Show simple item record

dc.contributor.advisorSoeherman, Sylvia
dc.contributor.advisorElia, Heman
dc.contributor.authorKurniawan, Desy
dc.date.accessioned2022-08-06T02:20:16Z
dc.date.available2022-08-06T02:20:16Z
dc.date.issued2020-07
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1529
dc.description.abstractPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tuntutan ayah dan tuntutan ibu dengan penghargaan diri pada remaja. Tuntutan ayah adalah keinginan, kemauan, harapan, dorongan maupun anjuran ayah yang mengharapkan hal terbaik untuk anaknya yang dipandang dari sudut anak. Tuntutan ibu adalah keinginan, kemauan, harapan, dorongan maupun anjuran ibu yang mengharapkan hal terbaik untuk anaknya yang dipandang dari sudut anak. Penghargaan diri adalah pandangan dan penilaian akan kelayakan diri untuk dikasihi dan diterima, yang diekspresikan melalui sikap terhadap diri, yang terbentuk secara positif ketika ada penghargaan yang positif dari orang lain. Remaja adalah sebuah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan biologis, kognitif, dan psikososial. Remaja dengan penghargaan diri yang sehat adalah remaja yang melihat dirinya sebagai pribadi yang dikasihi dan berharga. Saat seseorang merasa baik tentang dirinya sendiri, ia dapat hidup secara produktif, percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, serta menikmati menjalin relasi dengan orang lain. Tuntutan orangtua kepada remaja merupakan bagian dari hasil pembelajaran orangtua melalui pengalaman pribadi di masa lalu, informasi, maupun nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Orangtua dalam mengasuh atau mendidik anaknya mendapat dorongan dari keinginan atau ambisi dari orangtua itu sendiri tanpa melihat kemampuan dari si anak. Sikap yang demikianlah yang dikatakan sebagai sikap menuntut orangtua secara berlebihan terhadap sang anak. Tuntutan ayah dan tuntutan ibu yang tinggi akan menghambat remaja memperoleh empat kebutuhan utama individu, yaitu: perasaan diri berarti dan dikasihi, perasaan diri diterima, pencapaian atas sesuatu, dan perasaan diri puas dan terpenuhi. Tanpa terpenuhinya keempat kebutuhan tersebut, maka remaja akan memiliki tingkat penghargaan diri yang rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah: pertama, terdapat hubungan antara tuntutan ayah dengan penghargaan diri pada remaja. Semakin tinggi tuntutan ayah, semakin rendah tingkat penghargaan diri remaja. Kedua, terdapat hubungan antara tuntutan ibu dengan penghargaan diri pada remaja. Semakin tinggi tuntutan ibu, semakin rendah tingkat penghargaan diri remaja. Sampel penelitian adalah mahasiswa tingkat I dan II yang sedang menjalani perkuliahan secara aktif di Universitas XYZ di kota Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling purposif yang bertujuan menggunakan penilaian dan upaya cermat untuk memperoleh sampel representatif melingkupi wilayah atau kelompok yang diduga sebagai anggota sampelnya. Instrumen untuk mengukur tuntutan ayah digunakan Skala Ekspektasi Ayah yang yang dikembangkan dari Multidimensional Perfectionism Scala (MPS) subskala parental expectations hasil penyusunan Randy Frost yang terdiri dari 41 item. Instrumen untuk mengukur tuntutan ibu digunakan Skala Ekspektasi Ibu yang merupakan skala yang sama dengan Skala Ekspektasi Ayah; dikembangkan dari Multidimensional Perfectionism Scale (MPS) subskala parental expectations hasil penyusunan Randy Frost yang terdiri dari 41 item. Perbedaannya terdapat pada perubahan istilah “ayah” menjadi “ibu”. Instrumen untuk mengukur penghargaan diri digunakan skala yang disusun Coopersmith pada tahun 1967 yang terdiri dari 23 item. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program statistic SPSS for Windows 17.00 dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil pengolahan data memperlihatkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tuntutan ayah dengan penghargaan diri pada remaja. Begitu pula pengujian terhadap hubungan antara tuntutan ibu dengan penghargaan diri pada remaja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis penelitian ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat kesesuaian antara hasil penelitian dengan teori yang dikemukakan. Ketidaksesuaian ini dimungkinkan karena perbedaan budaya antara orang Indonesia atau Asia pada umumnya dengan budaya Barat. Dalam budaya Barat yang cenderung menekankan kebebasan dan persamaan kedudukan, tuntutan tinggi dari orangtua akan terasa sebagai suatu beban yang sangat berlebihan dan menekan sehingga anak merasa terbelenggu dan akhirnya berdampak pada penghargaan diri yang rendah. Sementara pada kebudayaan Indonesia yang masih sangat paternalistik dan feodal, hubungan anak terhadap orangtua bersifat submisif.en_US
dc.publisherSekolah Tinggi Teologi SAAT Malangen_US
dc.subjectTuntutan Ayahen_US
dc.subjectTuntutan Ibuen_US
dc.subjectPenghargaan Dirien_US
dc.subjectRemajaen_US
dc.titleHubungan antara Tuntutan Ayah dan Tuntutan Ibu dengan Penghargaan Diri pada Remajaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.nidn2321056101
dc.identifier.nidn2327086901
dc.identifier.kodeprodi77101
dc.identifier.nim20191090148


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record