa dan di mana orang Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia pun tidak pernah selesai dibicarakan.  Tiga tahun setelah buku itu diterbitkan, menyusul jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998, terjadi kerusuhan hebat di beberapa kota di Indonesia, yang mana salah satu korbannya adalah orang-orang Tionghoa.  Terlepas dari pahit-getirnya peristiwa itu, bagi orang-orang Tionghoa, kerusuhan itu hanyalah sekadar letupan di permukaaan dari isu yang sebenarnya belum pernah tuntas diselesaikan, yaitu soal tempat atau posisi orang-orang Tionghoa Indonesia di dalam konfigurasi masyarakat dan negara Indonesia.  Siapakah sebenarnya orang Tionghoa ini di mata orang-orang non-Tionghoa di Indonesia?  Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, siapakah mereka menurut pemahaman Bapak-Bapak Pendiri Bangsa Indonesia?  Apakah mereka sungguh bagian integral bangsa ini?  Ataukah mereka, memakai ungkapan rasul Paulus dalam Surat Roma, adalah “tunas liar” yang bukan cabang asli dari sebuah pohon yang disebut Indonesia?   Kalau jawabannya ya, pertanyaan berikutnya adalah pemahaman-pemahaman macam apakah tentang Indonesia yang telah memberi ruang muncul dan berkembangnya cara pandang semacam itu?  Mengapa sampai muncul, setidaknya dalam pemikiran para Bapak Bangsa Indonesia, dikotomi semacam itu? &#13;
Arikel ini bermaksud menelusuri persoalan-persoalan di atas dengan menggunakan teori Ben Anderson tentang bangsa sebagai the imagined communities sebagai alat bantu untuk menginterogasi pikiran-pikiran para Bapak Pendiri Bangsa Indonesia, yang terungkap dalam pidato-pidato mereka di dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI.  Pikiran-pikiran yang terungkap selama sidang-sidang ini dijadikan acuan di sini karena, menurut saya, persidangan itu memiliki nilai historis yang amat penting bagi lahirnya negara Indonesia.  Ia amat penting karena menjadi landasan bagi generasi bangsa Indonesia selanjutnya memahami dirinya.  Meski waktu yang tersedia untuk merenungkan Indonesia tidak banyak, jika dibaca dari sudut pandang durasi waktu mereka bersidang, namun bukan berarti pikiran-pikiran itu muncul saja secara tiba-tiba.  Seperti yang diungkapkan Bung Karno dalam pidatonya tentang dasar negara, ia telah sejak lama sekali merenungkan dan memperjuangkan Pancasila. “[S]aya berjuang sejak 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu . . . .  Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun.”   Kalau demikian, maka apa yang terungkap dalam persidangan itu bisa dipakai sebagai deskripsi yang mendekati kenyataan yang selama ini dipikirkan dan dibayangkan tentang Indonesia saat itu dan kemudian.
</description>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/199">
<title>Evaluasi terhadap Teologi Pluralisme Agama Stanley Samartha</title>
<link>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/199</link>
<description>Evaluasi terhadap Teologi Pluralisme Agama Stanley Samartha
Sulistio, Thio Christian
Teologi pluralisme agama menjadi sebuah pilihan yang menarik di era globalisasi.   Di era ini, orang-orang Kristen hidup di dalam masyarakat yang majemuk.  Seiring dengan ramainya migrasi penduduk dari Selatan ke Utara dan dari Timur ke Barat, kemajemukan agama ditemukan bahkan di negara-negara Barat yang dulu dianggap homogen.  Sejalan dengan ini, teologi pluralisme agama yang menganggap bahwa semua agama membawa orang-orang kepada satu realitas ilahi menjadi pilihan yang menarik karena dianggap demokratis dan toleran.  Karena itu, penulis mencoba menganalisis teologi pluralisme agama, khususnya pada diri teolog Samartha dan akan mengevaluasi apakah teologinya sampai pada tujuannya yaitu toleran terhadap agama-agama itu sendiri dan cukup kokoh secara intelektual.  Penulis akan membagi artikel ini ke dalam tiga bagian besar: pemaparan tentang latar belakang Samartha, pemaparan tentang teologinya, dan evaluasi terhadap teologi pluralisme agama Samartha.
</description>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
