<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Veritas 03/1 (April 2002)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/50" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/50</id>
<updated>2026-04-14T16:14:50Z</updated>
<dc:date>2026-04-14T16:14:50Z</dc:date>
<entry>
<title>Doa : Ketika Teodisi Tak Berdaya (Wahyu 5:1-5; 8:1-6)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/59" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wibowo, Timotius</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/59</id>
<updated>2018-05-05T02:08:57Z</updated>
<published>2002-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Doa : Ketika Teodisi Tak Berdaya (Wahyu 5:1-5; 8:1-6)
Wibowo, Timotius
</summary>
<dc:date>2002-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Eksegetikal terhadap Makna Misteri Kristus dalam Kolose 4:3 : Tersembunyi atau Dinyatakan?</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/58" rel="alternate"/>
<author>
<name>Guanga, Caprili</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/58</id>
<updated>2018-05-04T08:46:08Z</updated>
<published>2002-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Eksegetikal terhadap Makna Misteri Kristus dalam Kolose 4:3 : Tersembunyi atau Dinyatakan?
Guanga, Caprili
Latar belakang dan makna kata (mysterion) telah diperdebatkan oleh para sarjana Alkitab dari spektrum teologis yang luas. Sebagian orang berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut dalam PB, terutama sekali oleh Paulus, dipengaruhi oleh kultus-kultus misteri di kalangan orang-orang berbahasa Yunani. Pada permulaan abad kedua puluh, misalnya, para sarjana dari Religionsgeschichtliche Schule berusaha menjelaskan adanya latar belakang Hellenistik di balik penggunaan kata (mysterion) oleh Paulus. Sebagian lagi berusaha menelusuri latar belakang istilah ini dari Yudaisme Kuno, seperti dilakukan oleh Raymond E. Brown yang menekankan bahwa kita tidak perlu mencari latar belakang istilah ini di luar Yudaisme Kuno. Banyak sarjana belakangan ini merasa yakin adanya latar belakang Semitik di balik istilah ini, dan tampaknya inilah pandangan umum di kalangan para penafsir saat ini, sekalipun mereka mengakui bahwa kultus misteri sezaman dengan kekristenan. Meskipun perdebatan mengenai latar belakang mysterion mungkin tampaknya telah mencapai konsensus umum (paling tidak, hingga adanya bukti lebih jauh, dan jika ada itu akan melahirkan pertentangan terhadap pandangan mengenai adanya latar belakang Semitik dari kata mysterion), namun pertanyaan mengenai makna dan isinya dalam PB pada umumnya, dan dalam surat-surat Paulus khususnya, tetap menjadi topik diskusi serius. Artikel ini akan difokuskan pada makna (mysterion) dalam Kolose 4:3, secara khusus berusaha menentukan makna (mysterion) yang digunakan rasul Paulus pada ayat ini. Sebelum menyelidikinya lebih dekat, beberapa hal harus dikerjakan lebih dahulu guna mengetahui latar belakangnya. Pertama, akan disajikan survei ringkas kata (mysterion) yang terdapat di bagian lain di PB, untuk melihat sejauh mana penggunaan kata ini dalam PB. Kedua, kita juga perlu melihat penggunaan (mysterion) di Kolose (1:26-27; 2:2), guna menetapkan konteks perikop (4:2-6). Hal ini bukan saja membuat musth,rion berada dalam konteks lebih luas, tetapi juga membantu kita memahami frase (to mysterion tou Christou) di Kolose 4:3. Ketiga, akan dilakukan eksegesis terhadap perikop ini sambil memperhatikan isu-isu kritik teks dan gramatikal dalam prosesnya yang mungkin penting dalam menentukan makna (mysterion).
</summary>
<dc:date>2002-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/57" rel="alternate"/>
<author>
<name>Channing, Nathanael</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/57</id>
<updated>2018-05-04T08:21:42Z</updated>
<published>2002-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi
Channing, Nathanael
Ketika kita memasuki sebuah gereja, sadar atau tidak sadar kita melihat bahwa gereja hadir di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat yang kompleks. Gereja sebagai ‘umat Allah,’ kemanusiaan yang baru, mencakup orang Yunani, orang Romawi, hamba dan orang merdeka. Gereja sebagai umat Allah tanpa batas etnis, bahkan tanpa batas nasional, tanpa strata sosial. Gereja sebagai umat Allah bukan produk dari sekelompok orang demi menghormati nama Tuhan. Gereja adalah ciptaan Tuhan sendiri melalui panggilan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dalam kuasa Roh Kudus itulah tembok-tembok etnis dan tembok-tembok pemisah yang lain dirobohkan. Jika gereja dipahami demikian, maka jelas kehadirannya di tengah situasi dan kondisi yang multikompleks menuntut pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik untuk kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Bagaimana gereja bisa berperan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu agar kehadirannya menjadi berkat? Hal ini berkaitan dengan cara kerja kita dalam mengelola gereja. Dengan cara apa kita menggarap pekerjaan yang sangat kompleks itu? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pemimpin gereja. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengetahui bahwa tugasnya adalah membangun tim efektif yang akan melestarikan mereka.” Karena itu cara kerja yang individual akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja. Kerja tim jauh lebih efektif ketimbang kerja secara individu.
</summary>
<dc:date>2002-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kepemimpinan Yohanes Pembaptis</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/56" rel="alternate"/>
<author>
<name>Barus, Armand</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/56</id>
<updated>2018-05-04T08:08:37Z</updated>
<published>2002-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kepemimpinan Yohanes Pembaptis
Barus, Armand
Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes?
</summary>
<dc:date>2002-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
