Show simple item record

dc.contributor.authorSolihin, Benny
dc.date.accessioned2018-05-07T04:57:30Z
dc.date.available2018-05-07T04:57:30Z
dc.date.copyright2005
dc.date.issued2005-04
dc.identifier.issn14417649
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/79
dc.description.abstractPerumpamaan mungkin, oleh kebanyakan pengkhotbah, dianggap sebagai genre Alkitab yang paling mudah dikhotbahkan. Namun bagi pengkhotbah-pengkhotbah yang serius mengkhotbahkan perumpamaan acap kali membingungkan. Sebab meskipun nampak sederhana, perumpamaan mengandung beberapa persoalan yang rumit. Persoalan-persoalan tersebut meliputi: (1) dari sudut manakah berita sebuah perumpamaan harus diambil? Dari sudut para pendengar pertama yang mendengar langsung ketika Yesus menceritakan perumpamaan-perumpaman-Nya atau dari perspektif para pembaca pertama Injil? (2) Dapatkah penafsiran alegori digunakan dalam khotbah perumpamaan? (3) Apakah bentuk atau model khotbah yang paling baik untuk mengkhotbahkan perumpamaan? Bentuk deduktif atau induktif? Satu poin, tiga poin, banyak poin, atau model khotbah narasi? Persoalanpersoalan di atas membuat banyak ketidakpastian dalam diri para pengkhotbah. Thomas G. Long menyimpulkannya dengan tepat, “Seorang pengkhotbah pemula mengkhotbahkan sebuah perumpamaan dengan keyakinan yang tinggi, melangkahkan kakinya dengan berani seolah berjalan pada suatu daerah yang sudah ia kenal. . . . Tetapi semakin kita mengenal perumpamaan, semakin kurang yakin apakah kita sungguh-sungguh memahaminya.” Ada banyak solusi yang ditawarkan oleh para ahli berkenaan dengan metode khotbah perumpamaan dan salah satunya adalah dari David Buttrick, seorang dosen homiletika dan liturgi dari Divinity School, Vanderbilt University. Di dalam bukunya, Speaking Parables: A Homiletic Guide,2 ia menawarkan model khotbah narasi untuk mengkhotbahkan perumpamaan. Tawaran ini sangat menarik dan bermanfaat, namun demikian ada beberapa dari pandangannya yang perlu dicermati secara kritis. Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan dan mengevaluasi metode Buttrick tersebut. Tetapi sebelumnya, akan dibahas tentang definisi perumpamaan, kemudian menelusuri sejarah khotbah perumpamaan, dan model-model khotbah perumpamaan yang pada umumnya digunakan dalam sejarah sejak masa Bapa-bapa gereja mula-mula sampai kini. Ketiga hal itu akan menjadi dasar pijakan dalam menilai metode khotbah perumpamaan yang ditawarkan olehnya.en_US
dc.publisherSeminari Alkitab Asia Tenggaraen_US
dc.rights.urihttps://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
dc.subjectParables, Biblicalen_US
dc.subjectPreaching -- Methodology.en_US
dc.subjectButtrick, David, 1927-en_US
dc.subjectJesus Christ -- Parables -- Homiletical use.en_US
dc.titleKhotbah Perumpamaan : Suatu Penilaian terhadap Metode Khotbah Perumpamaan David Buttricken_US
dc.typeArticleen_US
dc.rights.holder2005 by Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. All rights reserved.


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
Except where otherwise noted, this item's license is described as https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/