Show simple item record

dc.contributor.authorTanudjaja, Rahmiati
dc.date.accessioned2018-05-08T07:30:12Z
dc.date.available2018-05-08T07:30:12Z
dc.date.copyright2003
dc.date.issued2003-10
dc.identifier.issn14417649
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/100
dc.description.abstractC. S. Lewis dalam salah satu bukunya menulis demikian: Bagi saya kitab Ayub nampak bukan kisah historis. Hal ini disebabkan kitab Ayub dimulai dengan kisah tentang seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan semua sejarah, bahkan semua legenda. Laki-laki itu tinggal di sebuah negara di mana negara itu tidak pernah disebutkan di bagian lain di Alkitab; kelihatannya, penulis dengan sangat jelas menulis sebagai seorang pendongeng bukan sebagai seorang sejarawan. Selanjutnya ia mengatakan, “Oleh karena itu, saya tidak mengalami kesulitan dalam menerima, misalnya, pandangan dari para sarjana yang mengatakan kepada kita bahwa kisah tentang penciptaan di kitab Kejadian berasal dari cerita-cerita bangsa Semit zaman dahulu yang bersifat politeisme dan mistis.” Ada beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran kita sesudah membaca pernyataan-pernyataan di atas, misalnya: Apakah Lewis percaya kepada inspirasi Alkitab, ataukah tidak? Apakah ia berpikir bahwa Alkitab merupakan sebuah mitos dan bukan sebuah fakta historis? Bagaimana dengan kisah Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru, apakah ia juga berpikir bahwa kisah tersebut merupakan sebuah mitos? Lewis sendiri menyatakan bahwa ia dituduh sebagai seorang fundamentalis. Di lain pihak, pemahamannya terhadap Kitab Suci dituduh oleh kaum fundamentalis sebagai pemahaman yang liberal. Jadi, dalam isu kontroversial ini di sisi manakah ia sebenarnya berada? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus mengerti terlebih dahulu apa sebenarnya arti semua istilah yang ia gunakan yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya wahyu Allah, inspirasi, mitos, otoritas, ineransi dan infalibilitas Alkitab. Sesudah itu penulis akan membandingkannya dengan pengertian yang dianut kaum liberal dan fundamentalis. Artikel ini tidak hanya menjelaskan pandangan Lewis terhadap Kitab Suci dan bagaimana ia telah menggunakannya, tetapi juga bagaimana pandangannya dapat memberikan pencerahan kepada kita dalam melihat ilmu pengetahuan dan pandangan orang lain dalam perspektif yang berbeda dari yang mungkin telah kita miliki sebelumnya. Ini tidak berarti kita harus setuju dengan semua yang ia katakan, namun tidak ada salahnya kita memikirkan dan mempertimbangkannya sebagai bahan evaluasi untuk apa yang kita percaya selama ini. Siapa tahu pandangan tersebut dapat mempertajam apa yang kita percayai selama ini dan bergeser dari “asal percaya” menjadi “aku tahu apa yang kupercaya dan aku tahu mengapa aku percaya.”en_US
dc.publisherSeminari Alkitab Asia Tenggaraen_US
dc.rights.urihttps://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
dc.subjectBible -- Evidences, authority, etc.en_US
dc.subjectLewis, C. S. (Clive Staples), 1898-1963en_US
dc.titleDoktrin dan Penggunaan Kitab Suci Menurut C. S. Lewisen_US
dc.typeArticleen_US
dc.rights.holder2003 by Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. All rights reserved.


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
Except where otherwise noted, this item's license is described as https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/