<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>M.Div.</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/191" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/191</id>
<updated>2026-04-18T03:27:19Z</updated>
<dc:date>2026-04-18T03:27:19Z</dc:date>
<entry>
<title>Tinjauan Kritis Konsep Pendidikan Inklusif bagi Anak dengan Autistic Spectrum Disorders dari Sudut Konsep Pendidikan Kristen</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1351" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hermawan, Esther Stepfanie</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1351</id>
<updated>2022-09-27T02:29:24Z</updated>
<published>2014-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tinjauan Kritis Konsep Pendidikan Inklusif bagi Anak dengan Autistic Spectrum Disorders dari Sudut Konsep Pendidikan Kristen
Hermawan, Esther Stepfanie
Konsep pendidikan inklusif merupakan sebuah konsep yang lahir dari ketidakpuasan orang tua dan tenaga pendidik terhadap konsep-konsep pendidikan anak berkebutuhan khusus yang pernah diterapkan. Konsep pendidikan inklusif dibangun untuk merangkul anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat belajar bersama dengan teman-teman sebaya mereka di kelas reguler. Pendidikan inklusif memiliki keunggulan dari sisi materi dan metode pengajaran yang dirancang hati-hati untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Penerapan pendidikan inklusif diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autistic Spectrum Disorders (ASD). Pendidikan inklusif memfokuskan konsepnya pada manusia (human-centered), karena konsep ini sangat menjunjung tinggi hak anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan dan tidak didiskriminatif.  Tujuan akhir dari pendidikan inklusif ini adalah semua pihak diuntungkan, terutama anak-anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut berbeda dengan konsep Alkitab yang mengatakan bahwa pendidikan haruslah berpusat pada Allah, agar setiap peserta didik memiliki pengenalan yang benar tentang Allah, sehingga mereka dapat membawa perubahan bagi dunia. Dengan demikian, konsep pendidikan inklusif bagi anak dengan ASD tidak dapat digunakan begitu saja dalam pendidikan Kristen dan sekolah minggu.  Konsep pendidikan inklusif baru dapat diterapkan apabila konsep tersebut telah diolah kembali dan tunduk kepada otoritas Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran yang absolut. Pendidikan inklusif yang sudah tunduk di bawah otoritas firman Tuhan akan membawa peserta didik untuk mengenal Allah dan memuliakan-Nya.
</summary>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Yesus ῤαββί yang Ilahi: Sebuah Analisis terhadap Gelar Yesus sebagai ῤαββί dalam Injil Yohanes untuk Membuktikan Keilahian Yesus</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1350" rel="alternate"/>
<author>
<name>Chandra, Dessy Surya</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1350</id>
<updated>2022-09-27T03:01:25Z</updated>
<published>2014-05-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Yesus ῤαββί yang Ilahi: Sebuah Analisis terhadap Gelar Yesus sebagai ῤαββί dalam Injil Yohanes untuk Membuktikan Keilahian Yesus
Chandra, Dessy Surya
Alkitab mencatat serangkaian gelar yang dikenakan pada diri Yesus.  Selayaknya nama atau panggilan seseorang yang mengindikasikan identitas, gelar-gelar Yesus juga memainkan peran yang sama, yaitu sebagai materi rekonstruksi potret Yesus.  Keempat Injil diakui sebagai pemberi sumbangsih terbesar bagi rekonstruksi identitas Yesus, meski keempat Injil bukanlah murni catatan biografi Yesus. Terhadap keragaman gelar keilahian Yesus, para penyelidik skeptis justru menilai posisi keempat Injil sebagai tulisan yang mengalami distorsi penulis atau bahkan rekayasa para murid dan gereja mula-mula.  Para penulis Injil dipandang memiliki agenda khusus untuk memopulerkan Yesus yang adalah ikon dari komunitas mereka, khususnya Injil Yohanes yang sarat akan tujuan kristologinya.  Sementara itu, kalangan prokristologi justru memilih untuk tinggal berkutat pada ratusan gelar yang secara eksplisit bernada ilahi.  