<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Veritas 09/1 (April 2008)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/161" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/161</id>
<updated>2026-04-14T16:13:38Z</updated>
<dc:date>2026-04-14T16:13:38Z</dc:date>
<entry>
<title>Hamba Tuhan dan Godaan (Yak. 1:12-15)</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/169" rel="alternate"/>
<author>
<name>Soegianto, Hari</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/169</id>
<updated>2018-05-14T05:06:23Z</updated>
<published>2008-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hamba Tuhan dan Godaan (Yak. 1:12-15)
Soegianto, Hari
Naskah khotbah
</summary>
<dc:date>2008-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Khotbah Situasional : Mengenal Metode Khotbah Harry Emerson Fosdick</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/168" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kosasih, Andri</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/168</id>
<updated>2019-08-16T03:54:40Z</updated>
<published>2008-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Khotbah Situasional : Mengenal Metode Khotbah Harry Emerson Fosdick
Kosasih, Andri
Harry Emerson Fosdick (1878-1969) diakui oleh banyak orang sebagai satu dari pengkhotbah Amerika yang paling berpengaruh pada paruh pertama abad kedua puluh.  Ia dilahirkan di Buffalo, New York, anak dan cucu dari seorang guru sekolah Baptis.  Pada masa kuliah di Colgate University ia sudah menggumulkan hubungan antara iman Kristen dan kebenaran sains modern.  Akhirnya, pada tahun 1896 ia meninggalkan iman injili masa kecilnya dan mengadaptasi teologi liberal setelah membaca buku A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom karya Andrew Dickson White.  Para profesor pengajar di Colgate University dan Union Theological Seminary (New York), tempat ia meraih gelar B. A. (1900) dan B. D. (1904), meyakinkannya bahwa ia tetap dapat melayani Tuhan tanpa harus memegang teologi injilinya.  Hasilnya, Fosdick belajar teologi di bawah William Newton Clarke yang membawanya kepada Neo-liberalisme dengan penekanannya pada evolusi wahyu ilahi dan kebaikan manusia.
</summary>
<dc:date>2008-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis terhadap Penerjemahan WAW (Dalam Teks Masoret) Menjadi KAI (Dalam Teks Septuaginta) dalam Kitab Rut</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/167" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wanahardja, Cahyadi</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/167</id>
<updated>2019-05-09T09:15:35Z</updated>
<published>2008-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis terhadap Penerjemahan WAW (Dalam Teks Masoret) Menjadi KAI (Dalam Teks Septuaginta) dalam Kitab Rut
Wanahardja, Cahyadi
Ketertarikan pada bahasa-bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) dan panggilan pelayanan di bidang penerjemahan Alkitab telah mengarahkan perhatian penulis untuk memilih pokok bahasan yang terkesan “mudah” ini.  “Mudah” karena kata waw dalam bahasa Ibrani maupun kai dalam bahasa Yunani memang, secara sederhana, dapat diterjemahkan sebagai “dan” saja.  Namun, hal ini tidak sesederhana yang dipikirkan penulis sebelumnya.  Bahasan ini menjadi cukup sulit karena ada hal-hal kompleks yang harus dipahami dalam proses penerjemahan kata ini.  Khususnya, ketika pertanyaan-pertanyaan kritis diajukan pada topik ini, misalnya, apakah setiap waw pasti diterjemahkan menjadi kai?  Jika demikian, bagaimana hasil terjemahannya?  Apakah itu menjadi terjemahan literal atau dinamis?   Tidak berhenti sampai di sini, ada beberapa hal lain yang selanjutnya perlu ditanyakan, seperti, mengapa sebagian besar kata waw diterjemahkan menjadi kai?  Adakah kesejajaran secara tata bahasa antara waw dan kai ini?  Mengapa ada beberapa kata waw yang tidak diterjemahkan menjadi kai?  Bahkan, perlu juga untuk menanyakan mengapa ada beberapa kata bukan waw yang diterjemahkan menjadi kai?  Mengapa di beberapa bagian, terjadi penambahan-penambahan kalimat/frasa sementara di beberapa bagian yang lain terjadi pengurangan kalimat/frasa?  Apakah ada penafsiran pribadi dalam hal ini? Pertanyaan terakhir yang penting adalah apakah budaya Yahudi maupun budaya Hellenis telah memengaruhi penerjemah? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini, penulis akan membagi bahasan ini menjadi empat tahap.  Pada tahap pertama, akan diuraikan secara singkat, tata bahasa Ibrani (waw dan adverbia) dan Yunani Koine (kai dan kata-kata penghubung lainnya) yang akan menjadi dasar analisis.   Di tahap yang kedua, akan dianalisis proses penerjemahan waw menjadi kai.  Analisis ini dimulai dari persoalan-persoalan makro hingga mikro.  Dua metode menjadi dasar analisis pada tahap ini adalah tata bahasa dan kritik teks.  Pada tahap ketiga, penulis akan diperlihatkan pengaruh budaya Hellenis (budaya penerima) dan pengaruh budaya Israel (budaya sumber) terhadap proses penerjemahan ini.  Pada tahap terakhir, akan ditarik kesimpulan-kesimpulan dari sudut pandang tata bahasa, budaya dan teologis tentang proses penerjemahan waw menjadi kai dalam kitab Rut.
</summary>
<dc:date>2008-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Bagaimana Kaum Injili Memandang Gereja Katolik?</title>
<link href="https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/166" rel="alternate"/>
<author>
<name>Lie, Bedjo</name>
</author>
<id>https://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/166</id>
<updated>2019-04-23T07:42:19Z</updated>
<published>2008-04-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Bagaimana Kaum Injili Memandang Gereja Katolik?
Lie, Bedjo
Ribuan jemaat Katolik berkumpul di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC) pada bulan November 2007 yang lalu.  Kegiatan KKR yang bernuansa Katolik karismatik ini telah menjadi gerakan yang makin terasa di Indonesia.   Sekilas, gerakan ini telah “mendekatkan” Katolik dengan kaum Protestan, khususnya kalangan karismatik.  Di sisi lain, usaha pembelaan iman Katolik terhadap keberatan-keberatan teologis kaum Protestan juga makin terasa akhir-akhir ini di Indonesia.  Tambah maraknya buku Katolik yang bernada apologetik terhadap Protestan semakin memperlebar jurang antara umat Katolik dan Kristen Protestan. Dalam rangka memikirkan relasi antara kaum Katolik dan Protestan ini, beberapa paradigma relasi muncul dalam benak penulis.  Apakah gereja Katolik dapat dipandang sebagai saudara, pesaing, atau musuh?  Bagaimana jika pilihan ini diajukan kepada Anda yang berasal dari golongan Protestan khususnya injili dalam memandang gereja Katolik Roma?   Sebaliknya juga penting, bagaimanakah perspektif gereja Katolik dalam memandang kaum injili? ... Pembahasan tulisan ini akan mengalir sebagai berikut:  Pertama, akan dipaparkan mengenai sekilas pandang pergeseran pandangan gereja Katolik terhadap doktrin kesatuan gereja yang meliputi sikap mereka terhadap gereja-gereja lain di luar gereja Katolik.  Kedua, argumentasi biblis dan tradisi untuk mendukung doktrin kesatuan gereja menurut gereja Katolik.  Ketiga, penulis akan menyampaikan suatu tinjauan kritis atas pandangan Katolik tersebut.  Pada bagian akhir, beberapa pemikiran tentang hubungan antara kaum injili dan Katolik akan diajukan sebagai kesimpulan dan aplikasi.
</summary>
<dc:date>2008-04-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
