Show simple item record

dc.contributor.authorSanjaya, Thomas
dc.date.accessioned2021-05-24T07:32:28Z
dc.date.available2021-05-24T07:32:28Z
dc.date.issued2020-05
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/1385
dc.description.abstractPerdamaian merupakan tema yang sering diperbincangkan, semua ini disebabkan oleh timbulnya berbagai gejolak sosial ekonomi dan politik yang menyebabkan hancurnya berbagai sarana sosial. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghadirkan perdamaian dalam seluruh lapisan hidup masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengambil “jalan tengah” yang dipercaya dapat menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Tanzin Gyatso, Dalai Lama XIV seorang pemimpin Buddha Tibet juga menyadari hal ini. Beliau berpendapat bahwa setiap makhluk hidup di bumi harus belajar untuk hidup secara harmonis dan damai satu sama lain. Menurutnya ini bukanlah sekadar harapan, namun merupakan sebuah kebutuhan. Perdamaian sejati dengan diri sendiri dan dengan lingkungan sekitar hanya dapat terjadi melalui dikembangkannya perdamaian batin. Dengan adanya kedamaian batin, maka masalah duniawi tidak akan dapat memengaruhi rasa damai dan tenang yang ada di dalam diri. Dengan adanya kedamaian batin segala situasi dapat dihadapi dengan ketenangan dan akal sehat. Namun bagaimana kedamaian batin ini dapat diperoleh jika hanya mengandalkan kekuatan manusia? Agama Kristen juga mengajarkan konsep perdamaian. Di dalam 2 Korintus 5:18-21, rasul Paulus mengajarkan bahwa Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus. Kristus yang tidak berdosa dibuat-Nya menjadi dosa supaya dalam Dia manusia dibenarkan oleh Allah. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kedua konsep perdamaian di atas memiliki perbedaan yang sangat jelas. Dalai Lama menekankan usaha diri untuk memperoleh perdamaian karena dia tidak percaya dengan keberadaan Allah Pencipta, sedangkan rasul Paulus menekankan anugerah Allah melalui pengorbanan Kristus yang mendamaikan. Perbedaan yang ada membuat kedua konsep perdamaian ini memiliki perbedaan yang mendalam dalam prasuposisi dan hasil akhir. Tulisan ini akan menunjukkan bahwa konsep perdamaian yang tidak percaya adanya Tuhan memiliki kelemahan-kelemahan yang tidak terselesaikan. Ketika seseorang tidak percaya adanya Tuhan, mereka hanya dapat mengandalkan kemampuan manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan yang ada membuat mereka terjerat dalam perputaran yang tidak dapat diakhiri. Mereka memerlukan Tuhan yang berdaulat atas kehidupan manusia. Tuhan yang mengasihi manusia dan menolong manusia untuk mengasihi sesama dengan benar. Tuhan yang memberi kebahagiaan universal melalui pengorbanan Anak-Nya yang datang ke dunia untuk melepaskan manusia dari belenggu dosa.en_US
dc.publisherSekolah Tinggi Teologi SAAT Malangen_US
dc.subjectKristenen_US
dc.subjectBuddhaen_US
dc.subjectperdamaianen_US
dc.subjectkasihen_US
dc.subjectpenginjilanen_US
dc.titleAnalisis Konsep Perdamaian Dalai Lama XIV Dari Perspektif Perdamaian Rasul Paulus Dalam 2 Korintus 5:18-21 dan Implikasinya Bagi Penginjilan Terhadap Umat Buddha.en_US
dc.typeThesisen_US
dc.identifier.kodeprodi77101
dc.identifier.nim20191090205


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record