<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Consilium 07</title>
<link href="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/468" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/468</id>
<updated>2026-04-06T11:07:24Z</updated>
<dc:date>2026-04-06T11:07:24Z</dc:date>
<entry>
<title>Doktrin Irresistible Grace dan Implikasinya bagi Penginjilan</title>
<link href="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/530" rel="alternate"/>
<author>
<name>Christianto, Titus Candra</name>
</author>
<id>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/530</id>
<updated>2019-07-27T06:12:53Z</updated>
<published>2012-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Doktrin Irresistible Grace dan Implikasinya bagi Penginjilan
Christianto, Titus Candra
Konsep Irresistible Grace atau yang biasa dikenal dengan anugerah yang tidak dapat ditolak ini merupakan pokok keempat dari lima pokok ajaran Calvin. Doktrin ini sangat berkaitan erat dengan doktrin pemilihan karena melalui anugerah Allah yang tidak dapat ditolak itulah, maka orang-orang yang dipilih-Nya akan selamat. Tetapi, jika doktrin ini dipahami dengan pemikiran yang dangkal, maka tidak heran jika kemudian muncul sebuah pemikiran bahwa bagaimana kita bisa membawa orang-orang berdosa kepada Kristus sementara doktrin Reformed tentang anugerah yang tidak dapat ditolak itu menyatakan secara tidak langsung bahwa ada orang yang dipilih untuk selamat dan yang lainnya tidak. Dan pemikiran seperti inilah yang kemudian membawa uamt Kristen kepada suatu sikap yang acuh tak acuh terhadap penginjilan. Dengan demikian, doktrin ini nampaknya memiliki signifikansi tersendiri bagi pemahaman umat Kristen mengenai penginjilan. Maka dari itu, paper ini akan membahas tentang doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak untuk menunjukkan implikasinya bagi penginjilan. Pertama-tama, penulis akan memaparkan pengertian mengenai anugerah yang tidak dapat ditolak dan beberapa pandangan yang keliru. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan dukungan alkitabiahnya. Terakhir, penulis akan menunjukkan implikasinya bagi umat percaya, terutama kaitannya dengan penginjilan.
</summary>
<dc:date>2012-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Partisip dalam Tata Bahasa Yunani dan Ekspresi Fungsi Partisip dalam Tata Bahasa Indonesia</title>
<link href="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/529" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wahyudi</name>
</author>
<id>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/529</id>
<updated>2019-07-27T06:11:47Z</updated>
<published>2012-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Partisip dalam Tata Bahasa Yunani dan Ekspresi Fungsi Partisip dalam Tata Bahasa Indonesia
Wahyudi
Partisip adalah sebuah istilah yang digunakan dalam ilmu bahasa untuk kelompok kata yang mempunyai bentuk dan fungsi tertentu. Istilah partisip diambil dari bahasa Inggris (participle), yaitu suatu kata yang dibentuk dari kata kerja dan memiliki ciri kata kerja sekaligus ciri kata sifat. Ahli ilmu bahasa sering kali menyebut partisip sebagai verbal adjektiva atau kata sifar verbal. Penyebutan ini dikarenakan partisip memiliki ciri verba sekaligus ciri adjektiva. Tidak semua bahasa memiliki bentuk ataupun konsep partisip. Bahkan konsep partisip di setiap bahasa sering kali berbeda satu sama lain, misalnya bahasa Yunani dan Inggris. Tetapi hal itu tidak berarti partisip tidak bisa diekspresikan dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia yang bahkan tidak memiliki konsep partisip. Dalam bagian ini penulis akan membahas mengenai partisip dalam tata bahasa Yunani dan ekspresi fungsi partisip dalam tata bahasa Indonesia.
