<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Veritas 13/2 (Oktober 2012)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/266" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/266</id>
<updated>2026-04-14T16:10:19Z</updated>
<dc:date>2026-04-14T16:10:19Z</dc:date>
<entry>
<title>Konsep Kasih Allah Menurut Choan-Seng Song dan Aplikasinya Terhadap Pelaksanaan Misi Gereja-Gereja di Indonesia</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/274" rel="alternate"/>
<author>
<name>Soegiarto, Samuel</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/274</id>
<updated>2018-05-31T03:17:17Z</updated>
<published>2012-10-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Konsep Kasih Allah Menurut Choan-Seng Song dan Aplikasinya Terhadap Pelaksanaan Misi Gereja-Gereja di Indonesia
Soegiarto, Samuel
Dengan penekanan yang sangat besar kepada unsur kasih, maka studi tentang konsep kasih Song ini menjadi penting dalam memahami konsep teologinya, secara khusus konsep keselamatan dan pekerjaan misi, yang merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Alasannya karena konsep keselamatan seseorang akan menentukan teologi dan praksis orang tersebut di dalam bermisi. Selain sebagai sebuah studi teoritis, artikel ini juga merupakan suatu usaha memikirkan ulang teologi yang akan memberikan warna tersendiri di dalam pemahaman teologis dan praktik misi gereja, khususnya di Indonesia, mengingat Song merupakan salah seorang teolog Asia yang mencoba untuk menghadirkan pemahaman teologis yang cocok dengan konteks dunianya. Harapan penulis, tulisan singkat ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran, berupa tanggapan positif dan negatif terhadap pandangan Song, yang kemudian bisa diimplementasikan di dalam kehidupan bergereja, agar pekerjaan pelayanan gereja dapat semakin efektif dan tepat sasaran (sesuai konteks), dan nama Tuhan Yesus akan semakin dipermuliakan dan kerajaan-Nya akan semakin nyata di dalam dunia ini.
</summary>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Epistemologi Reformed : Sebuah Upaya Filsuf-Filsuf Kristen Membela Status Epistemologi Kepercayaan Kristen</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/273" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sulistio, Thio Christian</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/273</id>
<updated>2018-05-31T03:10:38Z</updated>
<published>2012-10-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Epistemologi Reformed : Sebuah Upaya Filsuf-Filsuf Kristen Membela Status Epistemologi Kepercayaan Kristen
Sulistio, Thio Christian
Sejak pertengahan tahun 1980-an berkembang suatu gerakan di dalam filsafat analitik yang disebut epistemologi Reformed. Para filsuf yang tergabung dalam gerakan ini berupaya untuk menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Allah (belief in God) dan khususnya kepercayaankepercayaan Kristen adalah rasional, terjustifikasi (justified) dan terjamin (warranted). Singkatnya, mereka berupaya untuk memperlihatkan bahwa secara epistemologis kepercayaan religius (religious belief), khususnya kepercayaan Kristen, memiliki status epistemik yang positif. Tokoh-tokoh yang menjadi arsitek dan pendiri gerakan ini adalah William P. Alston (1921– 2009), Nicholas Wolterstorff (1932– ), dan Alvin Plantinga (1932– ). Plantinga menyebut gerakan ini sebagai epistemologi Reformed karena para pendirinya, seperti Plantinga sendiri dan Wolterstorff, mengajar di Calvin College, Amerika Serikat, dan mereka banyak mendapatkan inspirasi dari John Calvin serta para teolog lain di dalam tradisi teologi Reformed. Sebagai sebuah gerakan yang ingin menunjukkan bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif, epistemologi Reformed menolak pandangan fondasionalisme klasik dan evidensialisme bahwa kepercayaan religius tidak rasional dan tidak terjustifikasi. Mereka juga mengklaim bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif di dalam konteks epistemologi yang lebih memadai. Artikel ini ingin memperkenalkan epistemologi Reformed dengan cara mempelajari kedua proyek epistemologi di atas dan melihat implikasinya bagi apologetika. Sebab itu, penulis pertama-tama akan membahas dua proyek epistemologi tersebut, dilanjutkan dengan membahas implikasinya bagi apologetika Kristen.
</summary>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kebenaran Doktrin Antropologi dan Soteriologi Bagi Kepentingan Etika Lingkungan</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/272" rel="alternate"/>
<author>
<name>Tan, Kian Guan</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/272</id>
<updated>2018-05-31T02:38:56Z</updated>
<published>2012-10-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kebenaran Doktrin Antropologi dan Soteriologi Bagi Kepentingan Etika Lingkungan
Tan, Kian Guan
Orang-orang sekuler menuduh kekristenan sebagai agama yang paling bertanggung jawab atas kerusakan ekologi. Menurut mereka, ajaran-ajaran kekristenan seperti antropologi dan soteriologi lebih mengutamakan manusia daripada ciptaan yang lain. Kalau memang benar ajaran doktrinal di atas yang menyebabkan terjadinya masalah ekologi, maka ini selaras dengan pernyataan Alister E. McGrath bahwa etika Kristen merupakan hasil yang keluar dari doktrin Kristen. Namun tentu bukan hasil etika seperti ini yang ia maksud. Sebaliknya, doktrin Kristen harus dibangun dan dipahami dengan benar sesuai Alkitab karena itu akan mempengaruhi seluruh etika Kristen. Dari permasalahan di atas, penulis memandang perlu untuk menegakkan kebenaran dari kedua doktrin tersebut supaya: pertama, orangorang Kristen dapat lebih utuh memahami dan mengimplementasikannya sehingga tidak menjadi batu sandungan lagi; dan kedua, golongan sekuler memahami kebenaran dari ayat-ayat yang dituduhkan dan mengerti bahwa kekristenan tidak antiekologi, namun mementingkan lingkungan.
</summary>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pandangan Kalvin Tentang Hari Sabat</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/271" rel="alternate"/>
<author>
<name>Djung, Philip K. H.</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/271</id>
<updated>2018-05-31T02:30:56Z</updated>
<published>2012-10-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pandangan Kalvin Tentang Hari Sabat
Djung, Philip K. H.
Sabat telah menjadi topik debat yang hangat sejak zaman Reformasi. Pandangan Reformator John Calvin pun sering dikutip baik oleh mereka yang setuju maupun yang tidak setuju dengan pandanganya. Hal ini lebih disebabkan oleh kompleksitas pandangannya dan juga luasnya cakupan penulisan Calvin tentang topik ini. Selain itu, sikapnya dalam menjaga hari Sabat juga turut dipertanyakan. … Dalam tulisan ini saya akan menunjukkan bahwa bagi Calvin, sejauh itu menyangkut “istirahat rohani,” ibadah komunal, dan perbuatan baik, maka hukum ke-4 masih berlaku bagi orang Kristen hari ini dan seharusnya dijalankan dengan penuh ketekunan, namun bukan legalistik ataupun takhayul. Artikel ini akan membahas pengertian Calvin tentang tujuan perintah ke-4, diikuti dengan tiga fungsi hukum tersebut beserta penerapannya. Kemudian, saya akan menarik kesimpulan dari keseluruhan pembahasan.
</summary>
<dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
