Show simple item record

dc.contributor.advisorIstianto, Elisa
dc.contributor.authorChristine, Inggriani
dc.date.accessioned2022-04-05T08:25:32Z
dc.date.available2022-04-05T08:25:32Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1454
dc.description.abstractKerancuan identitas perempuan membuat kaum perempuan terjebak dalam ketidakberdayaan. Perjuangan untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan menghasilkan pergerakkan berskala internasional yang memperjuangkan kesetaraan gender perempuan dengan laki-laki. Hasil yang diperjuangkan oleh kaum ini adalah pengakuan bahwa perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. Perempuan harus dibebaskan dari diskriminasi seksisme, sebagai hasil evolusi konstruksi sosial, yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah dan tidak berharga dibandingkan dengan laki-laki. Setiap pembedaan yang didasarkan pada perbedaan jenis kelamin harus dihapuskan. Usaha untuk menghapus diskriminasi seksisme telah dilakukan selama puluhan tahun dan sekarang telah menunjukkan dampak yang signifikan dan telah mempengaruhi konstruksi sosial masyarakat. Kebenaran firman Tuhan mengenai konsep perempuan dalam Kejadian 1-3 menjadi dasar bagi perempuan Kristen untuk berpijak dan menjalankan perannya dengan benar sekaligus untuk menghadapi tuntutan jaman yang berlawanan dengan kebenaran firman Tuhan. Hakikat perempuan yang sejati, sesuai dengan rancangan Allah yang sempurna yang telah Allah tetapkan sejak awal penciptaan. Perempuan diciptakan dengan sempurna, menjadi representasi Allah di bumi ini. Gambar Allah dalam diri perempuan diteguhkan dalam segala aspek kehidupan. Perempuan-perempuan Kristen bertanggung jawab untuk mengukuhkan gambar Allah dalam dirinya dengan memaksimalkan semua potensi dan kemampuan yang Allah anugerahkan. Keberhargaan seorang perempuan didapat ketika hidupnya sesuai dengan rancangan Allah. Menjadi pernolong bukan suatu keadaan buruk, tapi justru membuat seorang perempuan berharga. Hidupnya menjadi berarti bagi orang-orang yang ditolongnya. Allah memperlengkapi perempuan kemampuan untuk menjalani peran sebagai penolong. Kejadian 1-3 menunjukkan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan adalah rancangan Allah yang sempurna atas manusia, bukan akibat dari kejatuhan manusia. Allah telah memperlengkapi perempuan dengan kemampuan untuk tunduk dan dipimpin oleh laki-laki. Keadaan ini adalah baik, sesuai dengan natur dan kebutuhan dasar perempuan yaitu kebutuhan untuk dipimpin. Ketundukan seorang perempuan Kristen kepada suaminya tidak merendahkan dirinya namun sebaliknya justru ia menjadi amat berharga.en_US
dc.publisherSeminari Alkitab Asia Tenggara Malangen_US
dc.subjectPenciptaanen_US
dc.subjectPerempuanen_US
dc.subjectKejadian 1-3en_US
dc.subjectKesetaraan Genderen_US
dc.titleHakikat Perempuan Menurut Narasi Penciptaan (Kej. 1-3) dan Implikasinya Bagi Perempuan Kristiani Dalam Menyikapi Tuntutan Kesetaraan Gender.en_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.kodeprodi77201


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record