</summary>
<dc:date>2012-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>From Disciple to Apostle : Sebuah Studi Eksegesis Markus 6:7-13</title>
<link href="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/528" rel="alternate"/>
<author>
<name>Adirahsetio, Kharis</name>
</author>
<id>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/528</id>
<updated>2019-07-27T06:10:29Z</updated>
<published>2012-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">From Disciple to Apostle : Sebuah Studi Eksegesis Markus 6:7-13
Adirahsetio, Kharis
Markus pasal 6 mengisahkan sebuah episode unik dari kehidupan para murid. Perikop ini menceritakan bagaimana Tuhan Yesus memanggil para murid suatu ketika dan mengutus mereka berdua-dua ke berbagai tempat. Itu berarti ada enam kelompok yang beranggotakan masing-masing dua orang yang pergi berpencar ke seluruh penjuru. Ketika mengutus mereka, Yesus berpesan agar para murid tidak membawa apapun dalam perjalanan mereka semisal roti, bekal, uang bahkan baju berlebih. Mereka hanya diperbolehkan untuk membawa tongkat dan alas kaki. Itu saja. Dengan demikian, para murid pergi ke berbagai penjuru tanpa persiapan untuk bertahan hidup dalam perjalanan mereka. Tidak hanya berhenti di situ, para murid ini diminta untuk menetap di tempat orang-orang yang menerima mereka dalam perjalanan mereka. Jika orang-orang tersebut tidak menerima mereka dan tidak mendengarkan mereka, maka mereka disuruh untuk mengebaskan debu yang ada di kaki para murid sebagai peringatan. Setelah menerima mandat tersebut, pergilah mereka ke berbagai tempat dan mengabarkan injik, mengusir setan dan menyembuhkan orang. Episode ini termasuk mozaik kisah yang sangat sulit untuk dimengerti dalam rangkaian narasi perjanjian baru. Pembaca modern akan dibingungkan dengan kurangnya detail penjelasan seputar isi perintah Yesus khususnya berkenaan soal barang bawaan para murid yang minim dan cenderung nihil. Maka dari itu pertanyaan yang dapat diajukan untuk menjadi parameter dalam mengerti bagian ini adalah, pertama, apa signifikansi penggunaan tongkat dan alas kaki sehingga hanya dua benda ini saja yang diperbolehkan untuk dibawa. Kedua, apa implikasi teologis yang hendak disampaikan oleh Yesus melalui perintah untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka. Ketiga, relasi seperti apakah yang dimiliki teks ini dengan dua teks paralel lainnya dalam Matius-Lukas. Keempat, apa yang hendak disampaikan Markus melalui teks ini. Tulisan ini berjuang untuk memberikan penjelasan yang memadai untuk mengerti perikop ini melalui penjawaban pertanyaan-pertanyaan di atas.
</summary>
<dc:date>2012-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>The Samaritan Pentecost : Sebuah Studi Eksegetical Kisah Para Rasul 8:14-17</title>
<link href="http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/527" rel="alternate"/>
<author>
<name>Theodora, Fiona</name>
</author>
<id>http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/527</id>
<updated>2019-07-27T06:09:03Z</updated>
<published>2012-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">The Samaritan Pentecost : Sebuah Studi Eksegetical Kisah Para Rasul 8:14-17
Theodora, Fiona
Peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang Samaria--yang umumnya dikenal dengan istilah the Samaritan Pentecost--dicatat oleh Lukas di dalam bukunya yang kedua, yaitu Kisah para Rasul. Di dalam perikop ini, dikisahkan bagaimana Roh Kudus turun atas orang Samaria melalui doa dan penumpangan tangan oleh rasul Petrus dan Yohanes. Namun demikian, perikop ini menimbulkan berbagai pertanyaan -- karena di perikop yang sama pada bagian narasi sebelumnya, dicatat juga bagaimana orang Samaria telah menerima pemberian Injil yang dilakukan Filipus (8:4-13), tetapi mereka belum menerima Roh Kudus sebagaimana umumnya terjadi pada saat orang menjadi percaya (8:16). Mereka baru menerima Roh Kudus setelah rasul Petrus dan Yohanes berdoa dan menumpangkan tangan atas mereka (8:1-7). Narasi ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang membawa kepada berbagai penafsiran dan implikasi yang berbeda mengenai relasi antara conversion-initiation process -- proses pertobatan dan turunnya Roh Kudus. Pertama, apakah narasi turunnya Roh Kudus atas orang Samaria ini dapat ditafsirkan secara normatif atau exceptional (yaitu, tidak sesuai dengan pola yang umum?). Kedua, jikalau peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang Samaria ini adalah sesuatu yang exceptional, apa yang menyebabkan penundaan turunnya Roh Kudus atas orang Samaria? Ketiga, apa relasi antara doa, penumpangan tangan dan jabatan rasuli dengan turunnya Roh Kudus atas orang Samaria? Keempat, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Lukas melalui narasi ini? Makalah eksegesis ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kaitannya dengan apa sesungguhnya yang menjadi maksud teologis di balik narasi Lukas ini.
</summary>
<dc:date>2012-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