Sebagai akibatnya, gelar-gelar netral-termasuk gelar rabbi disisihkan karena dipandang tidak berdaya mendukung keilahian Yesus. Gelar rabbi yang tidak terhitung dalam daftar gelar yang berintensi kelihaian ini justru menjadi gelar yang kuat mendominasi peran dan pelayanan Yesus.  Di antara keempat Injil, Yohanes terbukti sebagai yang paling konsisten dalam menggunakan gelar rabbi pada diri Yesus.  Gelar rabbi dalam Injil Yohanes muncul delapan kali yang diikuti oleh serangkaian pengakuan ilahi dalam diri Yesus dari para penggunanya. Lewat gelar rabbi Yohanes menampilkan secara konsisten otoritas Yesus sebagai seorang guru Yahudi yang sesuai dengan konteks kontemporer-Nya.  Kesimpulan ini juga membela posisi penulis Injil yang tidak serta-merta menulis dengan subjektivitas yang merekayasa sejarah. Selain itu, gelar Yesus sebagai rabbi juga merujuk pada identitas Mesianik Yesus yang merupakan penggenapan dari PL. Puncaknya, gelar rabbi yang disebutkan oleh Maria Magdalena dalam bentuk infleksinya rabbouni merupakan panggilan ilahi berkualitas lebih tinggi yang merupakan bagian dari proklamasi kebangkitan Yesus. Dalam pemakaiannya, gelar Yesus sebagai rabbi juga bersinggungan dengan gelar-gelar ilahi lainnya. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa gelar rabbi terbukti mengandung unsur ilahi yang mampu mendukung keilahian Yesus. Yesus adalah rabbi yang ilahi.
</summary>
<dc:date>2014-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Eksegetikal Mengenai Konsep dan Respons terhadap  Penderitaan Orang Kristen dalam 1 Petrus dan Implikasinya bagi Gereja-gereja di Indonesia</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1349" rel="alternate"/>
<author>
<name>Chrisna, David Dwi</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1349</id>
<updated>2022-09-27T07:12:36Z</updated>
<published>2013-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Eksegetikal Mengenai Konsep dan Respons terhadap  Penderitaan Orang Kristen dalam 1 Petrus dan Implikasinya bagi Gereja-gereja di Indonesia
Chrisna, David Dwi
Penderitaan merupakan konteks umum yang dialami pembaca mula-mula 1 Petrus dan menjadi salah satu tema pokok  dalam surat tersebut.  Petrus memberikan serangkaian pengajaran kepada pembacanya agar mereka memiliki konsep yang benar menganai penderitaan yang mereka alami serta bagaimana seharusnya mereka berespons sebagai orang-orang Kristen. Rangkaian pengajaran tersebut tersebar di berbagai tempat yaitu 1:6-7; 2:11-12, 13-17, 18-20; 3:1-7, 13-16; 4:1-2, 12-16; 5: 8-10.&#13;
Terdapat kemiripan konteks masyarakat dan konteks penderitaan antara pembaca mula-mula 1 Petrus dengan orang-orang Kristen di Indonesia. Kemiripan konteks tersebut antara lain dalam hal kemajemukan suku dan agama masyarakat, jumlah orang Kristen yang menempati status minoritas, masalah kemiskinan yang dialami masyarakat dan adanya kekerasan fisik serta verbal terhadap orang-orang Kristen. Kemiripan-kemiripan tersebut menjadikan konsep dan respons terhadap penderitaan yang diajarkan Petrus dapat diterapkan secara kontekstual kepada orang-orang Kristen di Indonesia. &#13;
Konsep penderitaan yang diajarkan Petrus dsimpulkan menjadi: pertama, penderitaan merupakan jalan pemuridan Kristen; kedua, penderitaan terjadi karena kehendak Allah; ketiga, penderitaan merupakan sarana pengudusan orang percaya; keempat, penderitaan merupakan peperangan rohani; serta kelima, penderitaan merupakan sarana memberitakan Kristus. Sedangkan respons terhadap penderitaan dapat dikelompokkan menjadi: pertama, menjauhi perbuatan-perbuatan dosa; kedua, hidup sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat;  ketiga, ketundukan dan ketaatan kepada figur-figur otoritas; keempat, mewujudkan damai melalui sikap pacifisme; dan kelima, mengkomunikasikan iman dengan cara yang bermakna bagi orang tidak percaya.   &#13;
Dalam penerapannya di Indonesia secara kontekstual, penulis melihat konsep penderitaan dari 1 Petrus dapat dikelompokkan menjadi dua: sikap terhadap penderitaan dan terhadap pelaku kekerasan. Sedangkan respons terhadap penderitaan dapat dikategorikan menjadi tiga: pertama, dalam kaitanya dengan sikap dan cara hidup orang-orang Kristen di tengah masyarakat; kedua, dalam kaitannya dengan relasi orang-orang Kristen dengan pemerintah dan ketiga, dalam kaitannya dengan tugas panggilan orang-orang Kristen di Indonesia.
