Show simple item record

dc.contributor.advisorSulistio, Thio Christian
dc.contributor.authorKurniawan, Billy
dc.date.accessioned2019-03-22T08:52:34Z
dc.date.available2019-03-22T08:52:34Z
dc.date.issued2013
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/436
dc.description.abstractSeorang anak ketika memasuki masa remaja akan mengalami perkembangan baik secara kognitif maupun moral. Secara kognitif, seorang remaja mulai berpikir secara kritis dan mereka gemar dengan kemungkinan-kemungkinan, dan salah satu bidang yang akan mereka kritisi adalah agama. Anak remaja tidak lagi membutuhkan pengajaran dogmatis seperti halnya ketika mereka masih kecil. Anak remaja membutuhkan alasan-alasan yang logis akan agama yang mereka anut, secara khusus alasan-alasan yang logis untuk keberadaan Allah. Jika gereja tidak menyediakan jawaban atas pergumulan anak remaja ini maka cepat atau lambat gereja akan kehilangan generasi muda. Secara moral, ketika memasuki usia remaja seorang remaja mulai mengambil keputusan moral secara mandiri. Hal ini jauh berbeda dari masa kanak-kanak mereka di mana segala keputusan moral sangat dipengaruhi, bahkan bergantung kepada lingkungan mereka. Pada umumnya keputusan-keputusan moral yang diambil oleh seorang remaja lebih berupa keputusan moral yang abstrak (imperatif kategoris), dibandingkan keputusan moral yang konkret (Dasa Titah yang ada di dalam Alkitab, misalnya). Tidak heran jika pada akhirnya seorang remaja menolak agama sebab mereka menganggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan mereka. Kedua perkembangan yang sedang dialami oleh anak remaja membawa dampak terhadap pandangan mereka terhadap agama. Keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang remaja (baik keputusan moral maupun berkenaan dengan pertanyaan kritis tentang agama) tidak murni dari diri mereka saja. Kebudayaan di sekitar mereka memiliki andil cukup besar, dan dalam konteks masa kini kebudayaan tersebut adalah kebudayaan pascamodern. Salah satu dampak yang dibawa oleh pascamodernisme adalah relativisme. Memang benar bahwa relativisme tidak mempengaruhi keseluruhan anak remaja, namun relativisme tetap mempengaruhi pandangan anak remaja terhadap agama serta moral. Jelas kombinasi antara faktor internal (perkembangan kognitif serta moral) dan eksternal (pascamodern) membawa dampak yang buruk bagi seorang remaja. Pertanyaannya, apakah ada sebuah metode yang dapat digunakan untuk para pelayan remaja untuk menjawab pergumulan anak remaja? Argumentasi moral mampu menjawab kebutuhan tersebut. Memang benar jika selama ini argumentasi moral hampir selalu diterapkan kepada penganut ateisme, namun ternyata argumentasi moral juga relevan untuk menjawab pergumulan anak remaja pascamodern masa kini. Ada tiga hal yang menjadikan argumentasi moral ini relevan: pertama, ia memberikan argumentasi yang baik untuk keberadaan Allah (menjawab pergumulan kognitif anak remaja), kedua, argumentasi moral mematahkan relativisme pascamodern (menjawab tantangan relativisme serta pergumulan moral remaja), dan ketiga, argumentasi moral sesuai dengan perkembangan moral anak remaja, sehingga mudah dipahami oleh anak remaja itu sendiri.en_US
dc.publisherSTT Seminari Alkitab Asia Tenggaraen_US
dc.subjectApologetikaen_US
dc.subjectargumentasi moralen_US
dc.subjectremajaen_US
dc.subjectPostmodernism -- Religious aspects -- Christianityen_US
dc.subjectkognitifen_US
dc.subjectmoralen_US
dc.titleRelevansi Apologetika Berdasarkan Argumentasi Moral terhadap Pergumulan Anak Remaja Pascamodern Masa Kini.en_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record