<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Veritas 17/2 (Desember 2018)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/451" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/451</id>
<updated>2026-04-14T16:05:26Z</updated>
<dc:date>2026-04-14T16:05:26Z</dc:date>
<entry>
<title>Jesus, The Prophet, The Messiah, And The Host: An Interpretation Of Luke 24:13-35</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/455" rel="alternate"/>
<author>
<name>Yahya, Pancha W.</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/455</id>
<updated>2019-09-20T08:26:26Z</updated>
<published>2018-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Jesus, The Prophet, The Messiah, And The Host: An Interpretation Of Luke 24:13-35
Yahya, Pancha W.
The story of Jesus’ encounter with two disciples on the journey to Emmaus is a unique story, among which is the story contains the question: what really made two disciples not recognize Jesus?, and why after inviting Jesus to their home, the identity of Jesus was recognized. Many solutions have been offered to answer these complicated problems, but it seems that the answers proffered are less than convincing. According to the author, the Emmaus story must be seen from the entire book of Luke and Acts because in this episode there are important themes scattered throughout Luke’s two writings. The two disciples are representatives of Jews who cannot understand that the Messiah must suffer, be crucified, and be resurrected. What made them recognize Jesus again was when Jesus entertained them to eat? It was because it reminded them of a similar event before Jesus’ death and at the same time referred to the role of Yahweh as the host of His OT people and the hope of an eschatological meal. In the end, the theme of this dining table fellowship became important in the Acts of the Apostles in relation to Jewish and Gentile relations within the early church.  &#13;
&#13;
Keywords: Emmaus, Motif of Ignorance, Table Fellowship, Rejected Messiah
</summary>
<dc:date>2018-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Ilustrasi Yang Berbentuk Cerita Sebagai Salah Satu Unsur Penting Dalam Khotbah</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/454" rel="alternate"/>
<author>
<name>Soegianto, Hari</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/454</id>
<updated>2019-09-20T08:25:31Z</updated>
<published>2018-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Ilustrasi Yang Berbentuk Cerita Sebagai Salah Satu Unsur Penting Dalam Khotbah
Soegianto, Hari
Ilustrasi sebagai unsur sebuah khotbah selama ini dikenal memiliki peran untuk memperjelas sebuah ide, menarik perhatian pendengar, bahkan juga dapat menggerakkan emosi pendengar. Sekalipun berdasarkan definisinya ilustrasi dapat memiliki berbagai bentuk, tetapi tidak semua bentuk itu memberikan pengaruh yang sama. Ilustrasi yang berbentuk cerita memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Tulisan ini menggali keunggulan dari ilustrasi yang berbentuk cerita berdasarkan studi yang pernah dilakukan berkaitan dengan bagaimana sebuah informasi dapat dengan lebih mudah dipahami oleh penerimanya. Berdasarkan pemahaman tentang cara kerja otak manusia, bagaimana manusia berkomunikasi, bagaimana manusia belajar, bahkan pengamatan dalam khotbah sendiri, menunjukkan bahwa ilustrasi yang berbentuk cerita dapat menjadi alat yang efektif dalam penyampaian sebuah kebenaran. &#13;
&#13;
Kata-kata kunci: Khotbah, Ilustrasi, Ilustrasi yang Berbentuk Cerita, Otak Manusia, Komunikasi, Teori Belajar, Generals, Particulars
</summary>
<dc:date>2018-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi-Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru Untuk Pekabaran Injil</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/453" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hidajat, Djeffry</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/453</id>
<updated>2019-09-20T08:24:35Z</updated>
<published>2018-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi-Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru Untuk Pekabaran Injil
Hidajat, Djeffry
Gereja dalam Perjanjian Baru adalah gereja di rumah. Mengapa murid-murid Yesus dan Paulus menggunakan rumah untuk kegiatan gereja? Mereka menggunakan rumah karena rumah adalah unit sosial, ekonomi dan religius. Ibadah dan pengajaran rohani biasa diadakan dalam rumah-rumah pada waktu itu. Karena fungsi sosial dan ekonominya, rumah juga membuka kontak dan komunikasi bagi para penginjil untuk memberitakan tentang Injil Yesus Kristus kepada jaringan sosial rumah di mana mereka melayani. Dengan demikian murid-murid Yesus dan Paulus telah melakukan upaya kontekstual yang cerdas dengan menggunakan rumah untuk membangun komunitas Kristen sekaligus pekabaran Injil. Terbukti kekristenan diterima secara luas dengan pendekatan gereja di rumah ini di tiga abad pertama sejarah kekristenan. &#13;
&#13;
Kata-kata kunci: Kontekstualisasi, Gereja Rumah, Oikos, Komunitas Kristen, Pekabaran Injil
</summary>
<dc:date>2018-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Etika Kristen Dan Teknologi Informasi: Sebuah Tinjauan Menurut Perspektif Alkitab</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/452" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alinurdin, David</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/452</id>
<updated>2019-09-20T08:21:57Z</updated>
<published>2018-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Etika Kristen Dan Teknologi Informasi: Sebuah Tinjauan Menurut Perspektif Alkitab
Alinurdin, David
Indonesia adalah negara dengan pengguna internet yang tidak bisa dianggap remeh. Menurut sebuah survei, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dalam lamanya penggunaan waktu untuk berinternet dalam sehari, yaitu 8 jam 51 menit. Maraknya penggunaan internet di Indonesia ini masih belum dibarengi dengan kualitas yang baik dalam memanfaatkan teknologi informasi ini. Pemanfaatan internet di Indonesia yang mayoritas digunakan untuk media sosial dan gaya hidup ini juga dibayangi-bayangi dengan tingkat kejahatan dan penyalahgunaan yang mengkhawatirkan. Dengan latar belakang kondisi tersebut, tulisan ini akan menyoroti aspek-aspek nilai yang memengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku pengguna internet dari sudut pandang etika Kristen, yaitu dalam hal kesejatian relasi, pengolahan informasi, otoritas kebenaran, serta identitas dan integritas pengguna.
</summary>
<dc:date>2018-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