</summary>
<dc:date>2013-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Konsep Spiritualitas Kerja Daniel dalam Kitab Daniel 1-6 dan Relevansinya bagi Pekerja Kristen di Dunia Kerja Masa Kini</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1348" rel="alternate"/>
<author>
<name>Saragih, Asnah Suryati</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1348</id>
<updated>2024-08-08T07:03:42Z</updated>
<published>2014-02-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Konsep Spiritualitas Kerja Daniel dalam Kitab Daniel 1-6 dan Relevansinya bagi Pekerja Kristen di Dunia Kerja Masa Kini
Saragih, Asnah Suryati
Bagi pekerja Kristen, bekerja adalah panggilan Allah untuk mengusahakan dunia milik kepunyaan-Nya. Allah sendiri adalah seorang pekerja, dan Ia memanggil manusia yang diciptakan-Nya serupa dan segambar dengan-Nya untuk bekerja. Oleh karena itu seharusnyalah setiap pekerja Kristen bekerja dengan baik dan benar untuk dapat memperkenankan hati Tuhan. &#13;
Namun, banyak masalah dan tantangan yang mereka hadapi. Masalah-masalah dan tantangan-tantangan tersebut adalah persaingan yang sangat ketat, kejahatan-kejahatan dalam dunia kerja, godaan materialisme, pandangan yang salah terhadap pekerjaan, dan spiritualitas kerja sekuler yang booming saat ini. Semuanya ini, jika tidak dihadapi dengan baik dapat mengakibatkan para pekerja ini kehilangan jiwanya. Mereka tidak bertumbuh secara rohani dan tidak memuliakan nama Tuhan. &#13;
Daniel adalah seorang pekerja yang bekerja sebagai seorang negarawan. Ia juga menghadapi banyak tantangan dan masalah dalam pekerjaannya. Ia menghadapi masalah penggantian nama, makanan dan minuman dari meja raja, budaya dan agama orang Babel yang menentang Allah, kondisi politik yang tidak stabil, atasan yang kejam dan rekan sekerja yang iri hati. Namun, Daniel dapat tetap setia kepada Allah dan mempermuliakan nama Tuhan. &#13;
Daniel dapat setia kepada Tuhan karena ia memiliki disiplin spiritualitas kerja yang baik. Disiplin spiritualitas kerjanya terwujud nyata dalam lima hal, yaitu: (1) kehidupannya yang berpegang pada firman Tuhan; (2) membangun dukungan komunitas; (3) percaya pada kuasa Allah; (4) memiliki kualitas kompetensi dan karakter yang unggul; dan (5) memiliki hubungan yang akrab dengan Allah melalui kehidupan doanya yang disiplin dan teratur. &#13;
Pekerja Kristen masa kini juga dipanggil untuk setia kepada Tuhan dalam pekerjaannya. Caranya adalah dengan mengupayakan disiplin spiritualitas kerja seperti yang dilakukan Daniel. Pekerja Kristen harus benar-benar mengupayakan suatu kehidupan yang berpegang pada firman Tuhan, membangun sebuah komunitas pendukung, percaya dan bergantung pada kuasa Allah dalam pekerjaan, bertumbuh dalam kompetensi dan karakter dan membangun kehidupan doa yang teratur.
</summary>
<dc:date>2014-02-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
